Oleh: Kyan | 29/04/2006

Dalam Puncak Marah Perempuan

Sabtu, 29 April 2006

Dalam Puncak Marah Perempuan

**

Duhai perempuan, marahmu membuat parasmu semakin gemas. Pipimu memerah menjelma mawar. Bibirmu yang terngengah-engah menghembus keharuman dupa persembahan. Engkau meskipun terkesan manja, tapi itu membuatku makin mengagumi keperempuananmu.

Adakah waktu untukku, untuk belajar memaafkanku sebagai manifestasi seorang lelaki penuh kemunafikan. Maafkan jika selama ini, dulu sampai sekarang, zaman kuno sampai postmodern, dirimu telah dikungkung oleh kelelaki-lakian. Maafkan.. Atas nama lelaki aku memohon maaf telah membuat murka karena direndahkan.

Namun engkau pun harus ingat bahwa dirimu adalah perempuan. Engkau adalah titisan dewi-dewi malam, engkau seorang ibu yang melahirkan aku. Keterpautan jiwa hanya padamu untuk tidur dalam dekapanmu. Inilah celoteh dariku seorang yang sedang belajar memahamimu sebenarnya apa maumu.

Engkau adalah milik kehidupan. Engkau hanya terpaut pada kehidupan. Aku tidak akan memaksa jiwamu terasuk buaian prasangka dan purbasangka. Karena jiwamu mempunyai lokusnya sendiri. Engkau punya tubuhmu sebagai tempat bersandar kedirianmu. Namun aku yang selalu mendamba manisnya kehidupan, disana engkau telah ada. Menjadi jiwaku yang terpaut selalu hanya pada jiwamu. Apakah ini prasangka ataukah hanya sebuah kebutaan asa. Kadang aku tak mengerti dan semakin tidak mengerti bagaimana aku bisa memahamimu.

Aku ingin semuanya berbicara jujur menyelami pikiran masing-masing. Tidak seperti ujian Auditing yang seperti di pasar. Inikah mahasiswa yang selalu membuat gaduh dalam setiap suasana. Bukankah mahasiswa itu sebagai prototife seorang idealis. Ia yang berani bersuara lantang menentang kedzaliman dan segala bentuk ketidakadilan. Lantas bagaimana memperlakukan dirimu sebagai dirimu sendiri dan diri-nya.

Namun sekarang memang zaman sudah berubah. Menjadi mahasiswa hanya sebagai mahasiswa-mahasiswaan. Ibarat mobil-mobilan sebagai barang mainan yang gampang dibeli dan secepatnya dibuang. Aku bukan dan tak ingin masuk ke dalamnya. Tapi aku pun tak ingin terjerat tradisi yang mengungkung, yang selalu sekata dalam kemapanan.

Aku ingin bebas. Aku ingin mengikuti diriku sebagai manusia insan. Bukan sebagai hewan peliharaan. Apalagi menjadi buas menghasrat cintamu yang berwajah sangar. Ingin kuperangi tradisi tidak jujur itu. Contek-contekan segala seperti pamer baju baru di hari lebaran.

*

Mulai satu Mei akan kudisiplinkan makan sehari empatribu cukup dua kali. Dengan sisa bekalku aku mau menabung. Tahun ini aku harus punya handphone agar komunikasi dan relasi berjalan lancar. Terpenting itu adalah aku bisa lebih memperhatikan dirinya. Sakitnya sehatnya aku benar-benar tahu. Karena aku percaya pada cinta sejatiku. Dengan cinta bisa terleraikan nafsu-nafsu—nafsu hewani. Aku ingin cinta karena aku ingin menjadi manusia. Sampai sekarang aku belum menjadi manusia Insan.

Kubaca majalah Islamia, membahas tentang Orientalis. Majalah ini bawaannya hanya mengkritisi saja, belum memberikan paparan bagaimana seharusnya. Aku butuh pedoman dalam kebingungan. Tapi memang aku begitu pragmatis. Dengan membaca Islamia, membuatku semakin tahu hal sebenarnya persoalan yang menggendam.

Memang orang Barat suka tidak jujur dalam menilai. Selalu menganjurkan objektif, namu dirinya tidak objektif. Katanya kalau mau mempelajari Islam, tanggalkan dulu keislamannya apakah pandangan hidup yang sudah begitu  mengakar bisa dilepas dan diganti dengan pandangan hidup lainnya?

Sebuah perubahan kehidupan harus dimulai dari perubahan pandangan atau paradigma. Dan itu tak bisa instan, melainkan dengan evolutif diri. Diketahui bagi orang Islam memiliki wordview-nya sendiri yang berbeda dari Barat. Karena merasa adigang adigung dan syndrom superior complex, Barat suka memaksakan metodologi studinya kepad apihak lain. Setiap bangsa mempunyai tradisi dan kebudayaannya sendiri.

Sebuah perbaikan harus melalui pendekatan sosiologis dan psikologis masyarakatnya. Kita tak bisa lansung mengklaim salah dan benar, melainkan harus arif dalam bersikap. Gampang diungkapkan tapi sulit diaplikasikan.

Bagusnya buku-buku yang disinggung di bahasan Islamia harus kubaca. Di perpustakaan kampus sebagian tersedia. Tapi kalau bukan milik sendiri, aku malas untuk membacanya. Kenapa? Karena tidak bisa dieksplorasi, digarisbawahi hal-hal pentingnya, dan nanti bisa kesulitan untuk mereview atau mencarinya lagi. Makanya penting untuk membuat arsip-arsip dari setiap makalah yang kubuat.

Aku pun telah meyakinkan Eka dan Lia bahwa tugas makalahnya akan selesai tepat pada waktunya. Aku harus memenuhinya diselesaikan tugas mereka. Aku harus segera menyelesaikannya secepatnya. Hari Senin mau ada pertemuan khusus semester empat dengan ketua prodi mau ngomongin soal magang. Bagusnya aku datang tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Kalau tidak selesai aku tak bakalan dapat uang. Apakah aku harus mengorbankan salah satu?

Adalah sebuah kehidupan segala sesuatu harus ada yang dikorbankan. Kalau punya tape recorder mau minta bantuan teman untuk merekam pembicaraan Ketua Prodi. Aku ingin memenuhi keduanya. Terlanjur sudah janji pada Eka dan Lia. Hari Senin tadinya ingin berkonsentrasi mengetik materi dan belajar perispan UTS Asuransi. Aku ingin fokus pada satu hal.

Kemarin UTS matakuliah Auditing sudah optimal kukerjakan. Namun hasilnya aku tidak yakin. Aku tidak ikut-ikutan mencontek sana sini seperti mereka yang tak mau belajar dan tak mau jujur. Aku harus membiasakan hidup jujur dan sehat. Aku berhasil memerangi kemalasan dengan setiap Minggu bisa lari pagi ke Manglayang sekalian mencari-cari kecengan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori