Oleh: Kyan | 03/04/2006

Hari Pernikahan Diah Dwi Lestari

Senin, 03 April 2006

Hari Pernikahan Diah Dwi Lestari

**

Hari ini temanku di MKS ada yang menikah. Diah Dwi Lestari. Ia orangnya selain cantik juga baik. Aku pernah diajak oleh Dian main ke rumahnya dan aku diperkenalkan pada cerita-cerita dia ketika nyantri di Al-Mawaddah Gontor. Di MKS dia kesohor bisa bercuap-cuap dua bahasa, Inggris dan Arab. Mereka yang menikah keduanya masih sama-sama kuliah. Cowoknya semester delapan dan kuliah di dua universitas UIN dan Unpad.

Pengantin lelakinya sudah bekerja di PLN. Keluarganya berada karena aku melihat dalam cendramata dan tertera dalam surat undangannya kedua orang tuanya sudah bergelar haji dan hajjah. Pantesan saja Diah dan keluarga menerima pinangannya. Meskpun begitu, Diah pernah bilang dulu pada kami. Katanya dia tak begitu mencintainya, namun kian lama karena dia begitu banyak berkorban untuknya, maka munculah rasa sayang.

Meski dikatakan itu bukan cinta, tapi karena kasihan. Entahlah karena ini semata pencarian. Dan betapa baiknya dia, akhirnya rasa cinta dan sayang muncul juga sampai akhirnya hari ini mereka menikah. Betapa bahagia aku ikut merasa apa yang menjadi perasaannya. Semoga ia menjadi keluarga yang penuh harapan, menjadi rumah sandaran saat-saat keduanya mengalami kelelahan dan kerapuhan penghidupan.

Reza yang mengajakku ke acara resepsinya. Kepada acara kebahagiaannya aku hanya bisa menyumbang sepuluhribu  untuk menaburkan percikan alakadarnya. Batas keikhlasanku baru mampu segitu adanya. Memang semangat memberi yang selalu aku gembor-gemborkan, namun kadang susah juga untuk direalisasikan.

Hanya aku berbuat semampunya, baik sekedar berkata-kata atau tindakan. Berkata-kata ideal untuk adil sejak dalam pikiran. Memang dalam meramu konsep semua orang pun bisa dan tahu. Karena dasarnya ilmu bergantung kita menyalakan dan mengaplikasikan dalam perbuatan dalam transpormasi wujud kediriannya.

*

Dan syukur alhamdulillah, tapeku bisa jalan lagi. Tapi mekaniknya gak bisa dipasang lagi. Terpaksa ditempel di luar. Ah yang penting jalan. Sudah bagus tak mau mengutak-atik lagi yang terus menggerus waktu luangku. Jangan ada kebiasaan lagi setiap kali ada kelemahan sedikit atau kerusakan langsung kubongkar. Kenapa tak dibuang saja dan ditinggalkan bila itu terus mengganggu.

Tapi apakah terus mengutak-atik itu bukankah itu tanda kreatif. Sebagai pribadi yang tak sabar ingin menemukan cara supaya barang kepunyaan menjadi bagus lagi. Memcoba-coba seperlunya memang diperlukan, tapi jangan diambil pusing. Namanya benda akan cepat atau lambat pasti bakal rusak dan punah.

Sifat makhluk dari tiada menjadi ada, lalu menjadi tiada lagi adalah hukumnya. Terpenting keberadaan apapun mesti membuat manusia menyadari keberadaannya, mengembangkan kreativitasnya untuk memberdayakan dirinya. Lantas tanda keberdayaanku apa. Aku sering dibuat tak berdaya jika dilanda cinta buta.

Seperti akhir-akhir ini aku jatuh hati padanya. Dan sampai saat ini perempuan yang mengisi lokus hatiku itu dirasakan belum dan tak akan tergantikan oleh selainnya. Hanya waktu yang bisa mengungkap semua dari kegilaanku ini. Aku tahu cintaku padanya begitu menggebu, meski sangat melelahkan. Aku tak ingin berpaling darinya. Tapi sampai kapan aku terus meratapi demi mengharap obat hati yang terkoyak ini.

Padahal bila kupikirkan aku ingin mendapat perempuan selain salehah juga cantik juga kaya dan dari keturunan baik. Empat hal yang menyatu pada satu diri perempuan tercinta. Sulit dan sangat sulit atau bahkan mudah mendapatkannya mulakan dengan berikhtiar perbaikan diri. Meski selalu ada hal-hal yang kurang dari kepribadian seorang pasangan, tapi justru karena kekurangan yang disadari itulah pasangan itu kita nikahi. Begitu nasihatnya suatu kali.

Lantas siapa yang pantas mendapatkan cintanya. Lantas siapa yang tak ingin menjadi mahasiswa ideal seperti yang ia banggakan. Dengan nilai akademik bagus, aktif di organisasi, dan sudah punya penghasilan sendiri. Ia berjiwa kritis tanpa takut pada siapapun. Nilai-nilai idealnya ia tuangkan ke berbagai tulisan. Aktif di masjid dan jadi guru privat di tengah-tengah berjubel kegiatan kampus dan lainnya. Dengan lelaki semacam itu, perempuan mana yang tak terpana melihatnya dan tak ingin menjemput penantiannya. Begitu indah seorang yang diidealkan.

Dikala aku saat bersama dengannya, betapa utuh dan bermaknanya jiwa. Muncul rasa sensasi dingin dan kesenyapan. Dulu yang kekosongan dan kegersangan meranggas, ketika dapat duduk disisimu, manisku kurasa aku seperti sudah mencapai moksa. Dalam rengkuhanmu, dalam riang gembira yang kau suasanakan telah menyemburkan keceriaan semesta raya dan meluapkan senjakala.

Kekasih, aku ingin terus disampingkmu manis. Kita bersama menatap cakrawala menunggu senja. Aku ingin dalam rengkuh dan pelukmu, manisku. Lebih baik mati bila tak dapat bersamamu selamanya. Aku ingin kamu dan cintamu yang sempurna sekuncup bunga. Engkaulah yang pantas untuk lelaki yang ideal itu.

Sedangkan aku prestasiku meskipun lumayan di bidang akademik, tapi itu hanyalah kamuflase. Sejujurnya aku belum bisa dan tak tahu apa-apa. Aku tak aktif di masjid kampus, tak aktif dan tak pernah belajar di organisasi himpunan kecuali hanya mengikut kerumunan. Tidak berandil dalam transfer ilmu lewat kursus privat ke generasi yang muda tidak juga kulakukan. Begitupun belum bisa menuangkan gagasan yang orisinil menjadi sebuah tulisan enak dibaca orang-orang pun masih sebatas khayalan.

Lantas aku bisa apa. Naik kendaraan saja tak bisa. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak punya apa-apa. Maka dari itu, jangan mengharapkan apa-apa pada siapa yang ingin bersamaku. Meskipun begitu aku masih punya bintang yang akan selalu menari-nari untuk kujemput harapanku. Karenanya aku sedang mencoba belajar dan belajar. Membaca terus membaca meskipun kadang tak tahu apa yang kubaca. Aku selalu tak ingin diam saja.

Sampai saat ini tak tahu apa yang sudah kuhasilkan. Aku mencoba belajar menulis. Kumulai dari menulis catatan harian ini. Tekad diri aku ingin jadi penulis saja. Apa aku pas di posisi itu. Aktifitas berwirausaha sejak dulu pernah kucoba. Namun sekarang kecendrungannya mengembara pada rimba belantara intelektual. Pengembaraan intelektual tak kunjung henti sampai akhirnya melupakan hal-hal yang pragmatis, seperti mencari makan dengan penghasilan sendiri dan menabung untuk masa depan.

Seperti yang dialami Ahmad Wahib. Ia mengatakan ingin terus mengembara namun bagaimana dengan pengabdiannya pada keluarga dan menikah. Begitupun aku sampai kapan bergantung pada ibuku dalam soal finansial. Perempuan mana yang hanya cukup dengan berkata-kata idela. Meski kecukupan materi tak selalu membaga kebahagiaan.

Apakah sudah lupa pada kesadaran mencari kebutuhan materi? Semoga saja dengan pengembaraan intelektualku bisa mencukupi hal-hal serba materi. Aku ingin punya penghasilan sendiri dengan menjadi penulis saja bukanlah sebuah kenistaan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori