Oleh: Kyan | 26/03/2006

Kado Bahagia Memberi Gembira

Ahad, 26 Maret 2006

 Kado Bahagia Memberi Gembira

**

Pikiranku beku lidahku kelu. Ubun-ubunku serasa ditusuk paku. Meskipun perih dan merintih. Dengan tak datang wajah anggunmu dalam sunyiku. Panorama menggamit-gamit waktu. Aku ingin cinta sejatimu. Hanya itu. Karna imanku pada kekuatan cinta.

Dialah cinta sejatiku. Cinta yang hidup hanya sekali seumur hidupnya. Hadirnya dia tak akan tergantikan oleh keindahan apapun. Cinta sejati adalah percikan cinta Tuhan yang merasuk pada makhluk-Nya. Aku ingin belajar mencinta yang sejati. Apakah yang kurasa sekarang ini adalah cinta sejati? Entahlah, namun kuyakini cinta ini adalah sebagaimana orang merasakannya.

*

Kakakku bilang kok makin kurus, makin hitam, dan ada jerawat gede. Memang setahun lebih di Batam membawa perubahan yang signifikan pada tubuhku. Kuakui sewaktu bercermin aku cakep putih dan gak kurus-kurus amat. Namun sekarang karena semkain tua dan makin banyak beban hidup yang harus kutanggung. Aku selalu dirundung duka dan pedih. Tak tahu bagaimana harus ceria dan gembira. Disamping seseorang mungkin aku bisa terbangun keceriaan dan kegembiraan.

Aku pasrah saja karena keadaanku memang begini adanya. Aku hanya menjalani takdir yang terpatri. Jasmani dan jiwa penuh dengan kekalutan dan ketaksabaran. Aku nampak lebih tua dibanding usiaku. Tapi jangan sampai beda sepuluh tahun seperti halnya Gibran. Begitulah jiwa yang penuh beban diman kematian sel perdetiknya lebih cepat dan besar. Setiap detik wajah seseorang berubah dan terus berubah karena kematian terus mengarus pada wajamu.

Perubahan yang tidak terasa, kecuali karena dipandang oleh orang lain. Karena tidak diperhatikan saja, maka seolah-olah tak banyak berubah. Coba kalau gak bertemu seminggu atau sebulan, akan tampak terlihat perubahannya. Manusia pasti selalu berubah karena segalanya tidak diam.

Cinta dan benci, suka dan duka, senang dan bahagia datang silih berganti. Pilihanku hari ini aku bahagia menjalani takdir-ku. Kutetap mempunyai pada genggaman harapan. Aku ingin kuliah di Malaysia dan Amerika, setidaknya itu mimpiku yang terkhayalkan. Kemudian bisa bekerja di Singapore adalah kemestian khayalan.

Tentang pasangan hidup? Aku ingin yang kudamba sekarang itu yang menjadi cinta sejatiku. Jika itu memang cinta sejatiku maka akan kupertahankan. Tapi jika bukan dia, ya harus menerima keperihannya. Untuk membuktikan keseriusanku aku akan datang ke orang tuanya. Tanpa sepengetahuannya. Tapi entah kapan. Tak tahu kenapa ruang hatiku hanya ingin terisi olehnya.

Sangat kuakui kecantikannya semakin pudar. Namun bila ia mencintaiku penuh adanya aku tak akan melihat apa-apanya. Ingin kutitipkan anak-anakku padanya. Aku sudah percaya padanya. Bila ada orang lain melihatku tak serasi itu opini mereka. Toh yang menjalani aku dan dia. Kebahagiaan hanya terpatri padaku dan padanya.

Tapi sampai kapan aku bicara tentang cinta. Setiap goresan selalu kutuliskan derita cinta. Kenapa perasaan ini begitu mengharu biru, merengek-rengek dan mengiba padanya. Kenapa dan kenapa aku selalu terpaut padanya. Aku tak tahu akankah cahayanya terpencar selamanya atau semakin hari semakin pudar. Ia memang keras kepala dan membiarkanku terseok-seok karenanya. Kenapa hari-hariku makin tersiksa saja.

Mungkin dia juga sangat mengharap pada yang lebih dariku. Karena apa yang bisa diharapkan dariku selain kesusahan dan kecemasan. Tapi aku bisa pergi ke bulan menuju langit semesta untuk memetik pendaran cahaya bintang. Aku punya bintang yang bisa kusuguhkan padanya. Bila dia memberi rasa percaya.

Lantas aku harus bersabar sampai kapan. Yang penting saat ini aku selalu punya harapan untuk menjemput matahariku. Aku ingin menggenggam cinta sejatiku untuk kupersembahkan. Aku tak tahu apakah dia cinta sejatiku, tapi jelaslah ini sepercik pencarian. Bahwa aku sedang belajar untuk menjadi pencinta sejati. Biarlah waktu yang bisa melerainya. Semakin hari semakin merindu padanya.

Hari ini harus kutahan gejolaknya. Berpuasa adalah menahan dan pembatasan. Hari ini hendak berpuasa lagi, tak jadi. Gara-gara ke Sukabumi dan Garut, karena banyak makan berpuasa Dawud belum diteruskan. Akan kumulai lagi segera. Karena makin terasa efeknya. Selain menghemat dan jatah makan bisa kubelikan pada buku-buku.

Kucukupi makan toh tetap saja badanku tidak gemuk. Memang perempuan selalu melihat fisik. Setiap kali perempuan memberi perhatianpun, malah bilang banyak makan donk. Kuingin mereka melihatku karena intelektualitasnya, karena keteguhannya. Meski mereka mengakui kalau obrolannya nyambung dan merasa ada solusi dari setiap masalahnya. Terdapat kecendrungan itulah yang didamba.

Aku bisa jadi diriku saja. Kenapa aku selalu terkungkung pada masalah perempuan. Harusnya aku merefleksikan keadaan lingkungan. Kadang aku ingin sendirian. Kedatangan temen-temen jika keseringan muncul juga kerisihan. Mestinya harus tahu kapan jam bertamu. Aku tak mau diperlakukan begitu, orang lain pun sama.

Seperti saat ini saatnya aku mau tidur, tapi karena tanggung ingin menulis dulu eh datang Soni yang cuma sekedar ingin mengobrol gak karuan. Bukan tidak senang dengan kedatangan tamu, tapi mesti tahu waktu dan menghargai waktu. Kadang aku pusing sendiri karena tak tega kalau ngomong langsung. Lebih baik kudiam saja. Lebih baik bersabar saja atas semua perlakuan.

Memang setiap perbuatan kita secara tak sengaja dapat menyinggung perasaan orang. Mulut harus dijaga dan ketika bicara pun harus tenang dan bermanfaat. Bicaraku selalu tegang. Buatlah rileks toh akan baik-baik saja selalu.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori