Oleh: Kyan | 23/03/2006

Bermalam di Rumah Deri

Kamis, 23 Maret 2006

 Bermalam di Rumah Deri

**

Bermalam di rumah orang lain memang sering risih, khawatir memberatkan tuan rumah, dan tamu harus diberinya makan. Tamu yang baik seperti apa, itu yang sedang kupikirkan. Hanya yang kutahu bertamu tak boleh melebihi tiga hari. Sekarang yang ingin aku tahu adalah akhlak tamu. Mungkin cukup dengan melihat tradisinya bagaimana, meskipun bikin aku canggung. Tapi bertamu bisa mengembangkan wawasan, mendapatkan hal-hal baru yang mencengangkan, dan melatih imajinasi dan kreativitas.

Ketika bertamu di keluarga Deri, temen MKS kuperoleh cakrawala pemahamanku dalam Islam. Keluarga dia Persis. Meski Persis dikatakan Puritan, tapi sama tak ada bedanya. Tapi orang sering membikin perbedaan jadi signifikan, padahal tak beda-beda amat. Sangkaanku dulu Persis identik dengan Wahabi. Mungkin Persis sedikit banyak terpengaruhi oleh Wahabi dari segi permusuhannya pada penyakit TBC.

Tapi akupun tidak usah terpancing emosi. Toh penamaan ini dan itu cuma sekedar untuk membedakan saja. Untuk sekedar kategorisasi seperti saya anak Bapak Fulan dan kamu ibunya Fulanah. Perbedaan bukan maksud untuk ajang perselisihan. Tapi memang sering muncul kesalahfahaman antara berkata pisang bagi orang Sunda dan orang Jawa.

Aku mendengar ceramah pak Sidiq Amin, Ketua Umum Persis begitu ilmiah. Tentang kiamat ditinjau dari sains. Memang benar ungkapan pak Harun Nasution bahwa Islam harus dirasionalkan, bukan dibaratkan (westernisasi). Namun bukan berarti Islam harus tunduk pada rasio. Rasionalisasi untuk menghilangkan mitologi yang dimana orang Barat sudah tak percaya pada hal-hal mitos.

Dalam pandangan Naquib al-Attas pun Islamisasi adalah suatu usaha untuk menghilangkan unsur-unsur mitologi yang sudah menjadi kepercayaan dan takhayul. Begitupun pemahamanku tentang syariat dan fiqh. Syariat menurutku adalah metodologi berpikir (wordview), bukan kata benda, yang diam tapi sebuah proses berpikir. Tentang batal tidak bersentuhan laki perempuan itu cuma hukum hasil ijtihad ulama. Tentang benar salahnya kembali pada metodologi dan keautentikannya.

Aku tidak mau terpaku pada fiqh, toh itu kesimpulan manusia. Kalau memang benar tidak boleh bersentuhan, namun kenapa ada ulama besar membolehkannya. Waktu haji saja tak batal, kan ribet kalau setiap bersentuhan harus berwudhu lagi. Menurutku yang jadi titik tekannya adalah pada penjagaan atau pengendalian hawa nafsu.

Kalau memang bersentuhan bakal menimbulkan sahwat, jangan bersentuhan. Tidak bersentuhan saja jiwa kita sering dijangkiti nafsu amarah dan birahi. Apalagi disertai dengan persentuhan fisik. Nafsu amarah adalah pengkoodinasian jasmani kita. Aku tidak ingin bertaklid buta pada pendapat. Meskipun pada dasaarnya manusia hidup di atas pendapat orang lain.

Aku ingin Islam yang kupahami adalah hasil racikan, kontemplasi antara sumber ajarannya, konteksnya dan realitanya pada saat ini. Itulah yang ingin aku benar-benar puas dengan pemahamanku tentang Islam. Islam bukan sekedaar ritual dan produk-produk fiqh hasil kesimpulan para ulama zaman pertengahan, tapi konteks kekinian yang boleh jadi dengan metodologi yang sama akan menghasilkan produk yang berbeda.

*

Sewaktu perjalanan ke Sukabumi. Aku membayangkan suaatu saat nanti aku akan datang ke orang tua calon mertua tanpa sepengetahuan calon istriku. Biar kucari alamatnya sendiri. Sebagai penunjuk arah, cukup peta dan bertanya. Ingin nanti ketika liburan semester. Tapi aku kesana cuma modal nekad doang.

Akhirnya kutorehkan seutas cerita untuknya. Aku ingin menorehkan awan yang menyelimuti dirinya. Supaya dia tetap menjaga auratnya dimanapun berada, kecauli di dalam kamarnya sendirian. Kalau sudah di luar kamar, pasti banyak cowok di sana.

Kalau masih kuliah dan belum punya penghasilan, lantas pakai apa ongkosnya. Tak bisa dipungkiri segalanya memerlukan materi. Tanpa materi cinta tak bisa bereksistensi. Aku mau menunjukkan pada orang tuanya sebagai jaminan bahwa aku bersungguh-sungguh kepadanya.

Kalau sudah berada pasti mereka tenang tentang anaknya. Sudah sepantasnya cinta sebagai spirit kehidupan dan bisa memotivasi, menggerakkan dalam menggapai bintang. Kalau memang benar aku mencintai dan ingin menikahinya, bergeraklah aku, bersemangatlah aku mencari nafkah. Berusaha apa saja, bisnis apa saja, atau jadilah penulis. Aku ingin jadi penulis atau bisnis makanan. Semestinya semua menggerakkan.

Baru hari ini aku ke Sukabumi ke rumah Deri. Namanya kampung Subang Jaya. Aku mendapatkan pengalaman dan suasana baru. Aku diajak makan bandrek di cafe dekat BMT Ibadurrahman, BMT paling terkenal dan maju di Sukabumi.

Suatu saat nanti aku ingin melebarkan sayap bisnisku ke sini. Namun kalau kupikir memang dari keluargaku ada jiwa bisnis yang bisa mengalir. Tapi untuk saat ini ketika aku sedang kuliah aku lebih banyak merenungi hidup dan ingin kesendirian. Ingin lebih banyak menyelami pemikiran-pemikiran orang besar dalam sejarah.

Belajar bisnis kadang tak terpikirkan. Kurang yakin juga menggeluti bisnis. Terpikirkan cuma karena ingin mempertahankan hidup saja. Aku harus meyakinkan diri bahwa mencari nafkah juga bisa mendapatkan pengalaman langsung dari orang-orang. Tapi saat ini aku ingin sendiri saja. Aku bawaannya begitu. Aku bahagia bersama orang lain. Hanya dengan orang-orang tercinta saja diperoleh kebahagiaan.

Namun pernah rasanya aku ingin banyak bergaul. Setiap ketemu orang ingin kusapa dan kukkenal. Pernah menargetkan sehari ingin mendapat teman satu orang. Lewat jalan-jalan atau main kemana saja. Sekarang, malas untuk sapa sana sapa sini, senggol sana senggol sini.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori