Oleh: Kyan | 21/03/2006

Di Balik Tabir Cerita Sinta

Selasa, 21 Maret 2006

 Di Balik Tabir Cerita Sinta

**

Dalam ketemaraman sang malam. Kutorehkan segala hasrat dan lara yang menyemai dada. Aku tidak tahu kenapa yang dalam luka semakin dalam. Tak seorang pun yang tahu akan artinya kericuhan jiwa. Hanya semakin dalam luka yang kian menganga. Persepsi jiwa memantulkan nestapa lama. Aku bahagia, tapi seperti derita. Tidak mengerti akan segala yang diidamkan dan didamba. Begitu menusuk, memuncrat, dan mengalir nestapa.

Tuhan, engkaulah sumber kedamaian. Engkaulah pemilik kedamaian. Engkaulah pemilik dia, aku dan dia serta mereka. Aku kembali kepada-Mu untuk melupakan dan meluapkan ombak duka menuju samudera ketenangan. Aku sudah cengeng menerima jalanku hari ini. Berilah aku kedamaian untuk nrimo apa-adanya.

Sehabis Maghrib aku dengan Deri pergi ke kosan Angel Wings mau mengambil cd yang dia pinjam tempo hari. Sampai disana, dia sedang memasak telur. Namun tak lama kemudian, datanglah seorang cowok menemuinya. Kutanya dia siapakah dia. Ia bilang temannya di Mihdan.

Prasangka. Manusia tidak lepas dari prasangka. Dan aku mengalaminya. Kenapa aku positif begitu saja menganggapnya. Kalaupun ingin dipermasalahkan, memang dia siapanya aku. Diantara aku dengannya tidak terjalin suatu ikatan khusus selain pertemanan biasa. Aku tak boleh berprasangka.

Kupikir besok ingin kutanyakan dan kutulis surat buat dia tentang cara berpakaian dia. Setiap kali aku kesana, dia kadang berpakaian kurang tertutup. Dia memakai celana pendeklah dan pernah pula tak memakai kerudung. Cowok yang datang ke asrama dia, buka cuma aku.

Tentunya cowok-cowoknya teman perempuan-permepuan lain seasrama dengannya sering kulihat banyak sekali nongkrong di halaman kamarnya. Mestinya dia selalu terjaga pakaiannya. Namanya tempat kosan tak akan sepi dari pengunjung, khususnya kunjungan lawan jenis.

Deri bilang, kok dia kelihatan riweh, tergesa-gesa. Apa memang karena ada yang mau datang? Cowok. Sempat kupandang sekilas, sikap si cowok itu tak sedap dalam penglihatanku. Meskipun aku harus berprasangka baik bahwa dia itu teman kerjanya di Mihdan, tapi hati kecilku berbicara lain. Namun aku tak boleh membesar-besarkannya. Meskipun aku tetap dan akan tetap percaya pada penjelasannya. Hati seseorang tidak bisa diselami. Leibh baik kuserahkan pada pemiliknya, Allah Swt. Aku, dia dan mereka adalah milik-Nya.

*

Semakin jelas dan benar prasangkaku. Ternyata Sinta sudah dilamar oleh seseorang. Kok, begitu cepat dia menerima seseorang. Orang itu adalah teman seasramaku, A’ Rizki. Dia yang kemarin wisuda. Aku yang setiap hari selalu gelisah memikirkan eksistensinya. Mengenai harta, tahta, dan keluargaku tidak bisa didambakan oleh perempuan manapun. Aku dibuat semakin minder saja dalam pergaulan hidup ini.

Meski aku terus berkata, aku adalah aku, aku peraya diri karena aku pintar, tapi disebut pintar pada apa. Sudah jelas aku ini bodoh sekali, masih tetap mengaku pintar. Semakin hari aku merasa semakin lemah saja. Bila kupunya bintang, dimanakah ia.

Aku tak mau mempermainkan hati perempuan. Perempuan-perempuan yang kukenal tak tega dipermainkan begitu saja. Mendengar Sinta sudah menerima seseorang, aku jadi berpikir dan percaya dan menghargai pilihannya. Kalau itu memang pilihannya tidak masalah. No problem, aku menghargainya.

Namun apakah sudah dipikirkan secara matang. Apakah benar-benar sudah kenal dengan baik dengan orang itu. Dari selentingan aku sedikit tahu tentang Rizki. Dari informasi yang kudengar bahwa ketika KKN dia sudah jadian dengan cewek orang tempat KKN-nya. Namanya KKN paling sebulan duabulan, apakah setelah itu tetap dilanjutkan. Bila sekarang jadian dengan Sinta, berarti sudah putus dengan pacarnya yang di KKN, ataukah malah kedua-duanya terus berjalan. Begitu cepatnya ungkapan kegombalan cinta diterima.

Kuingat sebulan lebih dia pernah bertanya padaku tentang Sinta. Di hari Sabtu kemarin di wisuda Rizki katanya hari jadiannya. Begitu dia mengatakan dan Sinta langsung menerimanya. Begitu cepat antara putus dengan satu perempuan ini dan langsung jadian dengan perempuan lain.

Kalau mau kenal lebih dekat kenapa mesti ada istilah jadian. Sahabat ya sahabat. Kalau mau menikah baru ada istilah jadian atau tunangan. Itupun mesti ada penjajakan dulu. Apakah kalau dalam kehidupan rumah tangga nanti bakal cocok. Karena yang kulihat begitu cepat kejadiannya. Tapi akan kuikuti saja kisahnya, sampai kapan itu bertahan.

Aku tak membenci siapa pun. Namun hati perempuan begitu lunak, sensitif, dan mudah tersakiti. Makanya sebagai lelaki aku mesti tahu diri. Hormatilah perempaun. Akupun mengungkapkan cinta cuma pada satu orang. Setelah itu tak kemana-mana lagi. Meskipun sering aku dibuat terpana melihat perempuan lain.

Dalam padanganku sepertinya untuk Sinta ada yang lebih baik. Mungkin aku pun sebenarnya ada perasaan padanya. Tapi perasaan seperti apa. Perasaan adik. Tapi aku sudah lebih dahulu mengungkapkan pada seorang dan dia masih ada di dekatku. Aku tak akan berpaling dulu. Meskipun aku tak punya kepastian apa orang itu menerimanya. Pilihanku tak menginginkan jawaban apapun. Hanya waktu yang akan menjawab.

Aku tak ingin berpaling pada sisa waktu yang kugunakan untuk belajar tentang hidup dan menyelenggarakan cinta. Meski cinta yang didamba selalu membuatku tersiksa, akan kunikmati saja. Mungkin sekarang aku dirundung kecewa, sedih dan nestapa, tapi suatu saat aku yakin aku akan bahagia bersama belahan jiwaku yang kuyakini sekarang sedang menunguku.

Jiwa menunggu jiwa. Titisan jiwa yang menetes. Semoga berakhir bahagia untuk kembali kepada-Nya. Aku sedih, kecewa karena harapan yang tak pasti. Tak ada yang mencintai. Tapi masih kupnya bintang yang masih bersemayam. Aku ingin cinta sejati, bukan cinta yang terkotori oleh celupan nafsu birahi. Jika tak ada yang datang padaku, biarlah aku sendiri saja. Inginku memang begini. Sendiri dan sendiri dalam kesendirian.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori