Oleh: Kyan | 05/03/2006

Latihan Menempuh Keinginan

Senin, 06 Maret 2006

Latihan Menempuh Keinginan

**

Pagi-pagi sudah mandi. Aku mau membiasakan mandi pagi. Kalau sudah siang suka malas pergi mandi. Hari ini aku bisa lari pagi ke Manglayang dan makan bubur seribu buatan Akang Majalengka. Mungkin tiap Minggu saja aku makan buburnya. Di hari-hari biasa tidak kubeli bubur untuk menghemat pengeluaran. Aku harus belajar mengekang keinginan.

Puasa Senin ini ternyata nikmat baget. Bukan hanya godaannya sedikit, tapi karena hari ini gak ada kuliah. Tapi di hari ini aku masih kesal dan tak enak yang mengganggu puasaku. Kesal karena Sani seolah mencibirku untuk membalas ‘dendam’-nya. Ia bilang, “Sudah berapa lama utak-atik komputer, kok belum bisa-bisa”, katanya dengan nada mengejek.

Aku paling gak suka dengan orang sombong seperti itu. Sombong banget dia menganggapku tidak bisa apa-apa. Lantas aku juga kenapa merasa minder seolah-olah benar apa kata mereka. Apakah dia berniat membalas dendam, karena sewaktu Rabu aku telah menyamakan dia dengan Omon.

Aku cuma bilang jangan sampai kekecewaan terulang seperti pesanan kaos OPM MKS. Dulu kita membeli kaos, terjadi jual beli gharar. Tanpa diberi sampel bahannya, langsung kita ACC mengorder kaos peserta dan panitia ke Omon. Sekarang harus menjadi pelajaran ketika membeli sesuatu harus jelas barangnya. Padanya hanya kukatakan meminta sampel kainnya saja. Dia tersinggung mungkin karena dianggap mau cari untung gede dari proyek jaket kelas ini.

Lalu Sani datang ke kosanku menanyakan UU Haji dan Umrah. Aku bilang belum sempat diprint. Karena akupun sedang sibuk, juga masih kesal, kedatangan dia gak terlalu aku layani. Aku sedang sibuk mengeprint gambar-gambar. Dia terdiam sebentar dan kembali pulang. Sebelum melengos, kupanggil dia mau kemana. Dia gak menjawab apa-apa. Sudahlah mungkin diapun masih kesal padaku. Bukan karena aku tak memuliakan tamu, tapi aku sedang ada kesibukan.

Kedatangan kawan-kawan ke kosanku, menjadikanku memiliki kesabaran ekstra. Bagaimana tidak membuatku sbara setiap hari ketika sudah beres-beres kamar dan sudah nampak rapi, tapi setelah itu datang mereka, kamarku menjadi berantakan lagi. Aku harus mencuci gelas dan piring terus. Seolah-olah aku ini pembantu di rumah sendiri.

Saat siang bagaimana pula aku mau istirahat. Makanya aku hanya bisa memperlihatkan muka ketus dengan ketidaksenangan yang ditahan. Kalau kubilang terus terang nanti gak enak juga pada mereka. Mestinya mereka tahu diri karena kosanku sekarang berdua. Sudah dengan teman sekamar jarang ada percakapan. Ia kalau siang sering gak enak berdiam di kosan. Karena sering banyak teman-temanku datang.

Jadi bukan semata aku tak ingin dikunjungi, tapi gak enak dengan teman sekosanku. Memang sih aku menjadikan kosanku sebagai tempat menyewakan buku. Tapi kalau mereka pinjam pun sering tak pernah. Meskipun tidak bayar, paling tidak gak usahlah mengacak-ngacak kamarku. Mereka mestinya tahu bagaimana yang namanya rapi itu.

Bagaimana tidak kesal, seolah aku sedang dipenjara. Terpenjara dengan perasaanku sendiri yang kupendam hampir dua tahun. Apakah teman-teman mengetahui perasaanku. Tapi mereka gak boleh tahu. Biarlah rasa kekesalanku dipendam saja. Semoga saja ada pahala buatku. Dan mungkin suatu saat mereka bakal membantuku ketika aku mengalami kesusahan.

Karena dulu pun sewaktu setamat SMU aku sudah merepotkan temanku sendiri. Tidak hanya menumpang tempat tinggal, tapi makan dan dicarikanya pekerjaan oleh temanku sendiri. Dan mungkin juga temanku dibuat kesal dengan tumpanganku yang terus-terusan. Karena aku tinggal disana cukup lama.

Kira-kira hampir setahun aku menumpang tinggal dan makan pada sahabatku ini. Aku sudah berhutang besar pada temanku. Dia memang sobat terbaikku, sejatiku. Maka sekarang aku tidak boleh kesal. Karena hidup akan terus berkelanjutan antara direpotkan dan merepotkan. Itulah arti sebuah persahabatan yang saling memberi, menerima, dan menjaga.

*

Sampai tiba adzan Duhur selesai mengutak-atik logo baru Aya-Sophia. Tidak seperti logo MKS yang minta rancanganku dibuatkan ke tukang grafis, senior di Muamalah. Tapi logo baru Aya-Sophia mau kubikin sendiri di Microsoft Word. Meskipun tidak kupakai Corel Draw, masih dapat tertangani.

Kalau kupunya komputer bagus, aku akan latihan desain grafis. Masalah desain grafis aku pun berbakat kalau aku diberikan kesempatan dan latihan. Tidak hanya tukang rental komputer saja yang mahir desain, aku juga bisa melakukannya. Aku berminat dan berbakat, yang sekarang tinggal penempaan saja.

Bagaimanakah caranya agar aku bisa membeli kompuer bagus. Bisakah aku mengajukan kredit, ataukah membeli dengan mencicil komponen-komponennya. Bisakah bilang ke tukang komputer dengan berterus terang bahwa aku ingin komputer bagus tapi tak mampu membelinya sekaligus satu paket.

Jadi setiap bulan aku datang ke toko yang sama untuk membeli satu komponen dengan rekomendasi yang mendukung spek-nya. Tapi ingin dengan harga murah dan jangan ada penipuan, karena sudah langganan. Sudah tersiar prasangka bahwa tukang komputer sering melakukan penipuan atau modus pada pembeli yang tidak begitu faham soal spesifikasi komputer.

Semestinya aku mengumpulkan uang dulu. Aku mau membeli komputer yang bekas saja. Jangan lagi setiap kali kupunya uang selalu habis buat membeli buku. Maunya sih membeli buku terlaksana, juga bisa menabung dan mencicil komponen komputer. Tapi membeli buku tak bisa kuhindari karena sudah kecanduan. Sudah mendarah daging dan sudah menjadi gaya hidupku. Bagaimana aku bisa merubah orang lain, merubah diri sendiri, merubah gaya hidupku sendiri saja tak becus.

Salah satu caranya harus dikurangi adalah jatah makan. Tidak bisa kupenuhi tuntunan Safir Senduk yang katanya bukan mengurangi pengeluaran, tapi menambah pundi-pundi penghasilan yang beragam. Tidak ada lain cara selain setiap bulan aku melakukan puasa Dawud. Sekalian membiasakan pola hidup sehat dengan berpuasa.

Aku percaya pada kemujaraban puasa. Meski makan hanya saat berbuka dan sahur, tapi ketika makan dengan memakan kaya gizi. Ada nasihat yang baik itu makan sedikit tapi sering. Tapi dengan berpuasa sesudah jarang makan, tapi ketika bertemu makan penuh makanan bergizi. Kalau terlalu sering makan bawaannya gampang terserang kantuk.

Aku mesti mengatur keuanganku lagi untuk mewujudkan harapanku. Hutang-hutangku harus kubayar segera untuk bisa fokus menabung. Pokoknya bulan akhir Maret aku sudah tidak mempunyai tunggakan hutang. Aku tak boleh menuruti hawa nafsu. Aku membeli sesuatu memang karena membutuhkannya, bukan menginginkannya.

Sebelumnya aku sering menuruti ketika membeli ini dan itu, karena aku ingin bebas melakukan apa saja. Tapi sekarang aku menyadari bahwa untuk meraih sesuatu mengharuskan pengorbanan. Bersedia melakukan latihan-latihan spiritual kalau dalam sufi untuk mencapai maqam tingkat lebih tinggi. Latihan-latihan itu memerlukan kesabaran paripurna.

Mungkin latihan-latihan itu kalau dilihat dari sudut pendek, seperti sudah menyalahi kodrati atau melawan fitrah manusia yang memiliki kebebasan. Tapi kebebasan pun bukanlah kebebasan tanpa batas. Dan kemuliaan manusia tergantung pada seberapa jauh menghormati batas-batas. Maka ingin menempuh atau terlaksananya suatu perihal, lakukanlah pengekangan atau pembatasan. Karena bila selalu menuruti kecenderungan, apa bedanya kita dengan binatang.

Persamaan antara manusia dan binatang adalah menghendaki makan dan tertarik dengan urusan selangkangan. Tapi yang membedakan, kata Ali Syariati, bahwa manusia diberi kelebihan dari makhluk lain adalah berupa kehendak bebas (free will). Inilah yang akan dipertanggungjawabkan nanti ketika amanah tak mampu ditanggung gunung dan lautan, tapi manusia tergesa-gesa menerimanya. Maka barangsiapa menyadari adanya kehendak bebas ia tak akan serampangan menggunakannya. Karena bisa jadi senjata makan tuan. Manusia harus berkreasi untuk memunculkan kesadaran diri.

Untuk sekarang dan selanjutnya, membeli buku hanya untuk memenuhi ruang rak-rak buku yang kosong saja. Supaya pemandangan kamarku terlihat rapi dengan space rak terisi semua. Kalau rak buku sudah penuh dengan punggung buku-buku yang berjejer, nampakah keindahan kamarku. Ruang tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa. Selanjutnya baru membeli buku dapat dikurangi, karena sudah tak muat lagi raknya. Membeli komputer bagus mesti menjadi fokus perhatian sekarang. “Lamun keyeng tangtu pareng”.

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori