Oleh: Kyan | 09/03/2006

Perempuan Menghampar Kesunyian

Kamis, 09 Maret 2006

Perempuan Menghampar Kesunyian

**

Fajar menyambut pagi. Sayup-sayup dzikir menghembus semilir. Hati merasuk dalam jenjang-jenjang senyap. Menorehkan luka hasrat pada sekeping pualam. Memintal mimpi di lembar-lembar kusam.  Membiarkan menari sampai tepian. Termangu menatap lika-liku dalam jelaga hasrat.

Hidup yang kian ketelingsut. Terpana oleh wajah surga dalam sendawa. Menghamparkan tarian untuk menyuguhkan malam. Melukis wajah jelitanya di kanvas hitam. Bagaimana bisa kuhidangkan pada wajah masam.

Aku ingin tahu semua perempuan. Karena semua jika ada mau, sangat tak ingin diabaikan. Begitulah bicara kisah kehidupan cinta tak akan ada habisnya. Perempuan begitu sangat ingin diperhatikan dan dicemburui sebagai tanda sayang. Tapi ketika aku datang malah mengucapkan salam khatam.

Tapi kutekadkan diri berbohong pada situasi. Bila perempuan selalu menunggu dan laki-laki pun begitu, kapankah ada pertemuan. Bila semuanya takut berbicara kepastian, lantas kenapa kita terus berjalan. Di akhir pertemuan kudengar bisiknya, “Kuhargai perasaanmu tapi berhentilah melukis cemas”.

Entah yang bernama harapan atau kebohongan. Terdapat hati yang tak mengakui pun adalah sebuah pengakuan. Perempuan takut untuk mengakui segala kemanisannya. Kisahnya begitu mendebarkan meski ada secuil kemunafikan. Nilai-nilai yang merasuk kokoh malah merobohkan kesucian. “Tentu semuanya tak ingin ada ketidakpastian”, bisiknya lagi.

Hati sang Hawa begitu rentan. Lalu bagaimana Adam akan kokoh pendirian, bila bersandar pada kerapuhan. Memohon pada Maha Pecinta, nyatanya memakan buah angkara. Lalu muncul suara dibalik senyap, “Dijamin akan terasa manis bagi jiwa yang mendamba. Maka tetaplah memilih Dia”. Berdiri di dua sisi antara pergi atau kembali.

*

Begitu sayup suara adzan Maghrib mengitari suasana berbuka puasaku. Dahaga terpuaskan dengan menyambut anugerah terindah. Kemelut menyemai di samudera kefanaan. Aku begitu lelah mendamba fajar yang menyemburkan keningnya.

Sesudah aku diserang kantuk berat, sementara tugas MKS belum terselesaikan. Tadi siang sampai jam sebelas aku ke perpustakaan Fakultas. Membaca koran yang memuat banyak artikel menarik. Di kolom Resonansi ada tulisan pak Azyumardi Azra. Dalam tulisannya mengungkap pemikiran Cak Nur yang setengah neo-modernis dan setengah neo-tradisionalis.

Dikatakan bahwa Cak Nur ingin mengapresiasi Tasawuf dalam merumuskan solusi atas permasalahan kebangsaan dan keumatan. Islam ingin diperjuangkan menjadi landasan etis, bukan politis. Karena dalam sejarah Indonesia, Islam politis atau Islam syariat sebagai pengejawantahan Islam ideologis menemukan kebuntuan dalam sidang konstituante.

Terdapat pula tulisan pak Riawan Amir, Dirut BMI tentang mengatasi pengangguran. Menurut beliau caranya dengan menghidupkan UKM, agar bisa menyerap tenaga kerja. Lau dapat meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga kemiskinan dapat dikurangi. Menghidupkan UKM bisa lewat kebijakan khusus dan pengoptimalan dana wakaf. Bank syariah bisa menerbitkan Sertifikat Wakaf Tunai.

Juga artikel lain tentang FDR (financing to deposite Ratio), rasio pembiayaan dimana FDR bank syariah sebaiknya di bawah seratus persen. Kalau diatas seratus persen mengandung pengertian modal bank tersalurkan dan dikhawatirkan terjadi kredit macet. Dan pernah FDR mencapai diatas seratus persen dan kredit macet cuma 2,6 persen. Pembiayaan bermasalah di bank syariah belum sampai ke 5 persen sebagaimana bank konvensional. Itu cerminan bank syariah lebih baik daripada bank konvensional.

Ada pula artikel tentang ASI. Ditegaskan bahwa pemberian ASI mesti sempurna, yaitu dua tahun. Banyak bayi yang kekurangan ASI nanti ketika dewasa sering rentan penyakit. Kalau pun mau dikasih makanan pendamping ASI, bisa minimal setelah enam minggu. Tapi orang tua kebanyakan sekarang sudah semingggu sudah dikasih formula atau susu-susu buatan lainnya. Katanya itu berbahaya.

Di perpustakaan sempat mengobrol-ngobrol dengan anak-anak MKS semester dua. Terutama Dewi dan Gina. Kalau dengan Eka, temannya Gina, susah untuk akrabnya. Dia seperti pendiam, jadi mau mengakrabkan diri susah memulainya. Lagian aku selalu serius dan tak bisa bercanda. Lagian bagaimana pula bisa membangun keakraban kalau tak punya medianya. Untuk bisa lebih akrab, handphone adalah persyaratan utama. Dan itu tak kupunya.

Ingat dulu pertama bertemu dengannya, aku langsung terpesona melihatnya. Kupikir begitu juga dia. Kami pernah beradu pandang, dan diam. Namun ketika kucoba mengakrabi, kupikir dia begitu dingin. Tapi kalau dari kejauhan pernah kupergok dia sedang mencuri pandang padaku. Tidak hanya sekali, tapi sampai beberapa kali.

Ah, aku selalu gede rasa saja dan mencari alasan. Aku memang ada-ada saja setiap kali melihat perempuan cantik. Siapapun aku tertarik pada keelokan parasnya. Dia berkacamata sepertiku. Memang banyak perempuan semakin jelita saja ketika dia berkacamata. Tampak sekali kedewasaan dan keanggunannya.

Dimana-mana perempuan berparas cantik banyak. Namun tidak tahu cantikkah pula hatinya. Hanya ketika aku menatap parasnya membawa ingatanku pada seorang teman perempuan SMU-ku. Selama ini perempuan yang pernah kutemui yang begitu anggun luar dan dalam dialah Okke Evriana, dan mungkin Angel Wings. Untuk yang terakhir aku sudah berharap padanya tapi mendapat penolakan. Kepada yang pertama sudahkah mengatakan, sudah pasti mendapat perlakuan sama.

Bagaimana aku bukan orang malang, setiap ingin dekat dengan perempuan sering buntu jalan. Bagaimanakah sekarang kudapatkan perempuan yang melebihi mereka, melebihi kelebihan-kelebihan perempuan yang membuatku terpana selama ini. Bolehlah aku mendapatkan seseorang yang memadu tiga hal dalam dirinya: cantik, pintar, dan kaya. Setidaknya dari mereka aku sedikit faham pada mauku sesungguhnya, bahwa kecendrunganku dalam melihat sosok perempuan yang kuidamkan, dia yang membuat hatiku tak bisa berkedip adalah gambaran parasnya seperti dia dan dia.

*

Seharian aku, Veri, dan Neng Titin main di kosanku. Tidak terlepas pula membincangkan bagaimana sih perempuan dan bagaimana sih laki-laki. Keduanya ternyata sama meskipun dalam hal tertentu sangat berbeda. Keduanya sama-sama ingin mendapatkan perhatian dari seseorang. Mencari-cari bentuk perhatian yang kini hilang. Kuteirma nasihat dari Neng, “Perempuan tidak boleh dikasari. Maka tidak boleh berbicara kasar padanya”.

Aku sudah sms ibuku dan ibu ternyata sudah transfer uang sebesar empatratusribu. Sekalian mumpung ada Veri, kubayarkan hutang. Membayar hutang ke Veri dan Echa seratusribu dan mau kubelikan buku seratusribu, dan sisanya buat bekal makan. Aku harus menghemat dan sekarang kucoba membiasakan diri berpuasa.

Aku telah berjanji selama sebulan penuh mau melakukan puasa Dawud. Aku harus berniat hanya karena Ridho-Nya. Itulah tujuan kekalnya. Sementara tujuan sementara adalah penghematan. Tidak berlawanan, tapi pararel diantara dua tujuan.

Maka begitu adzan magrib berkumandang, penuh sujud syukur kuperoleh kegembiraan. Lalu kutunaikan salat Maghrib di masjid. Tak lama muncul Iwan dan Fauzi, mengajakku main ke kosan Novi. Katanya aku diundang Novi untuk datang ke kosannya untuk ikut acara syukuran.

Berangkatlah kami menuju kosannya di Manisi. Disana sudah ada beberapa perempuan MKS dan tetangga kosannya. Lalu aku diminta mewakili dia untuk kata sambutan. Kubilang lebih baik dia saja supaya tersampaikan maksud sebenarnya. Aku tidak tahu maksud sebenarnya diadakan syukuran. Meskipun dasarnya orang mengadakan syukuran ya untuk bersyukur pada Tuhan. Dia hanya meminta didoakan semoga semuanya dilancarkan.

Adik kelas bernama Novi ini asli orang Sumedang. Menurut pihak ketiga dia ini sempat kuliah di Unpad jurusan Akuntansi. Entah tamat atau tidak yang pasti dia sangat pintar, puji seorang dosen di tengah obrolan kami dulu. Tapi tidak tahu akhirnya dia memutuskan melanjut kuliah di IAIN yang notabene lebih rendah kualitasnya. Lebih rendah menurut orang lain dengan standar ukuran tertentu. Karena menurutku IAIN adalah kampus terbaikku.

Lalu aku pun diminta memimpin dzikir tahlil. Wadduh, mana aku bisa berdoa tahlilan. Meskipun kampungku lekat dengan tradisi NU dan saat kecil terbiasa dengan tahlilan, aku tidak faham persis lafadz doa-doanya. Kami dulu suka sangat kalau ada yang meninggal. Karena kami bisa menghadiri tahlilan dan banyak dihidangkan makanan.

Tidak biasa dan tak bisa berlafadz doa-doa tahlilan, karena sudah lama tak mengikuti acara-acara beginian. Aku bukan lulusan pesantren yang memiliki kefahaman doa-doa. Tapi kalau terpaksa atau tak ada lagi yang bersedia pasti kuusahakan. Karena dulu di pengajian rutinku saat kecil, setiap malam Jum’at kami secara rutin mengadakan dzikir-dzikir tahlil, istighasah, dan qasidahan berjanzi.

Sekarang aku masih sedikit hafal kumpulannya. Masih sedikit-sedikit kuingat komposisi doa-doanya yang tidak lebih dari surat al-Fatihah, sebagian ayat awal dan akhir surat al-Baqarah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas. Lalu dilanjutkan dengan membaca surat Yaasin. Bahkan dulu berulang-ulang membaca surat Yaasin sampai tiga kali dalam semalam, yang dilanjutkan dengan surat al-Waqiah dan Tabarak (Surat Al-Mulk).

Beruntunglah Fauzi, teman sekelas Novi bersedia memimpin dia. Dia putra Garut juga lulusan pesantren. Kami bersama-sama bersenandung dzikir dan diakhiri membaca surat Yasin. Malam Jum’at membaca Yaasin membawa ingatanku saat dulu kelas empat SD. Dulu aku sudah hapal surat Yasin dengan lancar dan sekarang aku sudah lupa total.

Kata ustadz, terjadi lupa hakikatnya dibuat lupa. Allah yang menghapus ingatan karena dosa-dosa yang diperbuat. Lalu terjadi lupa secara syariatnya, karena jarang diulang lagi setiap malam Jum’at seperti dulu dilakukan saat kecil.

Karena perubahan orientasi dan pola pikir bahwa sekarang Alquran bukan sekedar dibaca tanpa makna, tapi mesti dipahami dan diamalkan. Dengan memulai membaca tafsirnya yang bukunya tebal akhirnya sangat menyita waktu. Sehingga membaca kalimat-kalimat Arab suci Alquran sendiri tertinggalkan karena terus bertumpu pada tulisan latin.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori