Oleh: Kyan | 23/04/2006

Ketika Terjadi Pertengkaran Kecil

Ahad, 23 April 2006

Ketika Terjadi Pertengkaran Kecil

**

Mestinya kritik itu sebagai konstruksi menjadi lebih baik. Meskipun tidak enak di hati, tapi yakinkan diri kritik itu bukan untuk menjatuhkan, namun sebagai nasihat-menasihati. Sebagai aplikasi amaliah dari surat al-‘Asr. Tulisanku dikritik, katanya banyak mengulang terus kata-kata yang sama. Mestinya meskipun bermakna sama, tapi gunakanlah kata-kata yang berbeda. Aku harus menerima kritik dengan lapang dada.

Aku ingin menjadi penulis saja. Jadi peresensi buku, bisa mendapatkan penghasilan. Sekarang aku dibingungkan dengan penghasilan. Aku ingin menambah koleksi bukuku. Kalau koleksinya banyak, aku bisa percaya diri kalau membuka taman bacaan secara jor-joran. Rumah buku Ayasophia. Membeli buku dengan mengandalkan uang saku dari ibuku tak cukup.

Karena terlanjur aku sudah banyak mengoleksi buku, sekalian saja mau dibuat perpustakaan besar. Cuma apa yang kudapatkan dari adanya perpustakaan. Selain mendapat wawasanku sendiri, aku harus mahir meresensi buku, mengarang buku, menulis artikel. Semua itu bisa mendapatkan penghasilan.

Selama ini merasa belum optimal dengan mengoleksi buku. Buku didiamkan saja, tambah lapuk. Makanya ingin disewakan ke orang lain. Terpenting aku harus jadi penulis. Apakah ini keterpaksaan karena punya koleksi. Apakah ingin jadi penulis karena ingin mendapat penghasilan? Aku rasa itu tujuan yang derivatif.

Aku sering iri pada mereka yang mahir menulis. Aku bertanya-tanya apakah di rumahnya tersedia perpustakaan pribadi? Sudah dipastikan yang mahir menulis itu gila membaca. Membaca bacaan-bacaan yang belum tentu dimiliki. Kadang aku membaca tak mengerti apa yang dibaca dan berlalu begitu saja tanpa dipikir lagi. Aku masih belajar membaca. Jangankan menulis, membaca pun aku masih belajar. Aku sudah membaca teknik membaca dan menulis, tapi hasilnya belum bisa apa-apa.

Ah sama saja, itu cuma konsep. Kuinginkan membaca adalah huruf per huruf. Seperti membaca novel. Membaca kata pengantar, paragraf awal akhir, bagian awal dan akhir, tidak puas aku membaca hanya itu. Aku ingin membaca sepuasnya. Namun sampai sekarang belum mengantarkan pada kemahiran menulis. Katanya memerlukan latihan terus menerus. Makanya mau ada lomba resensi novel aku ingin berpartisipasi. Hadiahnya pun lumayan, tropi dan uang.

Andaikan aku jadi pemenang pertama, aku bahagia. Bagaimana cara jadi pemenang. Berusaha aku sudah membaca teorinya. Aku punya buku terknik dasarnya. Aku harus mengerjakannya secara serius dan optimal. Setiap ungkapan hati harus didengarkan dan diperhatikan. Hatiku bicara harus ke internet mencari informasi tentang novel yang diresensi dalam perlombaan itu. Aku harus jadi pemenang. Meskipin aku belum pernah tapi aku suka menulis. Mulai dari menulis makalah sampai menulis catatan harian. Kemahiran menulis bisa mendapatkan moral dan moril. Jadi penulis hebat modalnya berlatih terus menerus.

Lalu siapapun tak akan bisa menghalangi satu perjuangan yang aku yakini kebenarannya. Aku tak akan surut langkah. Ibaratnya kebijakan Bendahara Umum adalah kebijakan pemerintah dan aku adalah rakyatnya. Apakah keadilan yang dibuat sudah benar-benar adil dan memihak rakyat? Sebagai pelayan rakyat, harus adil dalam membuat kebijakan. Pemerintah harus mengayomi rakyatnya, potensi rakyatnya dikembangkan.

Karena hari ini aku ada konflik dengan Dian. Dia sebagai bendahara membuat keputusan tentang lomba resensi novel yang diadakan fakultas Adab dan Humaniora. Uang pendaftarannya KBMP MKS cuma mau memberi limaribu. Sedangkan pendaftarannya tigapuluhlima ribu. Kalau aku ingin ikut serta harus membayar sisanya, kudapatkan uang darimana sebesar itu. Dia memberi keputusan itu karena menurut informasi tigapuluhribu buat membeli bukunya.

Aku tidak terima. Bukankah sudah sepakat KBMP harus ikut serta dalam setiap perlombaan di lingkungan kampus. KBMP harus memfasilitasi pengembangan bakat dan minat mahasiswa. Yang namanya bakat dan minat setiap orang berbeda-beda. Ada yang senang olahraga, musik atau sastra.

Selama ini setiap ada perlombaan olahraga musik, KBMP mengucurkan dana secara total. Tapi kenapa yang menurutku ini perlombaan penting, sebagai pendidikan jiwa, KBMP tidak mengucurkan dana. Pengembangan fisik rela habis ratusan ribu. Sedangkan ini pembangunan jiwa cuma butuh puluhan ribu, tidak mau mendanainya. Lantas dimana keadilannya, aku dibuatnya marah dan bertanya. Maka beradu mulutlah aku dengannya.

Aku hanya khawatir gara-gara ini secara pribadi timbul jarak antara aku dan dia. Selama ini aku dan dia ibarat satu tubuh. Seperti saudara sekandung saja. Dia selalu siap sedia dan telah banyak menolongku. Tapi sejak kejadian ini, seolah menjadi ada sekat pembatas. Aku ingin seperti dulu, seperti biasa lagi dan tak terjadi apa-apa.

Namun hal yang menurutku menyangkut prinsip, apakah aku turut mengorbankan hal yang prinsipil. Mungkin karena aku terlalu ngotot. Aku harus sadar bahwa tidak sesuatu yang kuyakini benar, harus terus diperjuangkan dan tak ada yang bisa menghalangi langkahku. Buat apa aku membaca buku banyak kalau tidak berusaha untuk menjadi lebih baik dan memahami orang lain.

Seorang pejuang kebenaran harus siap menderita demi prinsip hidupnya. Aku ingin memberi pendapat pada teman-teman untuk menunjukkan padaku bahwa apa yang telah kulakukan salah, aku siap mengakuinya. Itu jika memang salah. Tapi hidup memang penuh lika-likunya.

Rencana mau ke kosan Lestari, tak jadi. Karena suasana hatiku sedang kacau. Pesanan kripik Doneng, Dian tak bawa. Tadinya sekalian mau memberikan mp3 ke kosan Lestari. Karena aku senang bisa membantunya. Aku tak mengharap apapun. Tak mengharap balasan materi, namun aku mungkin mengharapkan cinta. Karena ketika langkah kaki, kepalan tangan, gerakan pikiran aku selalu mengharapnya. Kakiku melangkah adalah langkah kakinya. Tangan yang memegang adalah pegangan tangannya. Tubuh yang mewujud cinta.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori