Oleh: Kyan | 28/03/2006

Memilih Cinta, Cinta Itu Pilihan

Selasa, 28 Maret 2006

 Memilih Cinta, Cinta Itu Pilihan

**

Cinta tak bisa menunggu. Ketika terselami lautan cinta lebih baik deklarasikan segera. Deklarasikanlah! Dan aku bahagia dan bangga bisa mengatakan cinta. Meskipun jawabannya adalah ketidakpastian. Karena bila engkau merasakan kepastian jawaban, namun itu hanya sebentar saja. Karena selanjutnya adalah pencarian. Hidup adalah pencarian.

Ungkapan itu mungkin sekedar luapan sesaat saja. Perempuan yang pernah aku kagumi sampai sekarang, masih ingin berhubungan. Tak melupakan begitu saja. Dan perempuan yang sekarang sedang kudamba, betapa sulitnya untuk memberi secercah harapan. Aku dibuatnya bingung diantara berbagai pilihan. Salahku tak menginginkan jawaban.

Jikapun menginginkan jawaban, pasti akan dijawab tidak. Namun aku mengingkanmu, sayang. Aku ingin didekap dengan tangan halusmu, dengan mesramu. Tapi jika tak ingin semuanya, biarlah cinta mematri keyakinan yang kian mendalam. Sebenarnya kamu mencintaiku, sayang. Apakah aku berkhayal. Aku makin sedih saja. Sampai ketika ingin berpaling darimu, begitu susahnya. Karena aku tak ingin menyakiti perempuan.

Perempuan adalah ibuuku. Makanya ketika ada perempuan yang berharap dan akupun berharap. Karena bila aku diam saja dan aku terlupa bahwa hati bisa bolak-balik. Akhirnya perempuan itu jadi milik orang lain. Aku kecewa dan kuakui ini salahku. Karena aku tidak melakukan apa-apa dan bertindak apa-apa dalam menjaga. Ia bilang cinta tak bisa menunggu dan ditunggu.

Sekarang biarlah aku sendiri saja. Akan kufokuskan pada perbaikan diriku. Aku ingin belajar di UIN SGD BDG dengan seserius-seriusnya. Cinta hanyalah bumbu-bumbu yang membuat orang terkadang mampu menggapai langit kadang tersiksa dan masuk lumpur kenistaan.

*

Kadang aku berpikir buat apa membeli buku-buku. Dibaca namun tak dimengerti sepenuhnya dan tak menghasilkan imaji-imaji baru yang menggugah serta tak mampu menggerakkan orang-orang. Mungkinkah lebih baik uangnya ditabungkan untuk melanjutkan studi. Tapi jika uang disimpan biasanya bakal habis sendiri tak karuan dan bekasnya tak terlihat secara fisik dan metafisik.

Aku membeli buku jikapun tidak dibaca olehku, tapi sangat mungkin bisa dibaca orang lain dan bisa menggerakkan orang. Semoga saja pahalanya sampai padaku. Aku hanya ingin ada yang bisa kuperembahkan pada orang lain. Yang aku bisa saat ini ya meminjamkan buku.

Aku selalu khawatir untuk dapat melanjutkan studi. Karena itu katanya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bila uangku digunakan untuk modal, lantas memulai usaha apa. Mungkin dengan membeli buku aku bisa menulis. Lewat menulis aku akan mendapatkan royalti. Semakin banyak buku semakin banyak ide-ide yang bergelayut di otakku. Aku yakin dengan langkahku.

Aku senang bakal ada mading MKS. Jika ada tempatnya aku bisa menulis apa saja tentang ide-ide brilianku. Jika aku semakin sering latihan menulis, Insyaallah aku bakal menjadi penulis produktif. Akan kutekadkan aku harus jadi penulis hebat. Langkah yang baru kulakukan baru sebatas banyak membaca.

Lalu kini sudah dua tahun aku menulis catatan harian. Aku belajar menulis yang mengalir itu bagaimana, yang menggugah, yang enak dibaca dan memberi pengertian. Tentunya akan banyak dibaca orang jika aku menuliskan kejujuran dan membantu meyakinkan. Jika pikiranku dikagumi, akan terus ditelusuri dan dicari-cari serta diikuti perkembangannya.

Jika tulisanku dicari-cari dengan sendirinya finansial akan datang. Royalti menulis besarnya bisa melebihi gaji presiden dan hidupnya pun bebas tidak tertekan oleh siapapun. Dia berdiri di atas pemikirannya sendiri, bukan sekedar bersandar pendapat atau opini orang. Bila telah menemukan jalan dan profesi sendiri, niscaya hidup akan tenang. Meskipun secara kasat mata ia menderita atau tersiksa oleh para otoriter yang merasa dirinya paling benar.

Jadi penulis, berkesempatan bisa mendapat keuangan yang cukup, bahkan bisa kaya raya. Tergantung kualitas tulisan kita. Lagian bila berdedikasi pada kebenaran, kenapa mesti takut miskin. Yang penting kebahagiaan didapat dengan jalan kejujuran. Ia bisa mendengarkan nuraninya dan menyebarkannya.

Lagian miskin di dunia hanya sementara. Janganlah sampai miskin di akhirat menimpaku. Aku harus siap miskin demi memilih jalan yang benar. Tapi kenapa harus memilih miskin kalau bisa kaya dengan jalan yang benar. Tapi kusadari sekarang aku harus siap hidup terasing, untuk berpihak pada kebenaran.

Kebenaran bisa saja dianggap sebuah kegilaan dan kenormalan bisa dianggap racun. Sebenarnya orang gila ialah hanya terbuai oleh pemikirannya sendiri. Menurutku orang gila itu adalah orang yang paling mampu berkonsentrasi tinggi pada renungannya. Apakah aku siap dikatakan gila oleh kumpulan orang-orang gila?

Mengharap kebahagiaan dari seorang perempuan hanya sesaat. Tak lama akan terganti oleh kekecewaan. Itupun kalau dapat, kebanyakan penderitaan demi penderitaan akan datang bertubi-tubi. Perempuan kadang munafik, lakai-laki pun begitu. Laki-laki dan perempuan adalah makhluk berbeda yang keberadaannya harus saling melengkapi.

Kuanggap bahwa perjuangan gender itu hanyalah perjuangan untuk mendapat hak yang sama. Selama ini laki-laki sudah bersikap otoriter pada perempuan. Wajarlah akhirnya mereka memberontak. Namun kadang terlihat arogan, berlebih-lebihan. Beginilah hidup di budaya patriarki.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori