Oleh: Kyan | 30/03/2006

Kodrat Mencapai Moksa

Kamis, 30 Maret 2006

 Kodrat Mencapai Moksa

**

Kenapa sih aku dibuatnya marah karena harus mengerjakan laporan pertanggungjawaban OPM. Kalau aku kecapean selalu inginku marah-marah tanpa kejelasan objek yang menjadi tempat amarahku. Ada teman datang, kadang aku tak suka dengan kedatangannya. Mestinya datangnya tamu adalah sebuah kemuliaan. Tapi kalau keseringan didatangi ada suka pusing sendiri.

Rumah yang bagus adalah rumah yang sering didatangi tamu. Karena itu menandakan penghuninya dibutuhkan. Dengan keberadaanku mereka menemukan solusi masalahnya. Begitupun dengan keberadaan mereka suatu ketika bisa diminta pertolongan. Karena semua saling memberi menerima, bersabarlah ketika harus direpotkan.

Agar aku bisa berbuat banyak pada orang lain, aku harus mempunyai sesuatu yang bisa diberikan. Aku ingin jadi orang kaya untuk tak dapat merepotkan dan melempangkan jalan bagi orang-orang. Namun kenapa aku malas untuk memulai usaha. Kadang kuberpikir aku tak berhasrat membuat usaha. Tapi aku yakin jiwa usahaku mengalir dalam darahku. Usaha jika sekedar untuk pengumpulan kekayaan pribadi atau penumpukan harta buat apa. Aku ingin membuat usaha yang bisa memberikan berkah.

Ingin kujalani bidang usaha dimana aku dan pihak lain keduanya tak merasa dirugikan. Sementara orang-rang Kapitalis tanpa tedeng aling-aling mengeruk kekayaan tanpa mempertimbangkan keharmonisan alam. Memang alam diciptakan untuk keberadaannya manusia, katanya. Tapi tidak bisa seenaknya tanpa memberikan sisa untuk anak cucu masa depan.

Tapi bukankah manusia itu harus bebas. Ya bebas dalam lingkup nilai-nilai memanfaatkan segala-galanya. Karena kalau begitu ditahan-tahan sama saja dengan keterkungkungan. Mungkin pandangan terhadap nilai yang harus dirubah. Bukan semata pengekang, namun harus dipandang sebagai rambu-rambu penunjuk arah. Untuk semua sampai pada kebahagiaan hakiki. Semua sangat bergantung pada paradigma pola pandang.

Begitupun dengan pengorbanan untuk cinta. Kepada cinta bukanlah berkorban atau memberikan dengan percuma, tapi pengabdian dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Berkorbanlah untuk cinta. Untuk hati seorang perempuan yang entah bagaimana perasaannya.

Meski engkau tak merasa ada kepastian, namun dia pun adalah manusia. Tentu siapapun termasuk perempuan itu tidak akan menyakiti laki-laki yang begitu cinta dan sayang padanya. Bila mencintai dengan sepenuh hati, niscaya akan ada jawaban suatu ketika dengan memberi yang tak luntur oleh waktu. Selalu akan terbalas dengan sempurna pada akhirnya. Janganlah takut mencintai dan memberi cinta.

*

Tanggal duapuluh November Sinta ulang tahun. Sebagai kakak yang baik dan penuh cinta pada adiknya mesti memberi sesuatu yang bisa menggembirakannya. Bulan April aku mau belajar membuat kue. Setelah lulus kuliah diploma apakah aku mesti ke Pare Kediri untuk belajar bahasa Inggris. Mungkin setelah tamat sarjana baru aku kesana. Aku ingin studi ke luar negeri dan bekerja di Singapore.

Katanya disana mau dibangun pusat ekonomi syariah Asia Tenggara. Jalannya mungkin bisa dari Batam. Lalu bagaimana dengan calon istriku, bila ia tinggal di Bandung apakah siap diajak berkomitmen. Supaya aku gak berpaling lagi pada perempuan lain. Aku harus ingat bahwa aku ingin jadi pencinta sejati. Belajarlah untuk mencintai dan memberi tanpa mengharap. Meskipun itu berat dan perih tak terperi. Niscaya di akhirnya akan mendapat sesuatu yang sempurna.

Kuperoleh kiriman uang agak lumayan dibanding sebelumnya. Aku ingin membeli baju dan celana. Tapi kupikir apakah akan lebih baik dibelikan buku. Tapi buku di perpustakaan kampus pun banyak dan bagus-bagus. Bila dibelikan pakaian aku bakalan lebih rapi. Pakaianku sudah cukup gak sih. Kalau dimulai lagi membeli pakaian nanti suka keterusan ingin lagi membeli. Paling yang kubutuhkan adalah jaket dan celana jeans satu. Itu cukup sudah tak ada tambahan lagi.

Nanti juga kalau sudah kerja bisa membeli pakaian lebih banyak lagi. Terpenting sekarang adalah membentuk pola pikir yang benar dan semangat intelektual yang mumpuni. Tapi aku tak mendapat apa-apa dari semua ini selain kegamangan. Semuanya hanyalah kodratnya yang membuatku binal.

Aku bahagia bisa bercengkrama dengan sobat-sobatku yang manis. Semangat memberi hal apa saja gak boleh terlerai dalam jejak langkahku. Meskipun pahit perih dan pedih tapi aku bakal menjadi yang sempurna. Dalam segala hal ada yang harus dikorbankan. Kini aku harus fokus dan berhasil dalam studi. Aku harus belajar dengan baik. Semangat berkorban terus berkobar dan tak boleh pudar. Jangan terlalu banyak menghitung-hitung akhirnya menuai kesesalan. Waktu tak bisa diputar kembali dan berkorbanlah untuk apa saja dan siapa saja.

*

Segeralah aku mandi untuk kubasuh lelah dan memberi semangat. Nanti jam delapan MKS mau main bola tapi aku tak datang karena pergi ke Palasari. Mau mencari buku novel Emak-nya Dawoed Yoesoef tak kudapatkan. Novel Kitab Salahuddin-nya Tariq Ali pun tak jadi kubeli karena diskonnya duapuluhlima persen. Di tempat lain bisa kuperoleh diskon tigapuluhpersen. Lalu mau membeli Rekonstruksi Pemikiran Islam-nya Muhammad Iqbal pun tak ada. Padahal sebulan lalu masih ada di BBC.

Akhirnya aku memborong buku-buku. Kubeli buku kuliah Perpajakan, Mencari Allah-nya Gede H. Cahyana, Membangun Surga-nya Achmad Chodjim, Yesus Anak Manusia-nya Kahlil Gibran, Jadi Penulis TOP BGT-nya Arul Khan, novel Kepundan-nya Syafril Erman, dan Ahmad Wahib dan pergulatan-nya Aba Du Wahid. Semuanya telah merogoh kocek sebesar seratus tujuhpuluhribu.

Banyak sekali aku membeli buku. Semua buku harus selesai kubaca dalam sebulan. Karena nanti tugas kuliah sudah berjibul. Aku harus pandai membagi waktu antara menekuni minat dan tugas. Kegiatan membaca dan menulis setiap hari harus disediakan, meski sebentar tapi istikomah terus dijalani. Belajar bahasa Inggris pun setiap harinya harus tersedia waktunya.

Tapi karena banyak aktivitas dan bisa-bisa memusingkan kadang tak dapat kulakukan semuanya. Makanya agenda mesti ditulis dalam jadwal. Jadwal setiap harinya harus dibuat. Terasa pusing sendiri dan lupa kalau tak dibuat agenda yang tertulis. Mengandalkan otak saja suka membikin ribet. Otak lebih baik untuk mengingat hal-hal lain yang lebih penting saja dan lainnya dicatat.

Mampir ke Plasa membeli Mekanik Tape dan Solder seharga duapuluh limaribu. Sampai kosan kucoba dipasang, tapi tetap tak bagus. Sudah merasa sisa-sia membeli sesuatu. Aku mesti baik lagi ke sana untuk kutukarkan. Selain boros uang juga menghabiskan waktu karena mengutak-atik tape. Sampai jam lima sore aku sudahi saja kesibukan membongkar tape bututnya. Lebih baik aku menyampul buku sampai tiba adzan Maghrib.

Tak lama kemudian Deri dan Dian datang. Katanya mau ada ceramah Kang Ibing di Cilengkrang. Aku menolak ajakannya karena mau cucianku sejak pagi belum kubilas dan dijemur. Sementara Dian mau mengikuti pengajian yang katanya di Gedebage. Ingin tahu tempat pengajiannya seperti apa. Tapi ada agenda yang harus kukerjakan. Mencuci baju kalau dibesokkan menimbulkan bau menyengat dan merusak pakaian.

Begitu padat kegiatanku. Kuliah Sabtu ada dua tugas yang harus dikumpulkan. Satu sudah beres dan satu lagi masih bingung. Ternyata bukan aku saja yang bingung. Teman-teman lain pun dibuatnya bingung. Semua sama-sama bingung. Aku yang menjadi gila mungkin suatu saat mereka pun akan gila.

Kodrat manusia sama. Manusia mati untuk menggapai Moksa, mencapai Nirwana, atau kembali kepada-Nya. Surga hanyalah persinggahan semata, sebuah iming-iming motivasi bagi anak kecil untuk melakukan satu perjalanan. Sedangkan neraka sebagai ancaman agar manusia tetap pada kodratnya dalam menggapai ruh dengan memakmurkan bumi.

Islam menurunkan sebuah sistem agar kemakmuran bumi tercapai. Semua manusia dan makhluk lainnya dapat merasakan eksistensinya. Sama-sama memperoleh makan, minum, berpakaian, dan menggunakan akalnya untuk sampai pada-Nya. Islam sebagai rahmatal lil ‘alamin. Hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani seperti pembunuhan, penghalalan darah, tanpa rancangan dan semacamnya bukanlah Islam.

Dalam buku Achmad Chodjim, katanya reinkarnasi ada dalilnya dalam Alquran. Berarti jiwa dalam diriku adalah jiwa yang hidup pada masa lalu. Jiwa yang belum sempurna, ketika raganya mati lalu merasuk kembali membentuk struktur jiwaku dan jiwa-jiwa yang bersarang di tubuh manusia hidup.

Karena jiwa merasuk itu belum bisa sampai kepada-Nya, belum bisa menggapai nirwana, belum mencapai moksa, akhirnya ia dibawa terlahir kembali menempati raga yang baru lahir. Menempati bayi-bayi yang akan keluar dari rahim ibunya, yang terbentuk dari pembuahan sperma oleh ovum, dimana keduanya terbentuk karena makanan manusia yang ditanam di unsur hara.

Jadi sekarang percaya tidak percaya dengan reinkarnasi. Membaca karya beliau mendapatkan hal-hal baru yang aku belum tahu. Katanya ketidaktahuan harus dipelihara untuk tetap semangat terus mencari. Mencari dan terus mencari sampai dapat seutuhnya bangunan ilmu dari kompleksitas keilmuan ilmu-ilmu Tuhan.

Jadinya kalau melihat buku menarik, ingin membacanya untuk menguak keingintahuanku. Jadi bawaannya ingin membeli buku terus sampai menghabiskan uang. Lalu apa bedanya dengan pemborosan? Pemborosan itu kalau untuk maksiat dan penganiayaan terhadap orang lain, sedangkan mengeluarkan uang sebesar apapun untuk jalannya kebaikan bukanlah permborosan. Setiaknya begitu menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilal Alquran. Meski memang harus ada prioritas mana yang harus didahulukan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori