Oleh: Kyan | 12/03/2006

Tradisi Menuliskan Imaji

Ahad, 12 Maret 2006

Tradisi Menuliskan Imaji

**

Dikatakan kemajuan sebuah bangsa seiring dengan meningkatnya tradisi kepenulisan. Dan maraknya tradisi menulis tidak bisa berjalan, tanpa kegiatan membaca berbagai literatur. Maka jangan harap bisa menulis tanpa didahului dengan banyak membaca. Tapi bukan berarti gemar membaca dengan sendirinya akan mahir menulis.

Dalam menulis diperlukan latihan menulis secara berkesinambungan tanpa lelah. Dan aku masih sebatas keranjingan membaca saja. Tingginya keranjingan membaca belum sebanding dengan keinginan menulis. Kadang aku malas banget untuk menulis harian, apalagi menulis artikel yang ingin dimuat di media. Keinginan menulis artikel, sekarang baru dimotivasi dengan keinginan ingin mendapatkan honor. Jadi mungkin keinginan menulisku baru sebatas itu. Jadi serasa terpaksa.

Sebenarnya aku baru sebatas ingin membaca saja. Meskipun sangat banyak ide-ideku ingin diungkapkan dan disampaikan kepada orang lain. Namun lebih-lebih lagi semakin banyak aku membaca, semakin besar pula muncul perasaan ketidaktahuanku. Dan kebanyakan yang menulis itu adalah para sastrawan atau filosof. Pokoknya para pengkaji ilmu. Tradisi menulis bagi mereka sebagai tradisi memberi wasiat dan warisan keilmuan.

Akhir-akhir ini aku ingin membaca karya Iqbal, Rumi, Gibran, dan Chairil. Seingatku waktu SMU, aku paling malas membaca puisi dan novel. Waktu dulu aku hanya keranjingan membaca buku-buku motivasi. Menurut pikiranku dulu, apa bagusnya membaca novel dan puisi. Katanya itu hanya cerita-cerita bohong dan lebih baik membaca kisah nyata seperti kisah para nabi dan rasul.

Bahkan pemikiran ini tidak begitu berubah ketika sudah bekerja di Gramedia Batam yang banyak menerbitkan cerpen dan novel. Minatku pada puisi dan novel sangat kurang. Pemahaman salah yang terbentuk pun oleh bacaan yang mengatakan janganlah membuang-buang waktu. Membuang-buang waktu itu namanya mendengar cerita-cerita bohong.

Meskipun aku tidak dapat menunjukkan buku mana atau siapa yang mengatakan itu, hanya begitu saja kesimpulanku terbentuk dalam otakku. Bahwa Islam menyuruh meninggalkan perbuatan sia-sia. Perbuatan sia-sia salah satunya mendengarkan atau membaca cerita bohong. Dan buku sastra semacam cerpen dan novel adalah cerita fiksi yang artinya bohong atau khayalan.

Disimpulkan bahwa Islam melarang buku sastra. Silogis yang keblinger dari premis-premis yang belum tentu begitu maksudnya. Beruntunglah semasaku itu diperkenalkan pada buku novel Area-X dan Sang Alkemis. Ketika aku membaca dua buku ini sangat merasakan nuansa lain. Tidak ingin beranjak dari terus membuka-buka lembaran halamannya sampai tamat. Disamping membaca buku sejarah, muncul ingin pula membaca cerita.

*

Maka sejak itu terbentuklah kembali pemikiran bahwa tidak apa-apa membaca cerpen dan novel, tapi harus cerpen dan novel islami. Maka kuaduk-aduk koleksi cerita-cerita Islami di perpustakaan Masjid Raya Batam. Seperti yang dapat menitikkan air mata saat itu adalah membaca karya Gola Gong, buku tilogi “Pada-Mu Aku Bersimpuh”.

Menjelang kepulanganku ke Bandung, terjadi lagi perluasan pemikiran sampai sekarang. Sekarang aku ingin lebih banyak membaca puisi dan novel apapun saja. Dulu kupinjam dari perpustakaan kantor novel Saman dan Larung-nya Ayu Utami. Meskipun tak banyak kumengerti, tapi sangat mengasyikan. Pokoknya bisa membangkitkan daya imajinasiku, bahkan mungkin libido.

Barulah ada penguatan dari pernyataan Einstein yang setiap kali menutup buku Matematika SMU kelas tiga, di halaman belakang ada kata-kata, ”Ilmu pengetauan tidaklah lebih penting dibandingkan imajinasi”. Dulu sangat mengganggu dengan pernyataan itu tapi dianggap angin lalu saja. Tidak kutanyakan lebih lanjut pada guru atau pada siapa yang dapat menjawab pertanyaanku.

Kupikir sekarang mengasah imaji sangatlah penting. Sekarang aku malah kurang begitu suka dengan buku-buku psikologi, yang dulu sangat kuminati. Karena intinya motivasi itu berasal dari dalam diri kita. Letupan-letupan atau rangsangan-rangsangan dari luar berefek hanya sementara. Tapi sikap kita seperti berpikir proaktif, semangat memberi, menuju tujuan akhir adalah sikap pribadi yang harus diperjuangkan. Dan kurasa mendengarkan suara hati yang jernih itulah motivasi terpenting. GOD SPOT, suara Tuhan yang tertanam dalam diri sebagai manusia.

Sekarang aku ingin memperkaya khazanah yang menginspirasi. Aku ingin menyelami karya-karya Rumi. Aku penasaran dengan pemikirannya yang sampai bisa menginspirasi Iqbal, Schrimmel, Mulyadhi dan bahkan dikatakan puisi-puisinya sekarang banyak dibaca kaum selebritis Amerika. Beliau bisa mempunyai pemikiran-pemikiran brilian setelah empirisme dan rasionalisme mengalami kebekuan. Seolah mereka menemukan jawaban atas kegersangan alam modernitas. Memang tidak bisa langsung ke intuitif, sebelum mencapai dulu empirisme dan rasionalisme.

Lebih baik sekarang aku menekuni bidang yang diminatiku saja. Kajian ekonomi sebenarnya begitu kurang kusukai. Membeli buku-buku tentang ekonomi sebagai bahan kuliah masih banyak yang belum kubaca. Tapi akan kubaca beriringan dengan membaca buku-buku yang kuminati. Kuberusaha dijalani pelan-pelan.

Membaca koran tentang ekonomi mungkin bisa meningkatkan minatku. Andaikan nanti aku menjadi seorang ekonom, seorang akunting, aku bisa bekerja di lembaga riset ekonomi. Namun pencarianku tentang kebenaran yang autentik harus tetap dijalankan. Melangkah secara bersamaan untuk menjadi seorang muslim multidispiliner, seorang yang serba bisa itulah harapannya.

*

Pulang kuliah sudah kuniatkan mau ke Palasari. Akhirnya aku membeli buku-buku yang menarik minatku saja. Buku teks kuliah gak jadi dibeli karena uangnya kurang. Aku menghabiskan uang seratus tigaribu membeli buku. Tadinya ingin novel “Da Vinci Code”, tapi uangnya tak cukup. Aku penasaran saja dengan novel itu yang sekarang sedang ramai dibicarakan.

Tapi terpenting rencanaku membeli ini dan itu terlaksana. Kubeli buku Javid Namah dan buku karya Achmad Chodjim. Aku begitu cinta pada buku ini. Apakah ini karena telah dikecewakan oleh seseorang, lalu akhirnya lari pada buku. Banyak orang menghabiskan uang untuk jalan-jalan bersama perempuan, memberi traktiran pada temen-temen, menonton bareng, membeli baju, atau lainnya. Tapi aku alokasi untuk makan saja dikurangi buat membeli buku.

Aku ingin juga memperbaiki penampilan dan makan pun diperhatikan. Supaya gak kurus terus menuju kerempeng. Mereka bilang, kalau kurus nanti tak ada yang suka padaku. Tapi kata orang lagi, aku saja yang tak mencari. Semua memang kata orang. Tapi ini bukan kata orang, tapi kataku sebagai kenyataan. Aku sudah berani mengungkapkan, namun jawabannya hambar bahkan menyakitkan. Tapi dibilangnya, ini prasangkaku saja yang belum tentu benar sebenarnya isi hati dia.

Inginku memperhatikan seperti orangorang sering meneleponnya. Mungkin bisa mengirimkan hadiah sebagai kejutan. Tapi pengorbanan itu sia-sia kalau tetap tak diberi respon. Percuma saja aku menghambur-hamburkan uang demi secuil kasih sayang.

Dikatakan orang yakinlah pada pengorbanan. Itu pasti ada timbal baliknya suatu ketika. Kalau aku berbuat baik, orang lain pun akan berbuat baik. Tapi aku bosan harus menunggu dan bersabar. Aku ingin sekarang kekecewaan hilang lenyap. Hanya dia yang dapat melenyapkannya.

Lebih baik aku berpuas diri dalam diam dan kesendirian. Mengisi hari-hariku dengan menekuni pemikiran-pemikiran orang besar. Tapi kuyakin akan ada seseorang yang datang pada lelaki, bukan semata-mata karena harta, bukan karena kecakapan atau ia bangsawan. Tapi yang dia pilih karena hatinya. Hanya keyakinan itu yang kupegang untuk tak kecewa lagi pada semua yang menjadi kenyataan.

Aku akan terus membaca dan menulis sebagai refleksi diri. Agar aku bisa mendengar segala ketukan dan desiran yang terlintas di ombak pikiranku. Aku tak ingin kerdil dan ingin menjadi seperti pohon Oak—kata Soe Hok Gie—aku yang berani berbeda. Aku punya hati dan otak. Percuma saja gak digunakan.

Untuk apa mengisi hari dengan mengejar kesenangan semu. Lebih baik mati saja daripada menanggung kemalangan. Jika pun hidup, aku lebih baik jadi benda mati saja, jadi benda dan barang yang selalu diburu dan dimakan orang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori