Oleh: Kyan | 14/04/2006

Berkorban Dua Jiwa Bukan Pemborosan

Jum’at, 14 April 2006

Berkorban Dua Jiwa Bukan Pemborosan

**

Duhai cinta, aku selalu merindumu. Kuingin kau dekap dengan lebih mesra. Bayanganmu selalu menghiasi malamku. Kuingin kau tahu segala luapan hasrat hatiku. Meskipun bunga-bunga bermekaran mengisi menapaki dan menyanjungku. Kepudaran pesonamu selalu kudamba sepanjang waktu.

Andaikan aku menulis sebuah buku dengan judul catatan harian sang khalifah cinta, sang pendosa: antara cinta, buku dan pemberontakan. Aku mau mencoba meriset sebuah novel. Aku yakin pasti bisa. Buku-buku yang ada pun isinya begitu-begitu saja. Bagaimana kalau ide pemikiranku, meskipun belum matang ingin kusampaikan pada masyarakat.

Mencari nafkah lewat menulis, berdakwah lewat tulisan. Aku bisa menghasilkan sebuah karya. Modalnya ada komitmen untuk menulis, disiplin pada jadwal, referensi sudah ada ide atau cerita, tokoh tinggal dibuat, seting dan kerangka cerita sudah disusun. Sekarang tinggal memperbanyak lagi membaca novel dan bagaimana cara menulis akan mengantarkan menjadi penulis produktif.

Sekarang jadwal untuk menulis catatan harian sudah ada. Tinggal ditambah lagi waktunya untuk menulis cerita novel. Aku juga ingin jadi penerjemah. Selain dapat ilmu dari sumbernya langsung, sekalian mentransformasikan ilmu ke orang lain. Jadi penerjemah harus pandai berbahasa dan sastra. Jadi penerjemah jurusan sastra Inggris sastra Arab atau sastra lainnya. Aku sekarang sudah ada di jurusan keuangan. Tak apa masih menggeluti segala hasrat hatiku biar nantinya jadi multidisiplin ilmu.

Seperti al-Farabi. Katanya beliau adalah seorang ensiklopedus. Aku ingin seperti itu. Modalnya harus banyak membaca dan bergaul dengan berbagai lapisan. Hidup jangan hanya itu-itu saja. Hidup mesti ada improvisasi, perubahan. Diam saja akan tergilas dan terenggut. Aku harus mencari dan menemukan sejatiku. Perjalanan ini membutuhkan teman, baik dalam perjalanan fisikal maupun spiritual. Perjalanan spiritual lebih terjal dan penuh tantangan.

Hari ini aku menemukan paradigma baru tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Kurasa laki dan perempuan manapun pasti bisa cocok. Karena jiwa bertemu jiwa. Sesama jiwa tidak mengenal jenis kelamin, laki atau perempuan adalah sama. Tentang  anggapan ketidakcocokan ini dengan itu hanyalah konsepsi manusia. Yang membuat cocok tidak cocok, karena egonya sendiri. Ego dirinya tidak bisa dikendalikan dengan mengatakan ketidakcocokan. Sejatinya mengeksistensi ego adalah demi ego yang lebih besar, yaitu demi Maha Ego.

Bagaimana dengan ungkapan: jiwa perempuan itu sensitif. Ungkapan bukan salah atau benar. Tadi sudah dikatakan bahwa jiwa itu tidak berjenis kelamin. Jiwa tidak berjenis kelamin itu jika mengeksistensi secara sendiri. Dan bila mencantolkan diri atau menempati lokus tubuh materi, maka hasilnya ada yang sensitif, pemurung, rasional atau apapun tentang karakternya.

Seorang pria harus menemukan pasangannya. Seorang perempuan penyejuk hati. Dimanakah peremuan yang telah mampu mengendalikan ego dirinya. Satu jiwa harus bertemu dengan belahan jiwanya. Jiwa adalah kekosongan. Jiwa bukan laki-laki bukan pula perempuan. Jiwa manusia, laki-laki dan perempuan tidak selamanya jadi manusia. Karena manusia sejati adalah insan menjadi (becoming). Bukan basyar, yaitu yang sekedar mengada (being). Cinta sejati pun harus menjadi dengan memiliki satu bukti. Karena bukti adalah sebuah ekspresi. Karena cinta adalah kata kerja.

Cinta pada perempuan dan pada tugasku sebagai mahasiswa harus kupenuhi. Aku yakin bisa menyelesaikan tugas Manajemen Haji dengan sepenuhnya cinta. Tanpa bantuan siapapun. Cuma semestinya dosen menyuruh mahasiswa tidak sekedar harus mengumpulkan tugas. Mahasiswa harus merasakan bermetamorfosa dari satu maqam ke lain maqam.

Aku yang sadar semestinya tidak sekedar membantu menyelesaikan tugas, tapi harus memberikan kondisi pada dirinya untuk terus bermetamorfosa. Makanya barusan ada orang yang minta dibuatkan makalah tentang Ekonomi Mikro. Mungkin kalau aku terima, aku bakal mendapat uang untuk makan, untuk biaya hidup. Namun aku harus memberi penyadaran pada mahasiswa agar mereka pun sadar bahwa dirinya seorang mahasiswa sejati. Bukan mahasiswa yang sekedar mengumpulkan nilai-nilai angka.

Materi untuk apa sebenarnya, kalau tidak ada perubahan pada dirinya. Aku harus belajar untuk tidak tergoda materi. Mencari nafkah melalui  jalan benar dan baik, pasti bisa. Harus memang ada perubahan dalam hidup. Kalau tidak dimulai dari sekarang, mau kapan. Aku harus sadar dengan ini semua.

Besok UTS Manajemen Keuangan, ada PR tapi soalnya tidak sampai ke mahasiswa. Kemudahan teknologi kadang malah bikin susah juga. Bukan kemudahan yang didapat, melainkan kebingungan bagi mahasiswa.

Beberapa bulan lalu, buku “Dasar-Dasar Pembelajaan Perusahaan” dipinjam oleh dosen SIM-ku yang sekarang ia mengajar Manajemen Keuangan di jurusan Muamalah. Dan sekarang waktunya aku butuh, jadi susah akhirnya. Beliau pinjamnya selama satu semester katanya. Tak apa kalau tidak kupakai, cuma sebagai seorang dosen, seorang yang mentransformasikan ilmu pada mahasiswa, kok tidak mau berkorban membeli buku sendiri.

Definisi hemat itu yang mana, prioritas itu bagaimana. Seorang dosen atau mahasiswa tentunya tidak bisa lepas dari buku. Karena itu modal utamanya bergumul dengan buku empat tahun lamanya, kata syair sarjana muda. Berkorban apa saja untuk itu mestinya ada. Sebesar apapun kalau untuk kebaikan tidaklah disebut sebagai pemborosan. Tapi bila harta digunakan untuk kemaksiatan dan kedzaliman, sekecil apapun itu disebut pemborosan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori