Oleh: Kyan | 10/04/2006

Kenangan Kepada Kepala Sekolah SMP

Senin, 10 April 2006

Kenangan Kepada Kepala Sekolah SMP

**

Membuat proposal studi kelayakan usaha, tugas matakuliah Manajemen Keuangan 80 persen sudah selesai. Esok dan lusa hari akan kukonsentrasikan mengerjakan tugas Manajemen Haji. Meskipun itu tugas kelompok akan kukerjakan sendiri dulu. Biasanya juga dikerjakan sendiri, biar mereka pada bayar dan aku mendapatkan uang. Mengerjakan sendiri untukku bisa belajar menulis. Tapi urusan membantu atau tidak mereka menyelesaikan tugas kelompok itu urusan mereka. Yang penting aku optimal dalam memberdayakan diriku sendiri.

Berjualan Brownies penghabisan dibeli Asun. Sekarang dia dan Robbi lagi nonton film Harry Potter. Buku, Cafe, dan Rental, tiga divisi usaha Ayasophia mulai sekarang harus beroperasi. Café sudah mulai dari berjualan Brownies. Tapi aku belum mencoba berjualan buku, baru peminjaman buku. Tapi sudah kudapatkan pengalaman selama satu setenah tahun bekerja di toko buku Gramedia. Saat nanti aku mau mencoba jalan-jalan ke Dipatiukur mengunjungi café dan comic corner. Kalau liburan mau mencoba magang di café. Aku harus tahu seluk beluk café.

*

Aku diajak Ahmad menghadiri acara syukuran di Perum Cipaganti Ujungberung. Di rumah saudaranya sedang ada syukuran anaknya. Aku melihat dan merasakan rumahnya bagus. Katanya harganya sekitar duaratus juta. Kalau aku mendapatkan uang sebesar itu bagaimana caranya. Ia membuka usaha perbaikan mesin cuci dan alat-alat lain. Benarlah dari ladang usaha uang sebanyak apapun bisa dikumpulkan.

Sebelum menikah aku ingin punya rumah dulu. Kalau aku berilmu, rezeki bakal mengikuti. Tapi bukan berarti mencari ilmu untuk mencari rezeki. Namun ilmu adalah sebagai pengabdian diri dan nanti rezeki akan mengikuti. Jadi teringat nasihat orang bijak yang katanya bagi orang beriman bukan kita yang mengejar rezeki, tapi kita yang dikejar-kejar rezeki. Kenapa begitu resah dengan soal rezeki. Yang penting sudah seberapa jauh pemberdayaan diri kita. Mengoptimalisasi tubuh jasmani, wadag nafs dan emanasi ruh.

Di acara syukuran kami sempat mengobrol dengan salah satu jamaah orang kompleks. Ia bercerita tentang pengalamannya sewaktu di Bali. Sama jamaahnya yang lain ngomongin seputar agama. Jadi di masyarakat sudah tumbuh kesadaran akan kebersaaan dan persatuan sesama Islam. Dulu orang Islam sering gontok-gotokan meributkan hal-hal temporal yang menurutnya prinsip. Tidak bisa membedakan mana prinsip mana yang temporal.

Pembicaraan jamaah menyinggung juga tentang pejabat tinggi entah gubernur atau siapa yang punya rumah di Perum Cipaganti. Tapi bukan untuk ditinggali, tapi sebagai aset untuk dijual lagi. Entah bakal laku atau tidak dibiarkan saja kosong, paling dihuni dedemit. Permasalahannya adalah disisi lain banyak pejabat yang punya rumah di sana sini, namun sisi lain banyak gelandangan keluarga miskin yang hidup di kolong jembatan tak berpunya tempat tinggal. Mereka tak punya tempat untuk berteduh dari kepanasan dan berlindung dari kedinginan.

Sudah ngontrak alhamdulillah. Tapi ketika menatap ke atas ke muka pejabat suka timbul keinginan mempunyai rumah bagus. Aku harus menjalankan bisnis yang profitabel. Tapi saat ini aku berkonsentrasi bergelut dengan perbukuan untuk ancang-ancang kedepan.

*

Aku dari pagi sampai malam terus mengerjakan terus makalah. Satu makalah saja belum kelar. Apalagi ini tiga makalah harus selesai dalam seminggu. Aku sanggup saja mengerjakan sendiri. Cuma masalah waktu kadang tak cukup untuk menyelesaikan sebaik mungkin. Yang membikin sulit itu bagaimana membuat judul dan subjudul. Dan menyusunnya pun ingin tidak asal kutip. Mesti ada sesuatu yang baru yang disampaikan. Tak apa bermula dari subjektif dulu. Setelah itu baru objektif. Aku ingn membuat tulisan yang mengalir dan enak dibaca. Semuaya butuh keterampilan dan kadang aku susah banget merumuskan satu makalah.

Kalau melihat teman-teman, mereka biasa mengerjakan tugas dengan cepat. Apa aku yang berpikirnya lambat, atau aku saja yang selalu menyulitkan diri sendiri. Temanku bilang tinggal ini itu tapi karena aku berpikiran ingin menghasilkan pikiran yang orsinil, tidak sekear kutip sana kutip sini, akhirnya perlu waktu untuk meracik dan mensintesisnya. Termasuk menulisku lambat banget. Padahal tulisanku bersambung. Tapi kenapa selalu ketinggalan gerbong.

Berpikirku juga lambat. Apakah aku ini bodoh. Begitu susahnya menangkap materi dari dosen. Padahal waktu kecilku aku dibilang cerdas, selalu menjadi juara. Pernah kepala sekolah SMP-ku bilang, “Kamu tuh pintar. Kamu sebenarnya pintar”. Namun bila kuingat-ingat kepala sekolah SMP, selalu kuingat marahnya dia. Sudah lupa persis kejadiannya saat itu aku dimarahi gara-gara apa. Hanya kuingat saat itu aku tak mau membayar limaratus yang entah buat apa. Karena tak jelas maka aku tak ingin membayarnya.

Tidak tahu juga kenapa waktu itu aku melawannya. Karena aku berani, karena aku ketua OSIS. Tapi kebaikannya yang harus kukenang. Ingat saat itu karena kakakku memilihkan melanjutkan sekolah di Cimahi, maunya kepala sekolah begitu sangat menganjurkanku aku bersekolah SMU di Tasik saja. Ia bilang, “SMUN 3 Tasik sudah dijamin masuk. Apalagi masuk SMEA 1 Tasik. Tinggal mencoba saja masuk SMUN 1 Tasik, karena itu sekolah unggulan di Tasik”.

Beliau seperti membujukku untuk bersekolah di Tasik. “Sekolah disana banyak anak militer”, tambahnya. Rupanya beliau tahu seluk-beluk Cimahi. Tapi rupanya kakakku menghendakiku sekolah di Cimahi, yang tidak tahu jalan pikirannya kenapa memilihkan saya sekolah di Cimahi. Bahkan pernah juga aku mau dimasukkan ke SMUN 3 atau 5 Bandung. Tidak kebayang bila aku sekolah disana mungkin akan membuatku gila.

Ya, karena setelah menjalani semua, malah terjadi alienasi dan keminderan yang membentukku. Bukan perluasan pergaulan dengan anak-anak militer itu. Bukan semakin cerdas wawasan dan pengalaman. Malah membuatku semakin nampak saja kekampunganku. Mungkin saat itu aku shock yang asalnya sekolah SMP di tempat yang sangat-sangat kampung banget dan baru berdiri, ini melompat ke sekolah terbaik tingkat Kabupaten Bandung dan ketiga di Jawa Barat saat itu.

Tidak tahu pula bila aku tak sekolah di SMUN 2 Cimahi, mungkinkah nasib berjalan lain lebih baik dari yang kualami sekarang ini? Mungkinkah akan lain cerita bila aku bersekolah SMU di Tasik? Tapi inilah takdir yang bagaimanapun hari ini adalah terbaik untukku saat ini. Hanya yang bakal kurasakan kalau sekolah di Tasik, aku akan mendapatkan pantauan dari kepala sekolah dan guru-guru SMP yang banyak sekali orang kota Tasik. Mungkin mereka akan mengarahkan ketika lulus aku harus ini dan itu.

Tidak seperti ketika di Cimahi seperti aku hanya mengikut arus. Masih terngiang-ngiang dalam bayangan pesan dari kepala sekolah SMP-ku, “Pagi-pagi lari pagi untuk menjaga kesehatan.” Mungkin hanya itu yang sering kulakukan kalau libur Minggu sekolah di Cimahi. Kujajaki berjualan koran selama setahun kelas satu. karena seumur-umur belum pernah memegang bola basket, tak pernah ikut bermain basket. Pernah ingin masuk sanggar melukis, tapi harus ada uang pendaftaran. Masuk ekstrakurikuler tenaga dalam Jurus bertahan setahun setengah, sisanya lebih banyak aktif di kelompok studi Islam.

Masa SMU sudah lewat. Tapi kenapa kenangan masa SMP baru teringat dan terangkat sekarang setelah duduk di bangku kuliah. Tak ingin kucari-cari perhubungannya, tapi inilah pengalaman hidupku. Inilah takdirku yang memang harus melewati jejak kehidupan seperti ini. Aku yang dilahirkan di kampung pegunungan di Tasik selatan perbatasan Tasik-Ciamis yang terpisahkan oleh aliran sungai Cimedang dan jembatan penghubung Patrol di Bantarpeundeuy.

Aku tidak berpesan lahir disana dan dari keluarga miskin dan berantakan. Seperti kata pepatah dimana anda dilahirkan itu takdir. Tapi dimana ingin engkau dimatikan itu adalah pilihan. Dan aku terlahir dengan agama Islam. Aku tak ingin Islam turunan. Bagi orang yang terlahir dari keluarga agama lain, mereka pun tidak berpesan lahir disana. Semuanya karena takdir yang harus dijalani.

Islam menurutku sependapat dengan Cak Nur adalah ketundukan yang mutlak pada Allah, bukan tunduk kepada selainnya. Islam bisa terlepas dari budaya dan simbol. Saat ini menurutku Islam sejati bisa didapat melalui agama di luar agama Islam yang normal. Bila ditanya Karen Amstrong agamanya apa? Kristen, tapi ia mengakui kerasulan Muhammad. Jadi bagaimana? Ia mengakunya freelance monotheisme.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori