Oleh: Kyan | 04/05/2006

Jalan Cinta Bukan Pamrih

Kamis, 04 Mei 2006

Jalan Cinta Bukan Pamrih

**

Ketika aku bangun, yang pertama kali kuingat adalah dia. Dia yang bersenyawa dalam lantunan kata yang mengeja namanya. Setiap bunyi huruf dari rangkaian namanya mengalun indah menghembus dari lubang-lubang seruling Dawud. Namun di penghabisan kata, tiba-tiba saja lidahku tercekat, sehingga menjadi tak sempurna mengungkap makna.

Selalu berdoa supaya aku masih diberi kesempatan hidup untuk menatap kerlingan nafasnya dan denyut suaranya. Kuingin bersama menjalani sebuah kehidupan untuk menyatu membangun istana yang tersematkan pada dua jiwa satu cinta. Sungguh aku merindu padanya. Aku ingin mengabdikan sepenuh nyawa kepadanya. Tapi dimankah dia.

Kemanapun aku menghadap ke segala penjuru langit cakrawala adalah wajahnya. Ketika aku menapaki jalan, setiap langkah yang menyeretkan namanya ke ruang sidang, memohon pengadilan. Mengingat berbagai-bagai hal semua menjadi hakikat dirinya yang terpenjara. Bukan dirinya yang membuatku terus memanggil-manggil dan menjeratku pada teralis penjara ini. Tapi karena aku adalah jiwanya. Aku adalah jiwanya yang hilang dan kini sudah kembali menemukan inangnya.

Maka aku bahagia ketika kebersamaan dengannya. Aku tak bisa hidup tanpa kulihat senyumnya. Setiap hembusan adalah persenyawaan nafas kerinduan. Tanpa sebuah rekayasa, terpatri saja selalu ingin menatap pancaran sinar-nya. Jika aku tak memiliki dirinya, aku semakin tersiksa terpenjara. Hatiku merasakan ini apakah karena ia telah memberiku luka, ataukah karena jiwanya yang hilang dia yang sesungguhnya menderita? Sampai kapan kesembuhan luka hati pulih kembali bila terkerangkeng teralis kesopanan dan tradisi. Bagaimanakah untuk mengobati kegelisahan hati ini?

Ya Allah, Engkaulah yang memberikan perasaan padaku bahwa aku selalu merindunya. Aku ingin memiliki cinta dan ingin dicintai. Sungguh aku begitu sayang padanya. Tak ingin dia menjadi milik orang lain. Aku selalu berpikir bagaimana menemukan cara untuk menjadi pendamping hidupnya. Kenapa? Karena cahayanya terus merasuki semakin dalam. Tapi aku takut menjadi insan pendosa.

Duhai perempuan, adakah ruang hatimu untukku, untuk kuisi dengan cintaku. Kusirami selalu rasa ini dengan pengabdian yang tiada terperi. Demi membahagiakanmu aku rela melakukan apa saja asal engkau bahagia bersama. Sampai kapan engkau selalu menyiksa batinmu sendiri. Tak puaskah pula engkau melihat penderitaanku ini.

Pandanglah aku ini seperti anak kecil atau bayi mungil yang mengiba meminta air susu kasihmu. Merengak-rengek mengharap engkau mengtahui dan memahami. Kenapa engkau tak pernah mau menelusuri relung hatiku bahwa cintaku padamu begitu menggebu. Mampukah dunia berpeluh rindu karena cintaku ini.

Begitulah menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dalam menulis catatan harian. Dalam setiap hari aku tak ingin melewatinya mereka-reka dan menerka. Selalu muncul ingin segera menulis seolah-olah ingin cepat memberi kabar padanya. Tentang segala hal yang sehari-hari kulakukan. Tentang kebahagiaanku, juga tentang kegundahanku. Tak mau terlewati hari-hari yang berkesan dan berarti. Tak ingin terlupakan begitu saja hari-hari gembira dan luka.

Terutama tentang kisah cintaku, pergolakan pemikiranku, melawan diriku sendiri dan lingkunganku dalam memandang segala hal, termasuk penjelajahan pemikiran ideal tokoh-tokoh Islam. Hanya aku ingin memiliki makna dalam setiap peristiwa. Makanya aku menulis. Makanya ingin aku menjadi penulis

Aku membaca buku, karena ingin menjadi diri yang terbaik. Dengan menunjukkan sikap terbaikku. Selalu kuberusaha ke arah itu mencari-cari daya dan upaya. Namun aku manusia yang tak memiliki apa-apa. Karena pantulan cahaya-Nya, bukan sinar-Nya, aku begini adanya. Jangan kau harapkan aku bukan sebagai takdirku. Tapi aku ingin membahagiakanmu dengan caraku dalam memahamimu. Tapi yakinlah bahwa aku memiliki seribu cara yang tak terpahami olehmu. Satu yang kupinta, buatlah duniaku dan duniamu tersenyum selalu.

*

Teman-teman kelas pada menjiplak tugasku. Banyak yang sama meski dilihat secara sepintas. Memang jiplak-menjiplak sudah menjadi biasa, tiru-meniru adalah jalan keunggulan, tapi jangan taklid buta. Bukankah setiap orang mempunyai pikiran yang unik dan brilian. Semua adalah Masterpiece kehidupan. Bila segala milik yang menjadi khasmu dioptimalkan, niscaya akan membangun keharmonisan. Mengharap orang lain sesuai dengan pikiran idealku memang susah.

Tapi saat ini sebaiknya mengharap diriku sendiri sebagai pikiran idealku. Aku mampu menjadi pikiranku sendiri. Antara stimulus dan respon ada ruang kosong yang bisa kuisi dengan sikap optimis atau pesimis. Makanya aku mampu melakukan suatu perubahan. Aku tidak boleh bergantung pada orang lain, pada suatu hal di luar diriku, termasuk cintanya kepadaku. Tapi jalan keunggulan hanya ada ketika di sisiku ada perempuan menemaniku. Maka dengan itu, duhai perempuan pilihan hatiku, pilihlah aku untuk menjadi kekasihmu.

Kemalasanku ingin kudobrak. Maka pagi hari ini aku bisa lari pagi dan main basket dengan Deri dan Hilman di lapangan kampus. Baru pertama kali aku memegang bola basket semenjak aku lulus SMU dulu. Terakhir aku basket ketika ujian praktik olahraga kelas 3 SMU. Masih ingat sehari dan beberapa hari sebelumnya, di hari Minggu aku, Andrew, dan Ayun meminta Try Prayitno untuk mengajari kami mengolah bola, dimana kami menghadapi tes ujian olahraga.

Kawan kami satu ini, dia memang jago basket. Dia yang paling mahir mendribble bola basket di kelas kelas IPA-1, kumpulan anak-anak PIPIS. Pelajar Ilmu Pasti IPA Satu. Kabar terakhir sekarang dia masih kuliah di IPB dimana dulu dia masuk lewat PMDK. Apakah dia sudah lulus atau belum belum kudengar kabar kabarnya lagi. Kebaikannya selalu kukenang sepanjang hayatku. Begitupun dengan diriku jika pernah berbuat baik, niscaya orang akan mengingat kebaikanku. Sudahkah aku berbuat baik pada setiap orang yang kutemui.

Hari ini aku bahagia, karena aku terbebas dari hutang-hutangku. Hutang membeli buku “Mencintai Tuhan Lewat Perempuan” ke Hilman sudah kubayar. Hutang membayar listrik pun sudah. Dan buat makan sebulan sudah menyimpan di warung.

Paling sekarang menyediakan uang buat fotokopi materi kuliah dan ongkos survey ke lapangan. Karena aku kuliah diploma harus banyak kuliah lapangan. Di bulan ini aku bisa menyimpan uang limaratusribu inginnya aku depositokan. Tapi ketika mencairkannya mesti membeli materi enam ribu. Bagi hasilnya apa bisa mencapai lebih dari itu. Lebih baik kutabung saja.

Pokoknya bulan Juli nanti aku harus membeli handphone. Aku harus membangun dan membina jaringan lagi dengan teman atau relasi bisnis. Setahun lagi kuliahku bakal kelar. Sisi lain aku harus bekerja, tapi aku ingin melanjutkan sarjana. Daripada pusing dari sekarang lebih baik bagaimana nanti saja. Pokoknya selepas kuliah aku harus punya penghasilan dan kuliah ke sarjana. Pokoknya selepas kuliah juga harus punya penghasilan. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri secara finansial. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku bisa menjadi tumpuan harapannya. Sekarang aku mau membeli handphone yang melandaskannya adalah cinta. Sebuah pengabdian pada cinta.

Hari ini Eka, Lia, dan Lilis berkunjung ke kosanku, sambil membawa gado-gado buatku. Mereka sungguh baik padaku membawakanku makanan. Terima kasih dik manis. Mereka telah kuanggap sebagai adikku sendiri. Eka dan Lia mau membayar jasa pengetikan tugas BMT. Mereka membayar duapuluhribu, sungguh besar sekali. Kuucapkan syukur alhamdulillah. Sekecil apapun itu adalah hasil keringatku sendiri. Aku bahagia dan bangga bisa mendapatkan penghasilan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori