Oleh: Kyan | 15/03/2006

Tentang Secangkir Perasaan

Rabu, 15 Maret 2006

Tentang Secangkir Perasaan

**

Tiba-tiba menelusup merasa senang ketika bisa mengobrol lagi dengannya. Meskipun itu sebentar ketika kami berjalan pulang di koridor ruang kuliah. Katanya dia mau transfer uang, tapi ingin yang dekat kantornya. Dia bilang, “Aku mau transfer lewat BRI, kan kantornya tinggal menyeberang sebelum kosan. Tapi takut mahal chas-nya”.

Kubalik bertanya, “Emang bank rekening tujuannya apa?”. “BSM”, jawabnya. “Ya sudah lewat BSM lagi saja. Kantornya di Buahbatu, dekat Bank Muamalat yang dulu kita kunjungan kesana. Dari perempatan Buahbatu saya berjalan kaki sampai di kantor BSM. Pokoknya tidak terlalu jauh kantornya dari Bank Muamalat.”

“Ke Bank Muamalat yuk”, pintanya. Sekalian kita minta aplikasi tabungan, deposito, dan giro untuk tugas bank komersial!”, tambahnya. Kucuri pandang dari sudut mataku terlihat sekali manis mukanya. Aku merasa aneh saja hari ini dia merespon baik padaku. Memang kadang dia menampakkan sikap dingin atau aku sendiri yang bersikap dingin padanya. Kenapa sih aku begitu bahagia bila sudah bertemu dia. Katanya itu karena cinta. Apa benar aku sudah jatuh cinta.

Teringat dulu di pertemuan pertama, aku sangat tidak tertarik padanya. Aku biasa-biasa saja melihat dia. Hanya saja kawanku, Deri yang selalu saja mendoakan, menjodoh-jodohkan aku dengannya. Sampai akhirnya mungkin karena sering kupandangi dia, kucuri-curi pandang, benar juga aku melihat aura inner beatynya.

Setelah sering aku mengobrol-ngobrol dengannya, mungkin disitulah muncul rasa ketertarikan. Ini seolah pembenaran bahwa cinta tumbuh karena kedekatan. Kami terkondisikan menjadi lebih sering sekelompok tugas kuliah. Entah dia atau aku yang ingin satu kelompok, yang pasti seringnya komunikasi dan bertukar pandangan memberikan semacam kemabukan.

Aku dibuat sering main ke kosannya dan begitupun sebaliknya. Saking terlalu seringnya banyak orang menyangka kami pacaran. Makanya ketika banyak orang menanyakan bagaimana hubunganku dengannya, kujawab ya-ya saja. Maksudku supaya tidak diperpanjang saja oborolan tentang aku dan dia.

Tapi akibat jawaban yang maksudku tak mau berpanjang lebar, sampai terdengar bahwa aku mengatakan sesuatu yang tak disepakatinya, atau ada orang yang mengkonfirmasikan padanya. Akhirnya dia dia mengadu dan ngambek di hadapanku. Aku pun tak bisa berkata apa-apa dan hari berikutnya baru kuberikan sebuah tulisan.

Ternyata dia sudah berbohong yang katanya gak sempat dibaca, karena disketnya kena virus. Tapi setelah dia menyakitiku dengan seringnya, suatu ketika dia mengirim e-mail untukku yang mengaku bahwa sudah membaca tulisanku, dan sangat menghargainya. Dia bilang termia kasih karena sudah mendapatkan ilmu banyak dariku. Ilmu apa. Aku tak tahu.

Apakah sebenarnya dia suka padaku, merasakan hal yang sama denganku? Namun untuk sekedar menghargai perasaanku saja ia bermanis muka di depanku. Kalau aku main ke kosannya, Siti Aminah, teman kosannya sewaktu aku menunjukkan foto perempuan di file komputer, ia bilang ada yang cemburu, dia malah diam saja.

Aku pun tak mau pacaran, cuma ingin mendapat tempat di hatinya. Tapi seolah aku tak bisa menerima ketika dia bilang, “Aku memperlakukan secara sama pada semua cowok yang datang padaku”. Katanya perkataan padaku dikatakan juga pada cowok lain. Tak ada perbedaaan. Dengan begitu aku ini tidaklah istimewa baginya. Mungkin itu yang membuatku kesakitan, karena telah dianggap tak spesial baginya. Cinta hanya butuh pengakuan atau kepura-puraan, tidak lebih.

Memang kupikir-pikir buat apa aku dijadikannya spesial. Toh aku tak punya apa-apa. Tak ada yang mesti diberikan padanya. Terlalu abstrak bila hanya memberi hati atau menyerahkan hidup sampai mati. Apakah ini cinta pertamaku? Mungkin, inilah cinta pertamaku. Apakah sekalian yang terakhir? Cinta pertama dan tearkhir? Biarlah waktu yang bisa menjawab semuanya.

Memang kuakui baru pada perempuan satu ini aku begitu tergila-gila. Mungkin karena aku terlalu mendramatisir saja. Karena namanya tertuliskan di catatan harianku. Demi melupakannya lantas apakah harus kutinggalkan kegiatan menulis ini. Aku menulis untuk belajar menulis, bukan karena cinta padanya ingin terdokumentasikan.

Mungkin suatu saat aku bisa kehilangan dia. Tapi tulisan ini akan menjadi saksi. Saksi yang tidak akan mati bagi siapa yang membacanya. Ini hanya sebuah cara untuk menghindari kematian pada cinta.

*

Bersinggungan dengan apa yang sedang kubaca hari ini tentang mati. Buku Syaikh Siti Jenar makna kematian. Dikatakan sebenarnya kita ini mati. Kita ini bangkai-bangkai yang berjalan berkeliaran kesana-sini mencari panduan untuk sampai pada kasih Tuhan. Karena yang namanya hidup adalah tak mengenal kematian.

Panduan adalah kitab yang terbagi dua, yaitu ‘Kitab Kering’ dan ‘Kitab Basah’. Kitab Kering, yaitu Alquran dan kitab tertulis lainnya. Kedua Kitab Basah, yaitu yang ada pada diri kita. Keduanya saling melingkupi dan melengkapi. Kitab Kering hanyalah pelita atau petunjuk ‘jalan’ yang lurus. Bukan ‘jalan’ itu sendiri.

Kalau keduanya dipadukan niscaya nampaklah mana jalan lurus itu. Diri kita pun terbagi tiga, yaitu jasmani, jiwa dan ruh. Jasmani apa yang kita lihat dan raba sebagai tubuh kita, jiwa berkaitan dengan kodrat manusia, dan roh berkaitan dengan iradah. Manusia mesti menggunakan kodrat iradahnya untuk mencari ingsun sejatinya.

Kebenaran adalah suatu tindakan menjadi—becoming, bersesuaian dengan konsepnya Ali Syariati—di dunia ini. Syahadat Syekh Siti Jenar adalah pengakuan diri sejiwa dengan Dzat Maulana, Maha Rahman dan pengakuan bila setelah sejiwa dengan-Nya adalah manifestasi kenabian Muhammad.

Selanjutnya guru terbagi empat, yaitu Guru Ujad, Pituduh, Sejati dan Purwa. Guru sejati adalah guru yang memahami hakikat hidup yang bisa menunjukkan jalan lurus. Guru Purwa adalah guru tertinggi yaitu DZAT maulana, Hyang Widhi manusia. Pada umumnya kita hidup berdasarkan opini atau pendapat. Tafsiran atau maksud bahwa Alquran dan kitab lainnya berkata ini-itu adalah pendapat seseorang. Meskipun hanya pendapat, tapi dapat mendekati kebenaran. Kenapa mendekati, karena kebenaran sejati adalah Tuhan itu sendiri.

Hidup sejati adalah yang bisa memanfaatkan diri sejatinya. Bukan cuma sekedar hapal aya-ayat Tuhan. Kebenaran hanya diperoleh dari kearifan yang bisa menerima pluralitas. Intinya menurutku sebagai manifestasi iman adalah bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi yang lainnya.

Semangat memberi, bukan menunggu diberi. Hidup yang berdiri dengan kaki sendiri itulah keimanan sejati. Keimanan sejati adalah kepekaan bagi di luar dirinya. Lantas mengoptimalkan dalam dirinya untuk mengabdi kepada yang di luar dirinya apakah ini kebenaran sejati? Baru sebatas inilah kuanggap sebagai kebenaran. Baru sampai inilah opiniku. Instrumen-instrumen yang telah mapan di berbagai agama, khususnya dalam Islam seperti zakat, salat adalah media optimalisasi jiwa. Ini satu contoh mudah yang berisi substansi/esensi/hakikat agama. Untuk sampai pada hakikat agama harus lewat pemahaman etika pemberdayan akalnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori