Oleh: Kyan | 06/04/2006

Menjadi Penjual Brownies

Kamis, 06 April 2006

Menjadi Penjual Brownies

**

Malam hari ini barusan aku baru pulang main dari kosan Sinta Fujianti. Ia adik manisku, adik kelas kampusku. Kedatanganku ke kosannya dalam rangka keperluan menanyakan nomor telepon Ulfa, teman sekelasnya. Aku mau menitip dibelikan Brownies Amanda, karena katanya dekat dari rumahnya. Pulangnya ke kosan Liza mengantarkan wadah Brownies. Dia menitipkan Brownies di tempat kosanku. Katanya barangkali saja lumayan karena sering banyak orang di tempatku. Aku sudah menjadi penjual brownies dan bergelut dalam perbukuan.

Tapi karena ada semengat ingin bisnis, akhir-akhir ini aku merasa mengerjakan tugas kuliah gak optimal. Hanya yang penting mengumpulkan tugas dan gugurlah kewajiban. Tidak menampilkan yang terbaik dengan mengembangkan bahasan makalah yang ditugaskan. Seperti tugas Manajemen Kredit karena tugas kelompok, penyusunan makalahnya dihandel Uly Ajnihatin dengan kawan-kawan. Aku mesti bilang terimakasih pada mereka.

Tapi kusadari dari tugas semacam itu lantas aku kurang begitu mendapat apa-apa. Tak dapat kukenang keletihan ketika mengerjakannya, yang justru disitulah ada sebuah momen begitu tugas selesai dikumpulkan muncul rasa kepuasan. Momen yang memberi pengalaman sebuah proses kesungguhan dan kebersamaan. Meski pengalaman itu memerlukan pengorbanan yang ujung-ujungnya duit.

Saat pagi-pagi mau mengedit tugas Manajemen Kredit, tapi apa dan bagaimana aku merevisinya. Karena aku tidak terjun ke lapangan dalam pembuatas tugas ini. Tapi biarlah apa adanya mengumpulkan tugas. Tugas lain sudah menanti untuk segera diselesaikan. Matakuliah Manajemen Haji mesti membuat artikel, Auditing membuat flowchart, Manajemen Keuangan membuat proposal usaha.

Banyak sekali tugas yang harus kukerjakan. Apakah aku mampu mengerjakan semuanya. Pasti aku mampu dan harus dimampukan menyelesaikannya. Sekarang fokus pada penyelesaian tugas, setelah kemarin-kemarin disibukkan membaca buku-buku yang sudah kubeli. Sayang kan sudah dibeli, tak dibaca sampai tamat. Jangan sampai lebih senang membaca buku dibandingkan mengerjakan tugas. Keduanya sama penting dan harus kukerjkaan. Kebetulan dengan tugas Manajemen Haji, sekarang aku harus belajar menulis artikel, resensi dan jenis tulisan lainnya.

Aku disuruh membuat surat izin minta tempat untuk mading info jurusan. Aku harus mengoptimalkannya. Kalau aku bisa menulis resensi, nanti bisa dapat buku gratis. Untuk mendapat buku secara gratis harus pandai menulis artikel dan resensi buku. Waktu SMU pernah belajar menulis resensi tapi cuma gitu-gitu saja. Tanpa dibahas lebih lanjut.

Waktu antara membaca buku dan mengerjakan tugas kuliah sepertinya waktunya tak cukup. Apalagi harus ditambah agenda lain. Aku ingin bekerja untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Pekerjaan yang memungkinkan mendapatkan penghasilan tanpa menggangu agenda utama ya lewat menulis.

Ya Allah, berilah kemudahan padaku untuk bisa menulis. Tunjukkan jalannya bagaimana mempunyai kemahiran berbahasa. Bila itu jalan rezekiku maka permudahlah, dan bila bukan jalanku tunjukkanlah utuk mencapai jalan rezekiku. Aku tak mau terus disuplai bekal dari ibuku. Aku ingin mendapatkan penghasilan sendiri. Atas izin Engkau ya Allah, perkenankanlah! Aku sampai bisa mengoleksi buku, memiliki perpustakaan pribadi semua karena uang lebih banyak dari ibuku. Buatlah buku-buku ini bermanfaat menjadi ilmu dan menggerakkan pikiranku dan pikiran orang lain.

Harus dari mana aku bisa menulis? Aku tidak akan patah semangat. Akan kubeli buku-buku bagaimana cara menulis. Tapi buku-buku tersebut mesti karya para penulis profesioal. Bukan sekedar tulisan orang yang membuat buku cuma ingin memperoleh penghasilan lewat buku yang terjual. Bukan buku asal-asalan.

Belajar menulis katanya luangkan waktu untuk konsentrasi menulis. Aku ingin mencoba mendaftar sekolah menulis di Mizan Learning Center, MLC. Kapan dibuka kembali pendaftarannya. Aku harus segera mencari informasi terbaru di website-nya. Aku harus terus berusaha untuk menggapai bintang di langit.

Suatu saat nanti aku membuat ‘Ayasophia Café Buku’ bisa terwujud. Tugas matakuliah Auditing dan Manajemen Keuangan bisa mengantarkan pada rancangan mewujudkan cita-cita mendirikan Ayasophia Cafe Buku. Jadi aku bisa merencanakannya dengan matang, sehingga mengerjakan tugasnya pun adalah kesenangan tersendiri.

Pak Yudi, dosen Asuransi dan Bu Euis, dosen Manajemen Keuangan sering memotivasi kami apa yang sebaiknya dikerjakan setelah lulus nanti. Mereka bertanya pada kami sudahkah belum dikerjakan dari sekarang. Dalam berwirausaha siklus usaha biasanya pasti mengalami kegagalan dulu, mengalami Decline dulu, baru bangkit dan meningkat lagi. Sebaiknya melewati fase kegagalan cukup saat kuliah dan bangkit meningkatnya setelah lulus kuliah.

Maka rencanaku harus kumulai dari sekarang. Tentang perbukuan aku sudah meminjamkan koleksi pribadiku untuk membangun imej dan jaringan. Unit Cafe-nya hari ini kumulai dengan menjual brownies. Aku sudah bisa menjual kue dua wadah sehari. Untungnya cuma duaribu, alhamdulillah. Tapi lebih besar adalah kudapatkan pelajaran dari usaha makanan. Bisnis makanan untungya sedikit, tapi perputaran uangnya cepat.

Suatu saat nanti, aku harus bisa memproduksi sendiri. Aku mau berjualan susu. Biasanya yang namanay Café tersedia apa saja aku bisa survei ke Cafe-Cafe di Bandung. Biasanya selain tempat nongkrong atau pertemuan sambil menikmati jenis makanan dan minuman ringan, di Dipatiukur ada Café dengan paduan sewa buku. Aku harus studi banding ke Café disana.

Mengerjakan tugas Haji pun adalah kesenangan sendiri. Karena dari sana aku belajar menulis yang baik. Semuanya kukerjakan dengan penuh kesenangan. Biasanya keterpaksaaan datang hanya ketika waktu untuk menyelesaikannya seperti tak cukup. Makanya ngedumel pada dosen, kenapa sih memberi tugas dengan waktu mepet.

Tahun 2006 ini aku harus bisa mengambil jalan rezeki sendiri. Lewat menulis dan menjual makanan. Penghasilan di tahun 2005 sudah kuperoleh pengalaman dari jasa pengetikan dan print tugas. Semuanya untuk menghidupiku yang ingin mandiri. Buat membeli makan jasmani dan rohaniku. Namun hidup bukan itu tujuan utamanya. Kita makan hanya sekedar menunda kematian.

Dan kematian pasti akan datang. Lalu bekal untuk menuju-Nya apa sudah disiapkan. Aku berbuat yang menurutku benar dan mampu saja. Kemarin adalah bentuk kehidupan lain selain kehidupan ini. Aku harus memperdayakan diriku agar bisa bermanfaat bagi kehidupan sebagaimana kumampu. Kadang aku ngiri pada yang lain atas keberhasilannya. Tapi semuanya harus menjadi energi positif bagiku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori