Oleh: Kyan | 07/03/2006

Menjadi Pelukis Kehilangan

Selasa, 07 Maret 2006

Menjadi Pelukis Kehilangan

**

Semoga saja dalam menyampaikan sesuatu, aku gak terngah-engah seperti menumpahkan marah. Aku ingin bicaraku tenang dan kalem. Setiap kata-kata yang tertumpah harus terkontrol. Ingat rumus Aa Gym kalau dalam berbicara: tenang, sopan, fasih, lembut, dan singkat. Aku ingin semakin arif ketika menyampaikan sesuatu.

Katanya kebijaksanaan hanyalah didapatkan dari pengalaman. Tidak bisa didapat hanya komunikasi tunggal. Tapi dengan cara berdialektika, pengetahuan baru bisa diperoleh. Dan benda-benda yang ada di sekeliling kita adalah citra-citra atau penampakan saja. Penampakan atau citra itu semua menyepakatinya nama-nama. Seperti ini dinamakan A dan itu namanya B. Seorang aku yang lahir, dinamakan oleh orang tuaku bernama Vyan. Dengan itu orang tuaku telah meniru kreatifitas Tuhan.

Dalam teori emanasi bahwa semuanya adalah pencitraan-pencitraan pancaran dari Nur Ilahi. Kita namakan benda mati bukan semata-mata ia adalah benda mati. Dalam kandungannya terpancar Nur Ilahi. Maka kita tidak boleh seenaknya merusak benda-benda, termasuk lingkungan. Merusak lingkungan sama saja merusak citra Tuhan, atau bahkan melawan Tuhan.

Sekarang aku mau belajar melukis. Aku sudah mencoba melukis wajah perempuan dan ternyata hasilnya lumayan. Sudah kukatakan aku berpotensi untuk menjadi pelukis. Bila minatku menjadi penulis, seorang penulis biasanya seorang pelukis juga. Lihat saja Kahlil Gibran, Acep Zamzam atau Nasjah Djamin. Kalau menulis dengan memadu kata dan kalimat, sedangkan melukis dengan memadu warna dan sapuan.

Aku harus banyak latihan. Setiap hari aku harus menghasilkan minimal satu sketsa. Kalau aku latihan terus, siapa tahu sketsaku laku dijual dan bisa menandingi pelukis-pelukis maestro semacam Affandi dan Pikaso. Tapi setidaknya aku ingin melukis wajah perempuan-perempuan yang kutemui selama ini. Membuat sketsa sekedar mengisi kesenggangan.

*

Sambil menunggu dosen datang, kubaca Sidharta Gautama di bawah pohon rindang. Aku lebih enak membaca sendirian di tempat senyap, sendirian dan menyepi. Kalau nongkrong-nongkrong bersama teman suka gak karuan apa yang dibicarakan. Tidak jelas apa yang kami bicarakan selain apa yang nampak di pandangan. Misalnya perempuan yang lewat buah dadanya nomor berapa dan memakai celana dalam berwarna apa. Memang lelaki semau-maunya menelanjangi kehidupan.

Tentu khayalan itu biasanya muncul ketika perempuan yang lewat berpakaian telanjang. Bukan tersadar bahwa sebenarnya dalam diri perempuan terkandung kasih sayang dan kecerdasan, tapi yang muncul gairah mencuri-curi pandang pada lekukan buah dadanya. Kesadaran disamping hasrat seksual, juga dapat meraih kepuasan intelektual bila dekat dengan perempuan, terlupa dan terhanyut dalam kebinalan.

Bila kami mengalihkan perbincangan pada lain hal, kadang malah berdebat tentang sesuatu yang tidak jelas dan tak bermanfaat. Tapi mungkin itu bisa melatih teknik berargumen dengan kata-kata yang mengalir. Tapi buat apa mendebat yang hanya sekedar ingin membuat sakit hati orang. Dalam berdebat, selalu saja ingin menang. Alangkah lebih baiknya aku banyak menyimak tanpa ingin membantahnya. Mungkin lebih baik diam meski menggendam.

Malam hari menulis puisi tentang aku yang punya diam dan bintang. Kuhanya hanya itu. Diam untuk selalu mendengarkan dan bintang sebagai simbol bahwa aku memiliki cahaya. Meskipun hanya setitik yang nampak dari kejauhan. Terlihat redup tapi itulah pantulan dari Sang Maha Cahaya.

Kadang sikap cemburu selalu datang. Cemburu pada mereka yang bergonta-ganti pacar, sedangkan aku satu saja belum. Perempuan yang sedang didekati malah hilang dari pandangan. Semakin minder saja dan semakin tak berhasrat pada perjalanan. Namun hati selalu bicara lain dengan apa yang terjadi dalam realitas. Semoga ini membawa kesaran bahwa suatu saat aku akan mengalami kehilangan. Makanya dalam sendirian sebagai latihan untuk terbiasa dengan kehilangan.

Kasih ibulah yang kekal. Ibu selalu mengingat anaknya. Ibuku menyuruhku menelepon. Aku tak punya uang untuk meneleponnya. Menelepon ke handphone sangat mahal. Demi ibuku aku mesti meneleponnya. Pasti beliau bahagia bisa mendengar suara anaknya. Siapa lagi yang bisa membahagiakan bagi seorang ibu selain kehadiran anaknya sendiri. Orang tua adalah tulang punggung yang sudah ‘puntang panting’ mencari nafkah untuk membiayai anaknya.

Aku cuma punya uang di tangan delapanribu, apa cukup buat menelepon ibuku. Mungkin ibu sedang menunggu-menunggu handphonenya berdering. Angel Wings pernah bilang padaku bahwa komunikasi itu penting. Kita sering dibuat salah faham karena tak ada komunikasi. Maka bangunlah komunikasi yang jujur dan lancar.

*

Kuliah Manajemen Kredit, aku rada-rada gak konsentrasi sampai omongan si bapak dosen tidak bisa aku mengimajinasikannya menjadi sebuah pertanyaan lanjutan. Ketika aku bertanya sering muncul pikiran apakah pertanyaan memang muncul pertanyaan ataukah bertanya ingin mencari perhatian atau popularitas? Maksudnya bertanya supaya dianggap pintar dan berani saja.

Ketika aku tidak bertanya, karena memang tidak terlintas saja di pikiran untuk hal yang ditanyakan. Inginnya aku bertanya apa saja yang berjalin kelindan dengan wawasan tentang ekonomi Indonesia. Tapi kadang aku suka buntu. Mungkin karena tak banyak referensi mungkin. Aku jarang sekali membaca koran.

Kapan ya aku menjadwalkan untuk berkunjung ke perpustakaan Fakultas. Kalau ke perpustakaan umum atau kampus sudah aku jadwalkan setiap hari Jumat. Di sana banyak buku-buku menarik minatku, tapi sering tidak kebagian membaca koran. Mungkin hari Senin aku mau seharian membaca koran. Terutama harian Republika yang sering memuat perkembangan ekonomi syariah.

Aku sebagai anak diploma MKS harus cepat dan tanggap terhadap informasi terkini. Aku harus banyak membaca koran yang memuat isu-isu perekonomian. Sehingga kalau diskusi kelas, aku tidak hanya hanya manggut-manggut saja mendengarkan. Meski disatu kesempatan mungkin lebih baik menyimak saja daripada mendebat.

Tapi bila terus diam tak bersuara, pikiran akan membeku. Perdebatan di ruang kelas harus dianggapnya biasa sebagai diskursus keilmuan. Bukan berdebat untuk menang jadi arang atau kalah jadi abu. Bukan pula perdebatan yang tak baik yang membuat perang dingin sesama teman, atau bahkan memutuskan tali silaturahim.

Kalau aku berdebat dengan Uly Ajnihatin, sering aku membiarkan dia ngomong sepuasnya. Kubiarkan semua termuntahkan tanpa sisa sampai dedaknya. Dan kadang malah kujawab dengan sikap konyol. Memang berdebat dengannya mengasyikan. Katanya orang Jawa jago omong tapi jorok. Mungkin umumnya begitu. Kebalikannya adalah orang Padang.

Kalau yang rapi itu orang Padang, begitu Soni Gembel berkomentar. Ia mendasarkan pada pengamatan di warung-warung nasi orang Jawa. Bandingkan saja antara warung nasi Jawa dengan Padang mana yang terlihat rapi, pintanya. Di warteg Jawa malah sering dibiarkan lalat berkerubung hinggap di makanan. Tidak tahu mencuci piring sampai bersih atau tidak tak ada jaminan.

Tapi bagaimanapun umumnya orang Jawa, masihkah kuingin jodoh orang Jawa Tengah? Hanya anganku ingin mendapatkan perempuan  bertaraf intelektual tinggi dan terutama orang kaya. Tapi apakah aku tidak keblinger pikiran orang biasa-biasa menginginkan perempuan spesial.

Lantas siapa yang melarang untuk berpengharapan dan bermimpi tinggi selain pembatasan oleh dirinya sendiri. Pokoknya aku menginginkan perempuan yang mencintaiku apa adanya, mencintaiku kekurangan-kekuranganku, dan dia cantik jelita seumpama bidadari. Untuk mendapatkan itu akupun harus yang lebih dulu mau mencintai dia apa adanya pula. Menyadari kekurangan tanpa terkurangi cintanya pada kelebihan-kelebihannya.

Ternyata sungguh nikmat berbuka puasa hari ini. Sudah dua hari kujalani puasa Dawud. Aku mau mencoba sebulan penuh berpuasa Dawud. Berpuasa bukan karena Allah tapi ingin menghemat, itu kan pandangan manusia sinis. Tuhan terdapat pada jiwa yang sehat. Berpuasa sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh, untuk hari tua nanti menghadap ke haribaan-Nya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori