Oleh: Kyan | 14/03/2006

Mencintai Benda-Benda

Selasa, 14 Maret 2006

Mencintai Benda-Benda

**

Aku membeli kaset Brother Reunited, aku mencobanya tapi suaranya gak bersih. Ini karena kasetnya atau tapenya, atau karena dua-duanya. Kalau membeli sesuatu selalu saja ada rasa ragu-ragu. Takut gagal. Kalau kupikir bakal gagal, dapat dipastikan yang terjadi adalah pikiran menjadi kenyataan. Begitulah hidup selalu saja ada masalah. Masalah kecil seolah-olah terlihat masalah besar atau memang sengaja dibuat besar.

Tempo hari membeli speaker, merasa suaranya kurang jernih. Takut barangnya cacat, sudah kucoba menghubungi tokonya. Tapi tak jadi pula ditukarnya. Sampai sekarang speaker masih bagus. Lalu tadi membeli kaset yang sebelumnya begitu ragu. Karena ketika dicoba di tempat, merasa ada keganjilan suaranya. Suaranya tidak menghirama enak, bahkan seperti kaset pita kusut.

Tapi akhirnya kubeli dan setelah dicoba di rumah, semakin jelas kekusutan suaranya. Kucoba berulang kali malah membuat pita menjadi kusut beneran. Tapi tidak panjang pitanya sampai tergores. Kalau bisa mau ditukar toh kondisinya masih bagus-bagus saja. Biar pun rusak sebagain, masih banyak dan panjang pita yang bagusnya. Besok mau kutukar ke Cairo Agency.

Mungkin mulai sekarang aku gak bakalan menyalakan tape bututku lagi. Koleksi kasetku jadi pada rusak pitanya. Membeli kaset baru, malah membuatnya rusak oleh tape butut. Bagaimana gak nyesel sudah punya tape jelek. Lebih baik gak punya saja sekalian. Punya juga cuma menghabiskan waktu, harus bongkar pasang terus melihat dalamnya dan memperbaikinya.

Sekarang hanya menyalakan radionya saja. Hindari memutar kaset, sebelum lebih banyak lagi kasetku yang rusak. Suatu saat aku mau membeli tape saja. Tape ini bela-belain dikirim dari Batam ke Bandung biayanya pasti sangat mahal. Padahal lebih baik buat membeli tape atau radio baru saja ongkosnya. Ongkos kirimnya pasti lebih dari seratus ribu.

Tapi sudahlah yang terjadi lebih baik ridhakan saja. Manusia hanya mempunyai keinginan, rencana dan harapan. Manusia harus menerima takdir atas apa yang telah terjadi. Kalau bisa diusahakan silakan saja diusahakan terus. Jangan lagi menyesal dan dongkol gara-gara mengutak-atik tape yang waktu habis dan kasetnya rusak lagi.

Begitu besarnya cinta pada dunia. Begitu kuatnya terikat pada harta benda. Sampai-sampai ada kesalahan sedikit, khawatir dan ketakutannya minta ampun. Begitulah dasarnya manusia sering menjadikan masalah kecil jadi besar. Sebenarnya tak usah resah gelisah, toh sudah terjadi. Bila masih bisa diperbaiki ya diperbaiki secepatnya dan selekasnya. Bila tak bisa ya terima saja dengan berlapang dada.

*

Kadang kekhawatiran kita lebih besar dibandingkan kenyataan sebenarnya. Kenapa sih aku selalu merasakan hal-hal itu. Padahal yang namanya harta benda lambat laun bakal hilang dari  genggaman tangan kita. Adanya ia tak menjadikan sombong dan hilangnnya ia tak menjadikannya putus ada. Ia yang datang dan pergi silih berganti.

Masalah waktu saja yang membedakan. Meskipun harta benda itu baru dibeli, lalu merasa ada kekurangan karena perasaan saja, dan kalau hilang salahmu yang tak bisa menjaga. Benda-benda kalau sudah masanya harus rusak, ya mau gak mau bakal rusak. Makhluk selain manusia semua tunduk pada-Nya.

Hanya manusia saja yang diberikan kehendak bebas (free will), kesadaran diri dan kreatifitas. Tapi mengikuti kuliah hari ini susah banget dikembangkan, diimajinasikan, atau dikaitkan dengan hal-hal lain. Sampai-sampai tak mencuat pertanyaan yang menggigil. Apakah karena referensinya yang berhubungan dengan mata kuliah masih minim bagiku sehingga tak muncul pertanyaan. Mestinya aku mencari-cari artikel-artikel dengan keyword nama mata kuliah di Google nanti. Semuanya dibaca untuk mengembangkan wawasan.

Tentang Perpajakan dan Manajemen Kredit tak ada satu pun hal-hal yang ingin ditanyakan. Lagian konsentrasiku kurang. Entah apakah apa yang mengisi pikiranku, ataukah karena kurang tidur. Memang aku selalu merindui seseorang itu. Lantas setelah bertemu mau bagaimana dan mau apa. Bahagiakah tak terkira bila sudah berjumpa dengannya dengan dia bermuka manis padaku. Cinta mesti diwujudkan. Bukan semata-mata kata-kata.

Sampai detik ini aku harus ridha atas apa yang telah terjadi hari ini. Nikmatilah perasaan apapun hari ini. Pasrah pada pemilik diriku dan dirinya. Ingin mendapatkan secercah sungging senyumnya dan keutuhan jiwanya meminta saja pada-Nya. Tak usah gelisah kalau ia memang terbaik, dia tak akan kemana-mana. Meminta dia dipesan dan dijaga oleh pemilik diri-Nya. Tak usah khawatir dia akan berpaling pada yang bukan jodohnya.

Jalani saja hidup ini. Sedih bahagia yang dirasakan namanya juga dunia tempat berpengharapan dan segala sesuatu pasti berpasangan. Terpenting dari hari ini kenapa aku belum bisa mengimajinasikan materi yang disampaikan dosen. Terasa buntu saja dengan paparan dosen. Apakah memang karena aku ini bodoh sekali. Memang aku begitu bodoh, tidak tahu apa-apa, dan iri hati melihat teman-teman yang cerdas. Namun kuyakin aku punya kelebihan sendiri.

*

Lantas aku hari ini mendapatkan apa. Membaca buku sudah sampai dimana. Membaca di pagi hari buku karya Baqr Sadr tentang keunggulan ekonomi Islam. Dikatakan penjajahan Barat atas negara dunia ketiga dilandasi oleh mazhab kapitalisme. Menurut Marx bahwa perkembangan sebuah bangsa sangat bergantung pada perkembangan alat-alat produksi. Sangat bergantung pada menguasi perkakas-perkakas seperti zaman batu alat produksinya pahat dan palu.

Dalam pikiran monolitik alat-alat produksi yang dikembangkan dapat memudahkan kemajuan sebuah bangsa. Namun akibatnya adalah pengangguran yang kian merebak. Karena alat-alat produksi hanya dikuasai oleh segolongan minoritas. Akhirnya minoritas dengan gampang mengumpulkan kekayaan yang banyak dengan memperkerjakan rakyat miskin dengan gaji murah.

Dengan demikian, Marx berkonklusi bahwa sejarah manusia pada dasarnya adalah pertentangan antar kelas. Dihubungkan dengan teori Darwin bahwa yang kuatlah yang menang, maka terjadi proses seleksi alam. Sekilas pandangan ini ada betulnya, namun bila kita melihat secara keseluruhan, argumen itu mungkin bisa dibantah, kata Baqr Sadr begitu. Karena hidup bukanlah kisah-kisah para pemenang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori