Oleh: Kyan | 06/05/2006

Dengan Segala Rasa Persahabatan dan Cinta

Sabtu, 06 Mei 2006

Dengan Segala Rasa Persahabatan dan Cinta

**

Badanku pegal-pegal dan linu. Karena aku jarang berolahraga dan tak terbiasa main basket, begitu setelah latihan basket pagi kemarin membuat persendian jadi sakit. Hari ini yang kedua kalinya aku latihan basket. Aku ingin sekali bisa bermain basket. Aku ingin sekali jago basket. Mungkin setiap pagi aku bisa latihan. Untuk bisa perlukah aku membeli bola sendiri. Kalau punya bola ntar malu. Mempunyai bola basket tapi gak bisa basket.

Justru karena ingin bisa, makanya ingin membeli sarana dan prasarananya. Seperti aku sering renang makanya aku punya kacamata renang. Aku percaya diri memilikinya. Sekarang aku ingin mempunyai kemahiran selain renang. Karena renang adalah olahraga individual. Sekarang aku ingin jago dalam olahraga permainan kelompok. Tak satupun yang bisa, sepak bola atau boa voli aku tak bisa. Kapan aku mencoba bermain dan latihan.

Kehidupanku jauh dari hiruk-pikuk perkumpulan atau gerombolan olahraga. Aku senangnya baca buku mojok sendirian di manapun. Seringnya di kamar, di masjid, atau di taman. Entah kenapa aku sukanya membaca bukan yang lain. Aku selalu ingin membaca. Andaikan aku tak punya kewajiban ini waktuku ingin kupakai buat membaca saja

Mungkin aku ini disebutnya individualistis dan asosial. Tidak tahu kenapa bawaanku begitu. Seolah aku merasa nyaman bila aku sendiri. Meskipun aku terkadang kesepian menjalaninya. Sampai saat ini aku belum punya kisah yang romantis untuk kukenang. Waktu SMU aku tak sempat seperti mereka, yang asyik pacaran, nongkrong, dan jalan-jalan. Menjadi anak rohis segalanya harus terkontrol.

Lantas apakah sekarang aku telah merasakan cinta yang menggebu. Aku betapa ingin memilikinya sejak beberapa dari pertemuan itu. Namun aku tak punya kuasa untuk dapat merengkuhnya. Aku lemah tak berdaya ketika dia tak memiliki rasa. Terkulai dan terbuai dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

Aku yang ingin mendambakan keindahan dan kebahagiaan. Aku semakin terlunta-lunta terhempas bagai cinta yang mengambang. Hanya kecemasan dan ketakutan yang menggebu di dada. Aku yang tak pernah berhenti untuk mencintai dan permasalahannya masih itu-itu saja. Memang aku sangat cengeng dengan masalah menginginkan sosok perempuan yang entah sampai kapan.

Kukonsentrasikan buat besok Senin menghadapi ujian Bank Komersial. Tapi ada yang bilang tak ada UTS. Antara ada yang bilang ujian dan tidak. Semestinya tak usah peduli dengan mana yang benar dan salah. Mau menghadapi ujian tak ada ujian harus tetap belajar. Ingatlah setahun lagi aku akan segera kelar kuliah, apa yang kudapatkan.

Namanya jurusan Manajemen Keuangan Syariah. Aku harus menguasai dasar-dasar Manajemen, Akuntansi dan Syariah. Aku belum pede dengan kemampuan ilmu Akuntansi. Tapi kalau di tempat kerja, aku yakin bisa karena langsung praktik. Soalnya anak SMU saja mampu, apalagi aku selama tiga tahun bergelut dengan latihan soal Akuntansi.

Keterlaluan jika tidak bisa. Nanti juga aku ditraining di tempat kerja baru. Sekarang adalah kemampuan yang harus dikuasai dasar-dasar dan alatnya. Seperti bahasa Inggris dan Arab. Kapan aku mampu berbahasa Inggris dan Arab. Lemah tak berdaya dengan ketidakmampuan dua bahasa ini.

*

Malam ini Deri, Hilman, dan Aceng menginap di kosanku. Aceng membawa Permen Susu dari rumahnya, Pangalengan. Dia baru saja datang selepas Maghrib. Kami tidur jam duabelas malam. Biasanya kalau ngumpul-ngumpul begini, tak lepas dari ngobrol dan nonton TV. Sisi lain sebenarnya aku tak begitu suka pada berkumpul yang tak ada tujuan pastinya. Aku ingin berbicara hal yang bermanfaat. Tapi akupun harus bisa menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan teman-teman.

Bila kuingat kebiasaan waktu SMU, ketika kelas satu banyaknya aku sering nongkrong dengan anak-anak bandel angakatan kelasku. Aku ikut nongkrong di jalan sampai malam. Tapi waktu kelas dua aku sering kumpul-kumpul dengan anak rohis dan kelas tiga seringnya dengan teman-teman sekelas. Berkumpul dengan anak rohis ya disebut nongkrong juga. Hanya pusat nongkrongnya berbeda, yaitu masjid sekolah.

Meskipun kelas satu aku sering nongkrong dengan anak-anak bandel, aku dan sebagian dari mereka ketika waktunya adzan Maghrib kami berangkat ke masjid untuk salat. Saat kelas dua berkumpul di masjid kami mengadakan latihan nasyid, pengajian ke DT-nya Aa Gym, mengerjakan tugas sekolah bareng-bareng. Tapi ketika kelas tiga banyaknya aku jalan-jalan bersama teman-teman sekelas. Kami pergi menonton, makan-makan, dan terasa sampai sekarang masih ada saling keterkaitan kedekatannya. Persahabatan diantara kami kurasakan masih kental, meskipun sudah mempunyai aktivitas sendiri-sendiri.

Kalau ingin membina persahabatan harus melakukan sesuatu dengan bersama-sama. Bila kau ingin mengenal seseorang ajaklah dia jalan-jalan dan bagaimana cara dia makan, niscaya tumbuh keakraban. Saat bersama itu niscaya akan dikenang oleh yang mengikutinya. Namun kadang muncul pertanyaan apakah kegiatan bersama-sama itu untuk membangun masa depan? Dan apa kontribusiku pada pembentukan masa depan mereka. Apakah ini hanya pertanyaan yang muncul dari jiwa yang asosial?

Harus kuakui walaupun sedikit pertautan, dalam persahabatan tidak bisa tidak akan saling mempengaruhi dalam pembentukan pola pikir, gaya hidup dan orientasi masa depan masing-masing. Masalahnya sejauh mana efektif dan efesiennya dalam membawa perubahan besar bagi hidup masing-masing. Tapi mungkin sekecil apapun jangan dianggap remeh soal pengaruhnya pertemanan. Bila berteman dengan pecundang, kau tidak akan kemanapun.

Aku mengharapkan kebersamaan itu dalan rangka dan difokuskan untuk meraih masa depan. Bukan sekedar bareng-bareng ngumpul-ngumpul bincang-bincang yang tak karuan. Kalau mereka gak bisa mewarnaiku, akulah yang harus mewarnai mereka dengan segala kebaikan dan nilai-nilai. Aku harus memberi sesuatu pada mereka.

Dan hari ini datanglah seseorang. Begitu kurasakan mesranya berkomunikasi dengannya. Selah-olah keduanya ingin saling dimanjakan. Sebuah pengabdian cinta memang terukur dengan materi juga. Tapi aku menginginkan sebuah pengabdian tak bisa diukur dan dibalas dengan maeri. Aku butuh sebuah pengakuan. Sesuatu yang gampang-gampang susah untuk mengakui apa yang menjadi perasaan.

Sore hari aku pergi ke kosannya mau meminta modul bahan-bahan UTS BKS. Ia sedang menontn TV. Dia bercerita suatu saat nanti ketika punya anak mau diajarkan membuat laporan keuangan. Supaya katanya sang anak bisa mengembangkannya. Akhirnya ia sering berbicara denganku tentang pernikahan, setelah dulu ia seperti alergi dan muak bila mendengarnya. Apakah dia berbicara tentang anak-anak yang kita besarkan nanti. Sebagai tanda apa ketika sekarang ia di depanku sering berbicara tentang anak.

Ia telah menganggapku seperti kakaknya sendiri. Apakah ia sudah merasa nyaman ketika kebersamaan denganku. Aku tak boleh terlalu percaya sepenuhnya. Dan tak boleh berhenti berharap juga. Tapi aku akan selalu terpaut padanya. Aku percaya padanya, bahwa dia mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Entah itu anakku atau anakku. Aku sungguh begitu berpautan pada jiwanya. Dan kadang telah mengalahkan unsur-unsur materinya. Semuanya aku kembalikan pada Tuhanku. Tuhanlah yang memberi rasa ini.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori