Oleh: Kyan | 01/05/2006

Mereka Bilang Aku Melankolis

Senin, 01 Mei 2006

Mereka Bilang Aku Melankolis

**

Kini aku termangu menatap wajahnya yang tersipu. Lidahku kelu menala diafragma tanpa hembusan kata. Dia selalu diam bagai cadas batu tanpa sedikitpun beranjak mendekatku. Tak kumengerti apakah ia diam sebagai persetujuan ataukah diam-diam mengharap lebih jelas lagi sapaanku. Gejolak terus membahana dan pertanyaan memenuhi purbasangka. Membumbung memercik amarah menjadi murka.

Sekarang akupun diam. Semakin hari semakin tak terperi manis-manis luka. Mengusik kesadaran dalam penantian. Semakin tidak kumengerti luapan hati ini. Kenapa aku dibuatnya semakin gila karena dia. Aku tak dapat memahami maunya hatiku dan dia. Ingin kubuang saja segala cerita yang sempat tercitra. Dimanakah aku dengan dia.

Suatu kali aku sempat berkata. “Aku tahu, aku harus menjadi seperti dalam harapanmu. Satu cerita yang pernah kau ungkap saat itu, membuatku semakin tinggi dalam mengharap padamu.” Mengharap hanya pada sebuah harapan. Aku yang terdampar di belantara, engkau datang membawa cerita cinta. Namun aku terhempas pada permainan teka-teki perkataanmu.

Pernah takut tidak bisa menemuimu malam itu. Tapi akhirnya ada jalan untuk menjumpaimu. Dan ketika kita bertemu, kusangka aku telah jadi pahlawan cinta dengan mengucap janji sehidup dalam cinta. Terus aku menunggumu di batas waktu kita. Tapi kesabaranku menunggu dan penantianmu menyembuhkan luka, tercipta sebuah cerita pilu. Menggejala melodrama dalam mengeja kenangan tanpa penghabisan.

Sebuah pengharapan yang tiada terperi. Mengharap cinta seorang perempuan untuk kembali kepada Tuhan. “Tuhan, aku belum pernah merasa dicintai oleh seorang pun perempuan. Aku diberitahu bahwa cinta perempuan katanya begitu dalam. Namun aku melihat kebingungan dalam diam dan nanar. Tuhan, aku ingin mendengar sekali saja dalam hidupku seseorang berkata kepadaku, “Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu, lebih dan lebih.” Itu saja ingin kudengar dari bibir merahnya perempuan sebelum aku menjumpai ajal.”

Engkaukah sayap patah hatiku yang hilang. Engkaulah perban yang menyelimuti aku dalam kesembuhan. Kembalikan padaku senyap-senyap malam. Sadarlah kekasih engkau tak dapat pergi karena jiwamu telah mewujud diriku. Mungkin engkau bisa terbang membumbung tinggi dengan satu sayap. Namun dalam perjalanan semakin hilang keseimbangan dan bahkan jatuh dalam kubangan.

Meskipun di setiap sudut diriku masih tetap dalam kegelapan. Meski hari-hariku tanpa matahari. Malamku masih larut dalam kesenduan. Tapi aku masih bisa bermimpi untuk mengetam masa depan. Masih ada waktu untuk menanti sang dewi malam. Sekerjap lagi hari segera siang dan aku bisa menjumpai matahari menuju teriknya siang harapan. Ketika senja tiba, aku bisa mendekap malam. Aku telah bisa kembali pada pangkuan sang bunda. Dalam dekapan paling mesra dan hangatnya sentuhan.

Namun sepertinya saat ini, aku masih tak menyadari aku masih di sini. Aku yang sedang menulis cerita ini masih saja menangisi kedisinian dan kekinian. Seperti tak ada teman untuk dapat kuceritakan tentang luka. Tak ada saudara yang mengerti bahwa  tak ada kekasih sungguh menyakitkan. Tak ada semuanya yang memberiku semangat dan teladan. Aku hanya sendirian di sini di sudut kamarku ini.

Akhirnya kudengarlah lagu-lagu sedih untuk mencari nuansa hati satu frekuensi. Lagu melankolis katanya jangan engkau perdengarkan. Karena dapat menggerus semangat dan kesembuhan. Meski dapat mewakili nuansa hati, tapi segeralah bangun dari tidur siang. Tapi bila bawaanku murung, apakah itu memang sebagai pribadi melankolis?

*

Banyaknya persoalan, membuatku menghadapi ujian Asuransi tidak bisa berpikir jernih dalam menyusun jawaban. Aku dibuat kaku tak bisa menerawang jauh mengembangkan uraian. Banyak soal yang tidak kuisi sempurna. Mungkin karena aku belajar hanya sisa waktu saja, karena selebihnya sibuk mengurusi cinta yang kunjung tak terselesaikan. Karena UTS Asuransi soalnya teksbook thinking. Jadi harus banyak menghapal. Sudah penuh otak dengan hapalan. Sudah kumat dalam lelah ujian yang kekanak-kanakan.

Sewaktu MKS main bola, sebenarnya aku ingin belajar buat persiapan UTS. Namun takut dianggap tak solider dan kaku dalam memegang prinsip keteguhan dan kesetiakawanan, aku datang dalam sorak-sorai. Bersorak dalam kegembiraan yang sebentar hilang hanya dalam satu kedipan. Karena terlalu menumpuknya pertanyaan.

Aku harus berpegang pada prinsip. Bukan waktunya aku terombang-ambing menuruti segala omongan orang. Aku harus tuli pada mereka dan biarlah aku berjalan sekehendakku. Aku ingin bebas menjalani kebebasan. Mereka pada mencontek atau kerjasama dalam ujian, biarlah itu untuk mereka. Tapi tidak bagi diriku.

Kuliah buan sekedar mengumpulkan angka-angka dan nilai. Aku harus berubah dengan pola pikirku yang tercerahkan. Itulah harapan dari kuliahku dalam kepulanganku. Meskipun aku berbicara masa depan yang begitu biru, tidak memiliki apa-apa untuk menyongsongnya, setidaknya aku masih bisa melihat cahaya, meski sinarnya kian redup dalam hembusan dan rongrongan. Kulihat suluhnya menumpuk di mana-mana. Tinggal aku meraciknya menjadi pemantik cahaya.

Orderan membuat proposal sudah kelar. Mudah-mudahan mereka membayarnya lumayan. Selembar pikiran dan mengetiknya sungguh berharga dan sangat mahal pengorbanannya. Tadi Diah meminta juga dibuatkan proposal. Namun aku menolaknya karena dikhawatirkan tidak selesai pada waktunya. Besok akan kutanya lagi bagaimana apa sudah dikerjakan. Mila Kurnia juga sudah dua kali ke kosanku meminta contoh proposal. Katanya kalau disketnya gak kebaca, mau memintaku diselesaikan. Karena bisnis jasa pengetikan lumayan.

Menghadapi ujian mau kuhadapi dengan serius. Tapi sampai menulis ini aku belum perisapan belajar dan malah begitu cepatnya rasa kantuk menyerang. Makan cuma duaribu tapi ada daging ayamnya. Ibu warung nasi baik sekali padaku memberinya daging. Mungkin kasihan padaku makan yang cuma makan pakai tahu dan tempe kering. Makan banyak atau sedikit tetap saja aku gak gemuk. Masih kurus kering seperti jarang sekali makan.

Aku malah menonton serial Kiamat Sudah Dekat. Masih bercerita tentang sebuah perjuangan cinta yang tak mengenal kelas dan status. Cinta akan tetap bersemi bagi dua jiwa yang telah berjanji di ruang batin masing-masing. Entah apakah sejak jaman ajali dalam buaian ataukah karena kebetulan atau diusahakan. Aku harus percaya dan memang aku percaya pada kekuatan cinta.

Cinta dalam bahasa arabnya Mahabbah. Mahabbah identik dengan cinta Tuhan sebagai kekasih. Tuhan sebagai sisi feminimnya, sophia. Cinta kepada perempuan juga sebagai derivasi cinta Tuhan. Cinta Tuhan pada makhluk-nya ibarat cinta perempuan. Cinta yang mendalam tapi secara kasat mata seolah tak terlihat dan terasakan. Seolah tidak terjadi dan tak tergoyahkan oleh angin ataupun hujan. Karena tidak menyadari betapa luasnya kasih dan sayang Tuhan.

Namun aku tetap saja melihat sosok yang mampu mendeklamasikan cintanya untukku . aku ingin bukti bahwa aku dicintai olehnya. Perasaanku sudah mencintai namun tanpa balasan. Malah ada hanyalah persoalan dan keterkungkungan. Tak ada cinta mungkin bagiku. Lantas selamanyakah kuharus kesendirian. Aku masih terbawa melankolis malam ini. Selalu saja begitu yang seolah tak ada habisnya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori