Oleh: Kyan | 17/03/2006

Mengerjakan Salat Hakikat

Jum’at, 17 Maret 2006

 Mengerjakan Salat Hakikat

**

Bagaimana tidak kesal, aku sudah hujan-hujanan datang ke ATM. Kucari-cari kartu ATM dalam lipatan dompet, tapi nihil keberadaannya. Seperti tidak yakin ATM Muamalat-ku sudah hilang. Kuingat mengambil uang terakhir di ATM hari Selasa. Kalau gak salah sisa saldonya tinggal seratusribu lagi.

Bagaimana ini? Sekarang uang di dompet tinggal seribu. Di kosan air galon sudah habis. Jikapun tidak makan, setidaknya aku masih bisa minum. Untungnya buat membeli air bisa kupinjam uang ke Robbi. Dia memberi limaribu padaku, terima kasih Obi. Sedangkan buat makan ingin kupinjam ke Dian. Untungnya pula Dian datang ke kosanku mau mengerjakan artikel laporan seminar.

Kuingat tadi siang dompetku disimpan begitu saja, ‘nemprak’ di kamar. Karena aku sedang sibuk setting member card Aya-Sophia. Lalu datanglah Dicky mau ikut salat Duhur. Hanya dia yang ada di kamarku, tak ada lagi. Tapi aku harus berhusnudzan, untuk apa orang lain mencuri kartu ATM kalau tidak tahu paswordnya.

Kenapa aku bersuudzan padanya? Dia ke kamarku mau ikut salat, masa setelah salat malah maling. Salat sebagai tanda kesalehan seseorang, sebagai keformalan salehnya seseorang. Tapi hati siapa kan tak ada yang bisa menyelaminya.

Tapi besar kemungkinan ATM-ku ketinggalan sewaktu mengambil uang di ATM kampus tempo hari. Karena saat itu begitu kutarik uang tunai, malah muncul pemberitahuan saldo tidak mencukupi. Mungkin saat itu gelisah karena ibuku belum mengirim uang dan aku sudah habis bekal. Sehingga membuat lupa mengambil kartu ATM kembali.

Aku memang pelupa dan suka gak sadar atas apa yang sedang atau telah dilakukan. Sewaktu kerja di Gramedia saja sudah berapa kali yang tak terhitung mengulangnya ketinggalan kunci di loker tempat kerja. Begitu sampai di rumah, mengaduk-aduk saku baju dan celana, mana kunci. Dan benar saja setelah balik lagi ke tempat kerja, kuncinya masih menggantung di loker. Kubilang aku pelupa ya pelupa.

Bagaimana cara menghindari lupa. Katanya mesti sadar apa yang sedang dilakukan. Aku sering tak ingat bahwa aku sedang makan misalnya, tapi pikiran melayang-layang dan menerawang ke mana-mana. Nanti aku harus bilang pada calon istriku bahwa aku memiliki kebiasaan pelupa. Supaya dia tahu dan selalu mengingatinya.

Kehilangan, secara syariat karena kita ceroboh, tidak mengingat-ingat dan menjaga barang yang dimilikinya. Dan secara hakikat, karena sudah waktunya hilang, Allah memberi keputusan bahwa kartu ATM harus hilang. Itulah takdir bagi ATM dimana aku pertama membukanya di Bank Muamalat Cabang Batam.

Katanya pelupa itu sifat seorang profesor. Saking terlalu banyak ilmu di kepalanya. Sehingga hal-hal yang menurutnya kecil menjadi terlupakan. Tak dipungkiri ada hal kecil dan besar menurut persepsi otaknya, meskipun sebenarnya sama penting. Semuanya bergantung wordview kita. Keberadaan pasangan kita atau tetangga kita itu sama-sama penting. Jadi harus memperhatikan mereka.

Namanya manusia harus diperlakukan sebagai manusia. Manusia mempunyai otak dan hati, begitu Rangga bilang. Manusia mempunyai tiga unsur, yaitu Jasmani, Jiwa dan Ruh. Ketiganya mengelaborasi pada diri untuk pengoptimalan diri sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Syariat menurut pemahaman Islam Jawa, khususnya menurut sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar adalah bukan semata-mata formalitas, tapi harus menjadi sarana kemenjadian (becoming) insan kamil, manusia sempurna. Syariat bukan semata ibadah fisik, tapi olah batin itu yang terpenting. Salatnya harus bisa jadi media pencegahan perbuatan keji dan mungkar. Keji adalah perbautan iri hati, dengki dan sejenisnya. Sedangkan mungkar adalah perbuatan yang jelas-jelas cela dimata manusia seperti kedzaliman KKN dan sejenisnya.

Perintah menegakkan salat tidaklah berarti mengerjakan formalitas salat. Buat apa salat kalau hakikatnya tidak tercapai. Meskipun menurut penelitian gerak fisik salat sangatlah bermanfaat, dan waktu salat ditentukan sebagai latihan kedisiplinan, tapi bukan itu hakikat salat. Hakikat salat adalah sejauh mana keberadaan dirinya bermanfaat bagi di luar dirinya.

Begitu banyak orang salat tapi KKN merebak dimana-mana. Intisari salat atau sembahyang atau apapun namanya adalah menyembah atau mengingat atau dzikir atau eling. Lalu namanya menyembah pasti ada yang dituju. Yang menjadi titik tujuan tentunya Tuhan, bukan yang lain-lain seperti uang, benda-benda, atau kekuasaan. Mendirikan salat bila pelaksanaannya benar dan yang dituju diketahui dengan jelas, tentunya hakikat salat bisa tercapai. Tapi kenapa masih saja keji dan mungkar masih merjalela. Karena salatnya orang kebanyakan ibarat memanah dengan membidik ke arah yang tidak diketahui arah tujuannya. Akhirnya hanyalah kesia-siaan.

Begitu pun dengan haji. Sunan Kalijaga ketika di Malaka mau melanjutkan ibadah haji ke Makah. Beliau menyebarkan Islam sampai ke daerah Patani. Waktu itu kekuasaan Majapahit memang sampai ke Birma. Begitu luasnya wilayah Majapahit. Beliau disuruh pulang kembali ke Jawa karena ka’bah sejati tidak ada orang tahu. Ka’bah di Makah hanyalah tiruan. Kabah sejati ada dalam diri.

Orang berbondong-bondong pergi ke Makah sementara di sekelilingnya kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan terjadi dimana-mana. Bukan tak penting pergi ke sana, namun mesti ada prioritas. Tapi kudengar sebuah hadis yang katannya bila tidak terbesit di hati mukmin untuk berhaji, matinya dalam keadaan Yahudi dan Nasrani. Dalam hadits dikatakan berhaji saja. Apakah makna haji sama dengan pergi ke Makah? Setidaknya itu berdasarkan pemahaman umum.

Berhaji tidaklah berarti ke Makah. Itu hanyalah salah satu penafsiran jumhur ulama. Apakah kebenaran makna sejatinya. Ulama berusaha untuk mendekati kepada kebenaran. Kebenaran adalah Tuhan yang maha tak terbatas. Memang manusia hidup di bawah opini orang lain. Bukan hidup di bawah kodrat iradat dirinya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori