Oleh: Kyan | 22/04/2006

Privasi Dalam Modernisasi Seorang Ayah

Selasa, 18 April 2006

Privasi Dalam Modernisasi Seorang Ayah

**

Mengerjakan tugas Manajemen Haji dan Umrah sudah beres. Katanya makalah yang kubikin kebanyakan, yang lain saja cuma dua sampai enambelas halaman. Sedangkan aku semuanya berjumlah limapuluh halaman tiga makalah. Aku tahu yang ditugaskan adalah artikel. Bedanya dengan makalah apa, toh sama-sama tulisan. Setiap selesai masalah, selalu saja timbul kekhawatiran.

Hidup memang begitu harus selalu yakin dalam setiap langkah. Kalau ragu-ragu akan muncul stress dan cemas. Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan. Tangan yang bekerja adalah tangan-tangan Tuhan. Sang penggerak sejati. Manusia tidak boleh sombong membanggakan diri karena telah melakukan semuanya. Karena Dia dan atas nama Dialah selalu ada pergerakan. Daya cintalah yang menggerakkan semuanya. Semua karena Cinta aku mengada.

Aku membantu mengetik tugas Haji dan Umrah punya kawan-kawan MKS-B. Mereka memberiku imbalan limabelasribu. Kupikir gede banget kuterima dari satu makalah. Aku membantu karena ingin membantu saja. Tidak apa-apa kuterima kasih saja atas imbalannya.

Sehabis Duhur dengan Dudi main ke kantor Mizan. Mau menukarkan buku cacat yang kubeli di Palasari. Karena dulupun membeli di Palasari, diterima penukaran langsung ke penerbitnya. Ternyata kompleks Mizan itu luas yang aku tahu hanya distributor saja. Mizan mempunyai lini distributsi dan penerbit. Mizan adalah penerbit Islam terbesar di Indonesia dengan grup nama penerbit yang berbeda-beda.

Di sana pun ada taman bacaannya. Taman bacaan yang memang benar-benar taman. Soalnya ada air mengalir dan rerumputan. Tidak seperti aku membuka taman bacaan, tapi tempatnya sumpek. Makanya kupilih saja perpustakaan. Tapi tak ingin disamakan dengan perpustakaan-perpustakaan kampus atau lembaga yang seperti museum. Bukan tempat mendapatkan ketenangan mereguk ilmu. Suatu saat nanti rumahku harus ada tamannya buat santai dan membaca. Rumahku harus jadi home schooling bagi buah hatiku. Perpustakaan diisi dengan referensi lengkap.

Di Mizan aku membeli buku Kahlil Gibran, al-Mustafa dan Sayap-Sayap Patah atau Broken Wings atau al-Ajnihah al-Mutakassinah. Bisa juga Broken Ajihatin. Bahasa Gibran begitu puitik dan hidup menghidupkan. Bagaimana aku mampu seperti dia menulis dengan nada-nada liris. Aku tak boleh lelah untuk menjadi penulis hebat. Mengerjakan tiga makalah saja sendirian. Karena cintalah yang mendorongku semuanya.

Sorenya setelah mengikuti upacara pembukaan Turnament Bola Antar Jurusan, aku ke Asrama Lestari, kosan Angel Wings. Ketika aku ke sana dia sedang mengetik surat. Dia masih kelihatan sakit dan suaranya yang masih serak basah tanda sakit. Namun dia tetap harus ke Mihdan. Katanya karena harus ada yang diselesaikan. Ia begitu sibuk sampai tidak memperhatikan stamina. Kalau dia sakit aku yang khawatir. Lantas apa yang kubisa lakukan untuknya.

Aku harus mencari nafkah yang berlimpah dan berkah. Makanya sekarang setiap hari aku berjualan. Aku harus berusaha keuntungannya jangan dimana dulu. Aku harus membuat laporan keuangan setiap bulan tanda bukti transaksi. Nanti laporan keuangannya diaudit sendiri. Membuat laporan keuangan Ayasophia harus berjalan sebagaimana teori keuangan. Bukankah aku kuliah di Manajemen Keuangan? Aku akan menjadi pengusaha besar. Aku akan menjadi penulis produktif. Aku akan menjadi pencinta sejati. Meskipun sering dilanda sepi dan sendiri.

Dalam kesendirian, privasi ataupun apapun namanya penting bagi semua orang. Aku selalu ingin membutuhkan waktu untuk sendirian. Tak ingin diganggu dan tak ingin orang-orang banyak ngomong ketika aku ingin diam dan sendirian. Kadang aku ingin marah yang memuncak jika waktu kesendirianku diganggu gugat. Buat apa sih waktu sendirian. Bukankah lebih baik terus bergaul dengan teman-teman dan masyarakat. Aku yang lemah dan belum matang pemikirannya sangat membutuhkannya.

Rasulullah saja terus beruzlah. Beliau sendirian di gua Hira sampai berusia empatpuluh tahun. Para sufi beruzlah selama empatpuluh hari. Begitupun pendekar yang sering melakoni tapabrata. Sedangkan zaman sekarang yang keadaannya sudah supersibuk karena lingkungan kita sudah dipenuhi alat-alat komunikasi. Seperti handphone, TV, internet dan transportasi super cepat. Disisi lain dapat memudahkan, namun bisa menjerat bila digunakan tidak sewajarnya. Orang lagi enak-enaknya tidur atau makan atau apa, tiba-tiba telepon berdering. Tak bisa menikmati keadaan makan dan bersantai.

Terlalu sibuk juga menurutku kurang baik. Malah stress yang didapat. Fisik harus ada istirahatnya. Jiwa pun istirahatnya adalah kontemplasi. Dengan melakukan perenungan-perenungan dan perencanaan masa depan. Waktu itu tak boleh diganggu siapapun untuk dapat konsentrasi. Buktinya sekarang ini aku kesal banget waktu kesendirianku diganggu. Aku sudah bersahabat selama setahun setengah. Ketika ingin sendirian untuk belajar, teman-teman datang tanpa kenal waktu. Aku bersabar dan tak ingin kulakukan terhadap orang lain. Aku harus menghargai waktu istirahat dan kesendiriannya orang lain.

Mungkin aku tiba-tiba hatiku tak karuan. Tadi ada sepupuku datang ke kosanku. Dia memberi surat buatku. Tulisannya memakai bahasa Arab. Isi suratnya kurang lebih meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya. Karena tidak semestinya menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab, ayah yang baik, ayah yang menjadi public figure bagi anaknya. Dan beliau ingin bertemu dan aku mesti kesana. Kupikir semuanya adalah takdir yang harus kujalani. Baik buruk tetap ayahku. Aku harus memaafkannya.

Namun saat ini aku belum ingin bertemu dengannya. Aku hanya ingin sendiri dan tak ingin kehidupanku dimasuki pihak lain lagi. Cukuplah aku yang sekarang ini menjalani hari-hari. Aku ingin menikmati masa mudaku, biarlah tanpa teladan seorang ayah. Tanpa curahan kasih ibu dan mungkin tanpa seseorang di hatiku. Namun aku tetap mengharapkan seseorang yang singgah di hatiku. Agar aku bisa nyaman hidup dan tersenyum menyongsong lembaran-lembaran hidup baru. Menjalani kesibukan kuliah, menapaki masa depan, dan perjalanan lika-liku cinta. Semuanya memiliki masa muda.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori