Oleh: Kyan | 20/03/2006

[Masjid Bani Kanti, Perpustakaan Cornaga] Rekening Hubungan, Rekening Energi

Senin, 20 Maret 2006

 

Rekening Hubungan, Rekening Energi

**

Kutunaikan salat Duhur di Masjid Bani Kanti. Masjid ini terletak di jalan BKR samping pom bensin dekat Alifa Shoping Center. Luas bangunannya kira-kira sebesar lapangan bola volly dengan ornamen unik dan arsitektur megah. Siapa saja yang singgah disana, akan nyaman melepas lelah.

Selesai salat, kutolehkan pandang ke samping masjid. Tepat di pinggir bangunan masjid, berdiri sebuah rumah dua lantai cukup bersih dan pekarangan indah. Mungkinkah masjid ini ‘pemilik’-nya atau wakaf dari sang empunya rumah? Kuperhatikan sekeliling halaman rumah dan masjid yang membawa bayangan masa depanku.

Suatu saat nanti ingin aku punya rumah dan di sampingnya ada mushala atau masjid. Kebanyakan sekarang disebut mushala rumah karena berada di dalam rumah. Tapi buatku harus dibalik atau berdampingan antara rumah dengan mushala. Mushala diibaratkan ‘golodogan’ tempat para musafir singgah bila kehujanan dan kepanasan.

Jaman sekarang mungkin karena harga tanah kian mahal, ketika membangun rumah seolah tak menyediakan tempat bagi pejalan yang ingin berteduh. Bahkan sekarang pagar rumah ditinggikan demi alasan keamanan. Aku sering merasakan ketika hujan turun secara tiba-tiba menjadi kebingungan mencari tempat berteduh. Maka lebih bagus kalau nanti kubangun rumah, berhimpit dengan mushala yang bisa menjadi tempat persinggahan para musafir.

Dan aku ingin mushalaku ada perpustakaannya. Sebagai majelis ilmu dan mungkin aku bisa memimpin jamaah. Sungguh indah rumah dua tingkat standar dan ada mushala disertai ada perpustakaannya. Lalu ada kafe dan minimarket sebagai penunjangnya. Aku membayangkan kurang lebih inilah rumah surgaku.

Tadi berjalan kaki dari kantor Bank Muamalat Buahbatu dimana tujuanku mau diteruskan ke Tegalega. Di Bank Muamalat mengurusi ATM-ku yang hilang. Terpaksa rekening Tabungan Ummat kututup buku untuk diblokir. Lalu saldonya ditransfer ke tabungan Syar-E yang ternyata masih aktif setelah sekian lama tak melakukan penyetoran. Aku harus segera memberi tahu ibuku kalau mengirim uang harus ke rekening Syar-E. Mau mengirim sms sekalian mau meminta uang untuk menebus monitor di bengkel.

Tadi sempat juga masuk ke kantor BSM Buahbatu untuk mengambil brosur. Kupicingkan mata pada customer serice-nya yang cantik, mirip teman SMU-ku, Okke Evriana. Kenapa aku selalu membandingkan dengan temanku yang satu ini. Seolah-olah dialah standar cantik menurutku. Tidak tahu kenapa aku selalu saja ingat dan ingin tahu bagaimana kabar Okke.

Mungkin karena dia perempuan keibuan. Entah, apa dia masih punya hubungan dengan Pisko. Suatu ketika pernah berpengharapan, tapi sayang tidak tersampaikan. Sebuah kasih yang tak sampai. Setelah itu terus dirundung malang. Sesudah kasih tak sampai, setelahnya adalah penyesalan dan khayalan.

Berkhayal setiap kali bertemu perempuan, selalu membayangkan itu adalah dia, dia sangat mirip dengannya. Kemana wajah memandang ke Timur dan Barat, kulihat perempuan-perempuan berwajah Okke Evriana. Ini semua membuatku pusing harus beradu antara kenyataan dan khayalan. Mungkin beginilah dalam scene film-film sebagai maksud khayalan, yaitu setiap bertemu perempuan, yang tergambar adalah wajahnya sang kekasih.

Itu sudah menjadi masa lalu. Dan sekarang aku hanya mengharap pada seorang teman di kampusku. Dia telah memenuhi ruang hatiku. Dia cantik, semangat dan tak kalah cantiknya dibanding Okke Evriana. Perempuan gak bisa dibanding-bandingkan dan akupun tak ingin membanding-bandingkan. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya persepsiku saja ini cantik dan itu terlalu cantik. Semuanya cantik yang memancar dari kedalaman.

Lalu kenapa pula mesti sakit hati, bila salah satu teman perempuanku ada yang jadian pacaran dengan lelaki lain. Toh perempuan itu orang lain yang memiliki kehendaknya sendiri. Kenapa segala perasaan padanya seperti ingin menaklukan dan menguasai hatinya. Hati memiliki pilihannya sendiri.

Begitupun dengan perempuan lain lagi, sekarang aku dibuatnya gelisah. Padahal sesuatu yang aku sangkakan belumlah benar-bener terjadi. Kenapa aku mesti menyampaikan “selamat” pada Sinta yang katanya sudah janji pacaran dengan Rizki. Iwan bilang pasti dia bakal tersenyum-senyum. Ada apa? Karena apa? Yang pasti dia sedang menerima kebahagiaan.

Kalau memang dia mendapatkan kebahagiaan, akupun mesti ikut berbahagia. Bukankah begitu namanya sahabat sejati. Orang sedang bahagia sedangkan aku malah kecewa, itu namanya egois. Aku mesti bersikap arif dan belajar pada pengalaman. Dia bahagia, aku harus bahagia.

Bila orang yang kucintai mendapatkan kebahagiaan bersama orang lain, justru harus bersyukur karena kekasih yang diingini sudah menemukan jalan kebahagiaannya. Bagaimanapun dengan setiap perempuan yang sempat singgah di hati, aku harus ikut berbahagia. Terasa sulit, memang. Tapi belajarlah untuk bisa nrimo takdir.

*

Berjalan kaki dari bypass perempatan Buahbatu sampai Tegallega, yang diteruskan sampai di Masjid Raya memberikan kepuasan tersendiri. Sebuah kenikmatan bahwa aku memiliki kekuatan meskipun aku sedang berpuasa. Begitu sampai di Masjid Raya dari Tegallega, rencanaku mau dilanjutkan ke Cimahi, mau mewawancara pemilik perpustakaan Cornaga di jalan Tagog. Meskipun gambaran di langit seperti mau hujan aku mesti ke sana. Karena agenda bulan Maret ini hasil wawancara sudah dilaporkan.

Sampai di sana terlihat seperti sore. Entah jam berapa, aku tak punya jam. Aku gak tahu waktu dan hanya menikmati berputarnya waktu. Kubayangkan ini petualangan seperti Satar dalam novel Sabda di Persemayaman. Bahan wawancaraku hanya mau menanyakan profil dan sejarah berdirinya perpustakaan Cornaga.

Pemiliknya adalah pak Veri, ia yang sedang kuwawancara. Dia asli Cimahi dan bila melihat wajahnya mungkin dia keturunan Tionghoa. Orangnya ramah dan penyuka Sastra. Beliau suka membaca mulai dari kelas empat SD. Koleksinya sudah 10.000 judul. Ia bilang yang dipajang di depan atau disewakan cuma sebagian. Buku yang dipajang cuma 60 persen komik. Pengadaan bukunya langsung dari agen dengan diskon 20-30 persen.

Beliau membuka perpustakaan ini katanya karena sisa-sisa idealisme masih ada. Supaya masyarakat gemar membaca dan secara tidak dipaksa bisa melakukan pencarian jati diri. Jangan harap membuka usaha seperti ini dapat mendapatkan profit. Cashflow-nya plus plos.

Memang seperti yang kusadari perpustakaan adalah tugas pemerintah, bukan tugas pribadi. Tapi aku ingin tetap bisa membuka perpustakaan yang bisa dimanfaatkan orang. Pendapatannya cukup saja buat makan dan membayar tempat tinggal, itu sudah lebih dari cukup. Tapi aku tetap mesti punya pendapatan utama. Membuka perpustakaan hanya sebagai aktualisasi diri.

Inginku pekerjaan sehari-hari adalah menjadi profesional ekonomi syariah dan sepulang kerja bisa mengoptimalkan perpustakaan. Pokoknya harus punya perpustakaan lengkap. Dan sejak saat ini mesti dimulai. Lantas ketika sekarang sangat butuh uang, berusaha apa buat menghidupi diri?

Mestinya aku mencari usaha dalam bidang lain. Yang baru terpikir adalah berjualan makanan dan minuman ringan, di samping perpustakaan dan toko buku. Toko buku juga keuntungannya kecil. Harus bisnis bidang makanan dan pakaian. Membuat kue brownies. Aku mau belajar membuat kue ke Dian.

Aku berbakat sebagai pebisnis. Ibuku pintar memasak dan dulu ayahku berhasil di bidang perkreditan barang. Kakekku jago menjahit dan terkenal hasil jahitannya. Pasti dari mereka turun darah bisnis kepadaku.

Aku malah tersibukkan dengan dengan literatur pengetahuan. Sibuk menyelami pemikiran-pemikiran orang-orang besar. Kalau reinkarnasi atau menitisku dari siapa. Menurut Achmad Chodjim bahwa manusia bisa menitis. Jiwa yang raganya mati akan terlahir kembali mengisi bayi yang lahir. Aku percaya tidak percaya, beliau berargumen dengan Alquran. Jikapun aku percaya pasti aku titisan reinkarnasi dari orang-orang besar. Jiwa yang sudah tercerahkan dan semakin tercerahkan.

Sekarang sudah jam satu malam. Aku masih belum tidur. Salat Isya pun belum. Dalam tiga hari ini aku selalu tidur larut malam. Mau tidur juga susah. Hari ini ada teman yang menginap di kosanku. Kalau ada orang di kamar, aku suka gak bisa konsen. Tapi kalau sendirian memang melakukan hal-hal yang ingin kulakukan, tapi lekas membosankan.

Tadi yang lagi nonton TV di kosanku ada Robbi, Dian dan Soni Gembel. Tadi aku diminta melihat komputer punya Soni Gembel, untuk mengeinstal Office 2000,  komputernya pentium tiga tapi lambatnya minta ampun. Saking lamanya kucoba memejamkan mata karena saking ngantuknya. Karena tetap gak bisa dan sangat lama kubilang mau pulang saja. Begitu sampai kosan kulihat jam sudah jam duabelas malam lebih. Tidak terasa waktu berjalan.

Ketika adzan Isya terdengar dari masjid terdekat, kami masih saja mengobrol tentang Syaikh Siti Jenar. Setiap hari aku selalu menerima tamu. Hidup memang harus bersosialisasi. Mudah-mudahan kedatangan teman-temanku dapat menjadi rekening hubunganku. RBH, rekening bank hubungan, istilah Stephen Covey dan iastilah ustadz yang ceramah di MQ di pengajian Ahad sebagai REH, Rekening Energi Hubungan.

Segala perbuatan baik kita  pada orang lain saat nanti bisa dicairkan. Baik dalam materi atau cinta dan kasih sayang. Berdoa saja supaya dicairkan dalam bentuk materi. Fokus utama kita adalah memberi dan memberi, bukan menunggu-nunggu pemberian orang lain. Bangunlah tradisi memberi.

Selama liburan dari Kamis sampai Senin, masih belum saja menulis catatan kuliah. Tidur sering larut malam. Lantas apa yang dilakukan selama waktu luang. Aku sibuk bolak balik bongkar pasang tape yang dikirm ibuku. Ini yang sangat menyita waktuku karena tape rusak. Sampai harus dibawa ke tukang service menghabiskan tigapuluhribu. Ditambah sudah merusak beberapa pita kaset koleksiku.

Sesudah diservice, mencoba memutar kaset, masih membikin kusut lagi pita kaset. Lalu kubeli saja head-nya lagi, masih tetap jelek. Bila dibawa ke tukang service sebelumnya, akan percuma saja. Karena hasilnya tak ada. Kuingin tukang service lain. Tapi di Cibiru hanya ada itu.

Baru kuingat di Garut, dekat rumah kakakku ada tukang service. Aku mesti pulang ke Garut sekalian silaturahim ke kakakku. Sudah lama gak berkunjung ke rumah kakakku. Tidak bertemu kakakku sudah dua bulanan. Sewaktu liburan semester tak sempat karena mengurusi beasiswa. Beasiswanya belum ada pengumuman lagi. Aku harus bersabar. Aku mesti terus berdoa.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori