Oleh: Kyan | 27/04/2006

Dalam Lingkup Kemiskinan

Kamis, 27 April 2006

Dalam Lingkup Kemiskinan

**

Orang sukses tidak akan menyerah pada keadaan. Dia akan tuli pada setiap celotehan-celotehan ataupun ocehan-ocehan negatif. Dia akan tuli terhadap setiap omongan yang menusuk telinganya. Justru dengan ditusuk pendengarannya, dia jadi tuli dan hanya bisa mendengarkan atau memahami bahasa dalam dirinya. Dia yakin pada dirinya. Meskipun keyakinan senoktah titik, tetap dipeliharanya dan dipupuk agar menjadi garis dan bisa menghubungkan dari garis yang berputus-putus.

Ya, aku hanya bisa setitik, belum bisa membuat garis. Aku hanya mampu membuat titik, itupun bukan tanganku yang menandanya. Ada tangan halus yang berkelebat dan begitu aku tersadar sudah ada tanda titik sebagai aku. Dan selalu kunanti agar aku bisa membuat garis nasib yang panjang melempang dengan seseorang. Meski sudah ribuan penolakan aku tetap punya harapan.

Aku ingin jadi pemikir, terutama pemikir eknomi Islam. Aku ingn banyak membaca buku-buku ekonomi Islam. Aku ingin yang pragmatis. Ingin jadi pengusaha namun aku tidak bisa apa-apa. Aku selalu saja bodoh dalam setiap hal. Bahasa Inggris saja tak becus. Belajar bahasa Inggris sejak duduk di bangku SMP kenapa tidak bisa ngomoong karena bahasa ditempatkan sebagai ilmu, bukan sebagai alat untuk meraih ilmu. Tidak bisa berbahasa Inggris serasa masa depanku suram.

Aku ingin studi ke luar negeri. Aku ingin terus menyadari dan mencari karena aku dari MKS dan senang dengan filsafat dan tasawuf. Kupilih studi pemikiran ekonoi Islam di Malaysia dan bisa bekerja di Singapore, apakah cita-citaku ini ketinggian? Aku tetap ingin bermimpi. Untuk apa? Untuk hidupku bermakna dan terus bermekaran. Tidak sekedar hidup biasa-biasa saja.

Persyaratan yang harus kupunya adalah kemampuan bahasa, banyak membaca studi filsafat, tasawuf, ekonomi, sosial budaya, dan semuanya. Aku tidak ingin berhenti di MKS saja. Aku ingin lebih  dan aku tidak ingin biasa saja dalam apapun. Termasuk dalam cinta aku ingin terus mengejar cinta sejatiku. Saat ini aku selalu mengharap dan ingin bersama-sama membangun singgasana cinta.

Aku buta terhadap bunga lain. Meskipun belum sepenuhnya percaya, aku ingin kutitipkan benih hatiku padanya. Aku ingin menanam dalam kebunnya. Aku bukan sekedar mencari pasangan, namun mencari seorang ibu bagi anak-anakku. Aku begitu sulit mendapatkannya di zaman ini. Tapi aku ingin dan berharap hanya padanya.

Entah kenapa aku hanya ingin dia. Sang pemilik diriku dan dirinya yang memberi pikiran dan perasaan ini. Aku ingin mendapat orang kaya dan berdarah biru. Namun jika kulihat diriku ke dalam, aku lemah dan tak punya apa-apa dan aku tak bisa apa-apa.

Seperti tadi pagi disuruh mencari pulpen infocus pakai motor. Aku belum bisa naik motor. Belajar sepeda saja lupa lagi. Karena kehidupan masa laluku tidak mengantarkanku bisa naik sepeda dan motor. Orang yang menghinaku tidak menghargai kehidupan masa lalu orang lain. Aku akan bertekad mau belajar motor tanpa menunggu waktu.

*

Memulai persiapan UTS matakuliah Auditing materinya kucoba diketik dulu. Sekalian menghapal, juga mendokumentasikannya. Setelah semuanya terkumpul baru dimasukan ke cd. Mungkin bisa dijual ke adik kelas. Niatnya untuk memudahkan mendapatkan referensi bagi adik kelas. Bukan untuk dikopi paste bila ada tugas. Semakin lengkap dan mudah dalam mengakses referensi, bukankah semakin mudah dalam transpormasi ilmu.

Besok UTS aku malah menonton film Eifel I’m in Love. Film satu dan dua, keduanya aku belum pernah kutonton. Padahal film itu diambil dari novel yang penulisnya masih belasan tahun. Aku sudah kalah sama dia. Ia kelas satu SD sudah disuruh membuat cerita oleh gurunya. Kebiasaan dia selalu membeli novel-novel terkenal atau yang difilmkan. Dibeli dan dibaca semua novel terkenal dan difilmkan. Tapi katanya tak pernah sampai tamat membacanya. Meskipun tidak sampai tamat membacanya, dapat memantik semangatnya untuk menulis novel sama larisnya.

Apakah keinginanku menjadi penulis novel atau artikel karena pengaruh dari luar? Adakah pemaksaan karena lingkungan, karena situasi, ataukah potensi sebenarnya yang ada padaku. Inginku semuanya berjalan mengalir saja tak perlu dipaksa-paksa. Tapi karena ada tuntutan sosial aku harus melakukannya. Aku harus mencari penghidupan sendiri, aku ingin ini dan itu.

Tak mau aku bergantung terus pada ibuku. Mungkinkah mendapatkan penghasilan dari menulis. Orang lain usia seusiaku mampu mendapatkan penghasilan lebih dari dua juta dari menulis. Katanya harus banyak latihan sampai berdarah-darah prosesnya. Yang dia tulis dibaca lagi, diendapkan, dibaca lagi, diendapkan, dan dibaca lagi sampai finishing mencoba dikirim ke penerbit.

Aku ingin ikut kursus menulis di MLC. Aku mau mengirim e-mail ke pak Hernowo sebagai mentornya. Aku sih belum mengkonsentrasikan diri untuk membuat novel. Minggu ini aku disibukkan dengan mengerjakan tugas kuliah. Sekarangpun Lia dan Eka memintaku dibantu membuat tugas.

Disisi lain aku ingin mendidik mahasiswa agar sungguh-sungguh jadi mahasiswa. Bukan menjadi mahasiswa kacangan, dimana ketika ada tugas tidak meminta dibuatkan kepada orang lain. Namun aku ingin mendapat penghasilan sendiri buat menyambung hidup. Menggerus idealisme dengan lebih memperhatikan urusan perut. Pendidikan jiwa memang lebih penting, kalau tidak makan mana bisa konsentrasi membaca.

Masuk dalam kubangan miskin materi mengantarkan pada miskinnya pengetahuan. Dunia muslim selalu dilanda kemiskinan, karena SDM-nya. Perkembangan sains dan teknologi manajerial instrumen ekonomi Islam belum optimal diaplikasikan untuk membuang tumor-tumor kemiskinan di negera-negara muslim. Banyak negera muslim selalu ditekan olen negera Barat. Kemerdekaan menentukan sikap dan menentukan masa depan sendiri terbelenggu oleh penaklukan.

Maka aku salut dengan Iran. Tadi di berita dikatakan Iran tidak takut dengan ancaman Amerika. Malaysia pun berani menolak bantuan IMF. Bantuan Bank Dunia dan IMF memang sengaja agar negera-negera pengutang tidak mampu membayar. Toh bantuan itu mengalirnya ke kontraktor-kontraktor yang dimiliki negaranya untuk mengekploitasi sumber daya alam negera terjajah. Indonesia merupakan surga eksploitasi karena masyarakatnya miskin dan gampang dikelabaui. Termasuk aku si anak miskin. Bahkan mengemis cinta saja tak ada yang mau menerima. Sungguh kasihan jadi anak malang.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori