Oleh: Kyan | 21/04/2006

Menemukan Dunia Pikirannya

Jum’at, 21 April 2006

Menemukan Dunia Pikirannya

**

Icha, anak kecil. Namanya anak kecil serba ingin tahu. Bertanya ini-itu, selalu ingin pegang ini dan itu. Sudah mengganggu aktivitasku. Orang dewasa harus selalu bersabar. Tanpa kesabaran, pusing sendiri. Aku yang lagi sendiri, pacar pun tak ada. Ketidakpunyaan membikin masalah, punya pun penuh dengan masalah. Menikah selalu ada masalah, dan tidak menikahpun bermasalah. Lebih baik menikah saja. Dan ketika mempunyai anak beban bertambah. Tapi kupikir, beban apa? Beban karena harus memberinya sesuap nasi?

Aku tak boleh khawatir, toh ada rezekinya. Kalau beban karena harus sungguh-sungguh mendidiknya, itupun bukan tugasku saja. Tugas lingkungan sebagai saksi kehidupan. Karena anakku bukan semata-mata anakku. Dia adalah anak kehidupan. Jiwaku hanyalah untuk menunjukkinya jalan. Bukan jalan pikiranku, melainkan jalan pikirannya sendiri.

Dan dalam menunjukkan jalan, membutuhkan kesabaran yang sangat dalam. Andai aku punya istri dan anakku, aku berjanji akan menyayanginya sepenuh hati. Aku akan sabar dalam memahami dan mendidiknya. Aku tidak akan seperti ayah dan ibuku, yang membiarkan anak-anaknya terseok-seok, berdiri tertatih-tatih diterjang badai kehidupan.

Soal keluargaku aku tidak menyalahkan mereka. Kupikir mereka tak menginginkan ini semua terjadi. Karena semua adalah takdir yang harus diterima olehku dan mereka. Aku tidak mengatakan ini jelek atau itu baik. Hanyalah semua konsep manusia. Manusia adalah suci. Semuanya sedang mencapai ketinggian kebaikan. Jika belum mencapainya, ia akan terlahir kembali. Seorang perempuan akan mengandungnya lagi. Tak pernah selesai sampai akhirnya bisa kembali kepada-Nya.

Percaya atau tidak, ajaran sesat atau tidak, tapi kebenaran akan selalu tersampaikan dengan lebih jelas dan lugas lagi di lain kali. Selalu akan tersampaikan dan tak terkalahkan. Meski pada mulanya tersembunyi di balik misteri, bila ada yang menemukannya, meramunya, atau dia sendiri sebuah kebenaran menampakkan dirinya.

Dan aku yakin, aku bakal bisa berbahasa Inggris. Lulus kuliah nanti bila tidak melanjutkan ke S1, aku mau ke Pare saja untuk belajar Bahasa Inggris. Tapi bagaimana akankah ada perempuan yang ingin segera menjumpai dan tak sabar menanti. Ingin segera sampai di batas waktu untuk mulai menuai mimpi. Apakah aku ragu-ragu. Selalu saja keraguan dan ketidakpastian menghimpit dada.

Besok ada ujian MKS. Meskipun openbook kalau tak bisa tetap saja tak bisa mengisi jawaban. Pinjam bukunya tak sempat kubaca. Ketertarikan hanya pada buku-buku yang kubeli. Buku yang kupinjam malas untuk kubaca. Kenapa? Bila buku sendiri bisa aku coret-coret ketika membacanya sebagai jejak aku sudah membacanya. Sedangkan barang milik orang tak boleh dirusak. Persiapan untuk UTS Statistik harus sejak sekarang belajarnya. Aku yang konsentrasi hanya pada kuliah sudah sepantasnya mendapat nilai memuaskan.

*

Hari ini adalah hari Kartini. Aku baru ingat sekarang dengan perjuangan kaum perempuan yang belum dan tak akan pernah berhenti. Tokoh Kartini dijadikan simbol untuk perjuangan gender. Andaikan beliau sekarang ada, apa yang akan dilakukan olehnya. Kaum perempuan sekarang bukan meneladani spirit perjuangannya. Namun hanya dijadikan oleh pihak tertentu yang ujung-ujungnya tetap saja penindasan pada perempuan. Perjuangan salah kaprah.

Pagi hari aku sempatkan membaca Catatan Harian Ahmad Wahib. Banyak ungkapan menarik. Beliau memahami Islam hanyalah Islam menurut orang-orang dan orang-orang terdahulu. Dia ingin Islam menurut Allah si pembuatnya. Dimulai dari Alquran dan sunnah setelah mendapat pemahaman, akan tetap saja dibilang itu Islam menurut dirinya sendiri. Dia ingin bebas dalam berpikir. Toh isinya dan jalan berpikirnya, Allah yang memberinya seperti itu. Berpikir mengarah ke sana-sini semua atas izin Allah.

Realitas pergaulan kampus. Sudah sedemikian amuradul. Dalam setiap tongkorngan pembicaraan ujung-ujungnya sex. Diarahkan pada masalah agama malah pada pergi. Aku ketinggalan informasi tentang kejadian yang masuk Tribun. Katanya di UIN beredar video yang lagi nge-sex. Orangnya berkerudung ganda. Bisa saja itu anak UIN atau ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan nama UIN. Meskipun begitu aku bangga jadi mahasiswa UIN. Aku ingin menunjukkan bahwa aku seorang mahasiswa UIN. Progresif, intelektualis, dan funky.

Matakuliah Auditing, manajemen Ayasophia yang telah kubuat katanya kurang efektif. Terlalu melebar dan banyak struktur organisasinya. Kritik jangan dianggap negatif, justru itu hadiah informasi untuk perbaikan. Memang selalu saja pola pikirku dan sebagian teman-teman negatif saja dalam memandang sesuatu. Membangun pola pikir positif dan saling percaya tidaklah mudah. Semua harus dimulai saat ini.

Rencana malam minggu mau menamatkan baca buku Membangun Surga. Tapi agenda melenceng ketika Ashar, Liza datang ke kosan meminta dibantu membetulkan Komputernya. Dan sampai saat ini belum selesai ketika masuk adan Maghrib. Lalu datang pula Lely yang ingin mencoba memasukan lagi dari komputer ke handphone. Jadi aku mendapat ilmu baru. Namun tetap saja agendaku tak terlaksana.

Memang dalam hidup begitu akan selalu ada yang diminati dan meminta tolong harus merupakan sebuah kebahagiaan dan kesenangan bisa menolong orang dan membahagiakan orang. Meskipun aku kadang kesal, mau ini-itu menjadi terganggu dan tak terlaksana sesuai agenda. Tapi aku harus bahagia. Mumpung ada kesempatan untuk menolong orang, coba kalau Allah tak lagi memberi kesemaptan padaku untuk bisa menolong dan beramal. Sungguh malang nasibku.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori