Oleh: Kyan | 16/04/2006

Sekedar Bermalam Minggu

Sabtu-Minggu, 16 April 2006

Sekedar Bermalam Minggu

**

“Yuk kita pulang,” ajaknya ketika sudah jam tiga sore. Banyak orang sedang khusuk dan asyiknya menonton konser band di aula kampus. Namun aku sedang berceloteh tentang agama dan kemanusiaan bersamanya. Saat mulai beranjak malam jam tujuh malam ia sempat bilang, “Saatnya orang-orang mojok bermalam mingguan, namun aku harus mengerjakan tugas,” keluhnya.  “Ya, anggap saja ini malam mingguan,” jawabku sekenanya.

Begitupun aku sedang berimajinasi dengan pikiranku sendiri. Tentang bagaimana mencintai Tuhan lewat perempuan. Pada perempuan terdapat kesempurnaan dan keagungan sebagai manifestasi Tuhan. Mencintai yang rendah menuju cinta yang tertinggi. Untuk menuju cinta Tuhan (The Ultimate Goal).

“Aku pulang saja ya, kamu kan banyak pekerjaan. Aku tak bisa bantu dan kamu pun tak mau dibantu.” Aku pamit pulang karena aku punya pekerjaan sendiri. Di kosannya pun aku takut mengganggu malamnya untuk beristirahat. Karena aku bukan kekasihnya, tak seharusnya mengisi malam mingguannya.

Melewati aula kampus menuju tempat kosanku. Kulihat orang masih sedang jingkrak-jingkrakan di panggung hiburan, aku disini seorang diri sedang berjalan lunglai merenungi tentang kehidupan. Ketika orang mengemis cinta palsu dengan topeng cinta, aku disini menanti cinta sejati untuk menuju-Nya. Ketika orang memperbanyak pertemuan namun kosong, sedangkan sejuntai pertemuan hanya sekali. Semoga pertemuan hari ini memesrai jiwa-jiwa di bawah rembulan yang temaram. Aku ingin selalu bersamanya oh manisku.

Melihat anjing-anjing kita yang kelaparan, yang nakal tapi terlihat lucu, aku ingin dalam dekapanmu, sayangku. Aku yang rapuh tanpamu dan utuh dalam kebersamaan denganmu. Aku ingin selalu bersamanya kapanpun dan dimanapun. Aku memiliki bahagia bersamanya. Tak ada yang bisa mengungkap kebahagiaanku hari ini. Meskipun semuanya terasa samar.

Setiap pertemuan dengannya tak ada kata mesra. Namun mendebar kencang karena segala hal. Pertemuan banyak diisi dengan obrolan dan perdebatan. Tak satupun pernah aku ingin mengalah. Kupikir dia bergembira memberi justifikasi-justifikasi. Karena dia harus mencari dan menemukan jawaban sanggahan. Namun entah apakah dia tertekan dengan pendapatku yang selalu berseberangan. Dia yang selalu memulai membicarakan tentang agama dan kemanusiaan.

Pendapatku selalu berbeda dari kebanyakan. Bukan tak ingin mesra, aku hanya ingin menjaga syariat dalam sebuah pertemuan. Mungkin kemesraan sudah aku ungkapkan lewat kata-kata beberapa minggu lalu. Semenjak kukirim e-mail sebuah puisi, nampak perubahan nampak pada dirinya memperlakukanku. Ia selalu ceria, lebih ceria. Memang selama ini dia selalu ceria dalam pandanganku.

Katanya wanita bahagia bila dirinya dicintai. Bagaimana dengannya apakah sudah merasa ada yang mencintainya. Bukankah dia pun perempuan pasti mempunyai sifat yang sama. Apakah karena jiwa dia tak punya perasaan dan tak ingin berbasa-basi. Aku menyebutnya basa-basi. Kata sepuitis apapun hanya dianggapnya basa-basi rayuan gombal. Namun cinta hanya bisa dirasakan dan diekspresikan. Kata-kata tak bisa mengungkap perasaan secara penuh dan utuh tentang hati. Ia hanya sepenggal-sepenggal perasaan.

Oh malam sampaikan padanya tentang pekatnya malam. Oh angin sampaikan padanya desiran hati ini. Oh jiwa, satukanlah dua jiwa yang telah keluar dari bentuk sejatinya. Apakah dia belum begitu yakin akan kesungguhanku. Aku sungguh mencintainya namun sulit untuk dideklarasikan.

*

Barusan kutelpon dia. Ia sedang sakit. Ngomongnya saja gak jelas. Katanya dia pulang sehabis Maghrib dari Mihdan. Perasaan tadi sore gak turun hujan, kenapa sampai sakit. Mungkin dia kecapean. Sudah jam sembilan malam, pintu asramanya sudah mau ditutup. Begini kalau tak punya handphone. Ada yang sakit, aku gak tahu apa dan bagaimana keadaan dia. Dulu pernah bilang punya handphone lagi kek. Katanya kalau ada apa-apa gampang dihubungi. Terasanya sekarang aku khawatir keadaan dia. Separah bagaimana sakitnya dia. Ah aku tak boleh mendramatisirnya.

Apakah aku harus bertekad pergi ke kosannya. Harus pakai logika bila aku kesana. Pintu gerbang kosan pasti sudah ditutup. Apakah pagi harus ke sana. Pintu asrama dibuka untuk lain jenis hanya mulai jam delapan. Jadi bingung apa yang harus kulakukan. Apa mesti kutelpon lagi. Bagaimana aku harus mengekpresikan kebesaran cintaku padanya.

Harus ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa menyerahkan ini pada pemilik-Nya yang memiliki diriku dan dirinya. Ya Allah, berilah ia kesabaran dalam menerima cobaan sebesar apapun dari-Mu. Tunjukkan padaku jalan agar aku bisa membahagikannya. Sembuhkanlah ya Allah. Semoga yang sedang dan akan kulakukan mendapat ridha-Mu.

Aku jadi teringat dengan kejadian kemarin. Aku dan dia salat Maghrib berjamaah. Kubayangkan beginilah nanti kalau jadi suami dan istri. Kutanya dia suratnya mau panjang atau pendek. Dia jawab bagaimana kalau surat Luqman. Wah, aku tak hafal surat Luqman.

Aku yang ketahui tentang surat Luqman, berisi tentang nasihat pada anaknya. Mungkin motif dia mengatakan surat Luqman, karena agar bisa mendapatkan anak saleh dan salehah. Kalau kupikir-pikir setiap dia bicara, selalu memberiku kesimpulan tentang bagaimana ketika sudah menikah. Tentang sukses dalam bisnislah yang katanya tidak akan mengabaikan anak. Lantas kenapa tumbuh keyakinan pada diriku bahwa dia mencintaiku.

Meski sampai sekarang aku belum tahu apakah dia cinta gak sih padaku. Dia selalu menampakkan tapi mencampakkan harapan dan kecemasan padaku. Namun akhir-akhir ini dia semakin terlihat memperlihatkan kecintaannya. Apakah ini hanya karena ingin membuatku senang saja. Bagaimana melihat perempuan yang tulus itu beri tahu aku! Wahai perempuan yang selalu memberi kecemasan dan harapan. Ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu sepenuh hati.

Katanya keharmonisan bisanya karena sex, memang alamiah. Tapi menurutku pernikahan bukan sekedar sex. Cinta dan sex sungguh berbeda. Sex tanpa cinta memang ada, sebagai kebutuhan primordial dan sudah menjadi industri selangkangan. Cinta tanpa sex juga ada, seperti cinta platonis dan sinta sufistik. Ngomongin sex karena acara di Bandung TV tentang dialog interaktif yang pokok temanya adalah sex. Semoga saja bermanfaat untuk pengetahuan masa depan.

Bukan untuk menggembirakan selangkangan. Seperti tempo hari Diah terlalu detil menceritakan kisah malam pertamanya. Kita yang mendengar senyum-senyum saja karena baru dia yang sudah melewati malam pertamanya. Dalam suasana remang-remang cahaya seperti gelap, katanya dibuat gelagapan mencari-cari lubang.

Tadi Diah datang ke kosanku bersama suaminya, menitip di kosanku barang dagangan. Katanya namanya Kue Odading harganya limaratus. Dan aku mendapat untung limapuluh perbiji. Untungnya sedikit sekali. Tak apa yang penting sekarang aku merealisasikan konsep berpikirku mulai berwirausaha. Dulu sekali aku begitu malu untuk berjualan, menjual berarti meminta orang-orang supaya membeli barang daganganku. Namun konsep berpikirku sekarang berubah.

Sekarang aku bangga berjualan. Aku berjualan karena ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang. Aku merasakan nikmatnya makan sesuatu, maka untuk membagi kebahagiaan menikmati rasa yang aku rasakan, maka aku menjual kepada orang-orang. Masalah memakai alat transaksi, uang hanyalah sekedar alat. Sekedar media yang tidak lebih fungsinya supaya pencapaian perpindahan kebahagiaan terus berkesinambungan dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Turunannya biar produksi atau daya kreatifitas manusia terus berkelanjutan. Karena ada motivasi untuk terus berproduksi. Jadi dengan konsep baruku sekarang aku tidak malu lagi dengan berjualan. Berjualan apapun selagi aku telah menikmatinya maka aku akan menyebarkan kenikmatan yang kurasakan itu. Sekarang-sekarang ini aku banyak berjualan.

Pagi-pagi jam enam lebih aku segera menelepon Angel Wings. Semalaman aku khawatir banget dengan keadaan dia. Ditakutkan parah banget sakitnya. Karena jalan logika tak bisa kujalani yang tidak mungkin datang saat malam sudah larut. Hanya kepasrahan berdoa kepada-Nya. Semoga sembuh. Setelah kutelpon pagi ini, aku tenang bahagia karena sakitnya dia agak baikan.

Dia bilang sudah sembuh dan gak usah kesana. Dia buktikan dia bisa ketawa di telepon. Aku ingin diyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Nanti siang mau kesana sekalian mengantarkan kripik pesanan Intin. Kue Odadingnya titipan Diah masih ada. Perlukah dibawa kesana untuk ditawarkan pada teman-temannya. Aku ingin memperlihatkan padanya bahwa diriku mempunyai harapan besar. Harapan untuk sukses di masa depan.

Biasanya perempuan tak suka dengan lelaki yang belum 3M: Mapan, Matang dan Menarik. Aku percaya akan kekuatan cinta sejati. Aku akan selalu berkorban untuknya. Tentunya yang berlogika. Aku tidak faham dengan apa yang dikatakan bahwa cinta tak perlu logika. Hanya kuyakini bahwa dengan cinta yang mustahil menjadi mungkin, yang sakit menjadi sembuh, yang gila menjadi sadar. Setelah muncul kesadaran, menjadi gila lagi karena mengharap dekapan mesranya.

Sebuah cinta yang tak bertepi akan mengantarkanku menuju pulau harapan untuk bertahta kepada-Nya. Cintaku hanya untuk sebuah cinta. Terefleksikan oleh pencinta yang menjadi power dalam perubahan sosial kedirian dan kemasyarakatan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori