Oleh: Kyan | 09/05/2006

Cinta Seorang Ibu dan Kekasih

Selasa, 09 Mei 2006

Cinta Seorang Ibu dan Kekasih

**

Tiada kata yang terindah selain kata “ibu”. Tiada kata yang menjadi pemanis bibir umat manusia selain kata “ibu”. Satu kata yang penuh dengan harapan dan cinta. Ia menjadi pelindung dan penghibur dalam kedukaan, harapan dalam kekalutan, dan kekuatan dalam kelemahan. Ia yang menitikkan air mata atas semua sengsara hidup anaknya. Ia adalah sumber cinta, belas kasih, simpati dan pengampunan. Sengsaralah yang kehilangan ibunya. Ibu bagi kehidupannya. Ia telah kehilangan jiwa murni yang terberkati.

Kutelepon ibu, kurasa seorang ibu bahagia mendengar suara buah hatinya. Sebuah pengabdian ibu pada anaknya tak terkira. Aku yang mengabdi pada ibuku, sudah sejauh manakah. Aku ingin bertanya pada sayap malamku. Bagaimanakah dalam mengabdi pada ibu. Karena jiwanya adalah ibuku. Ketahuilah engkau adalah ibu bagi kehidupanku.

Untuk bulan ini ibuku sudah mengirim uang enamratusribu, dan tanggal lima Mei sudah mengirim lagi empatratusribu. Penghasilan ibu sangat besar jika bisa memberi sebanyak itu. Demi ingin mengabdi pada anak-anaknya. Beliau siang malam bekerja dan berdoa untuk anaknya. Lantas sadarkah anak-anaknya. Tanda kasih seorang ibu, ia memberi penghidupan untuk anaknya, baik itu materi dan non-materi. Aku sekarang ini hanya ingin finansial saja. Aku sudah tabah dalam menghadapi segala rintangan hidup, semoga semakin tabah. Tapi untuk keuangan aku belum bisa mandiri.

Apakah aku punya masa depan? Setiap orang pasti punya masa depan. Orang bilang padaku Insyaallah kamu sukses. Kupikir telah orang banyak berkata begitu padaku sejak aku kecil. Apakah ini sekedar memberi motivasi biasa saja ataukah memang aku memiliki hal yang dapat mengantarkanku ke pintu sukses. Semoga itu selalu menjadi inspirasi dalam menapaki masa depanku. Namun semua cita-cita, harapan, dan cinta kukembalikan pada kehidupan. Aku hanya mengabdi kepada-Nya bersama seorang perempuan.

Perasaan tak enak muncul ketika aku sudah bersentuhan tangan bersalaman dengan seorang perempuan. Bahkan ia mau mencium tangan di depan sang bidadariku. Apakah dia melihatnya, aku merasa bersalah. Aku harus lebih menjaga sikap terhadap perempuan. Perempuan begitu sensitif. Bila tidak peka, bukan perempuan namanya. Aku ingin menghormati perempuan.

Ada lomba karya tulis ilmiah tentang perempuan dalam perspektif. Aku ingin mencoba ikut lomba tersebut. Sangat menarik untuk dikaji tentang kehidupan perempuan. Aku selalu mengharap datangnya perempuan. Duhai permataku, izinkanlah aku mengenal dan menguakmu sebagai bahan persembahan ini. Senantiasa menyalalah selalu dalam temaram berjuta jiwa. Menyalalah dalam meniti pencarian. Engkau kunanti sepanjang hari. Menuai hari-hari yang penuh mimpi. Kupersembahkan padamu surga terang cahaya menyala-nyala.

Aku sudah janjikan padanya jam delapan kutunggu dia di wartel pintu gerbang kampus. Tak mau menunggu lama, kutelepon dia dan ia bilang masih mencuci pakaian. Lalu aku menjemput ke kosannya. Sampai di kosannya, ia sedang menjemur cucian. Semula aku tak mengenalnya. Karena aku melihat perempuan berwajah lain seperti yang biasa kulihat selama ini.

Tiba-tiba ia membelitkan ujung kerudungnya menutupi hidungnya, seperti memakai cadar. Tampaklah wajah bak gadis Pakistan. Tapi sebentar kemudian ia membuka kain cadarnya, dan barulah aku mengenalnya. Ia bilang tak tahan dengan bau sampah. Memang kulihat ada laki-laki paruh baya sedang membereskan sampah yang menumpuk di sudut dekat dapur. Ia masih belum mandi juga, terpaksa menunggu lama di kamarnya sambil kulihat-lihat penataan kamarnya.

Dan setelah beres semuanya baru kami berangkat dengan tujuan ke Bank Muamalat Ujungberung. Kurasakan kebersamaan dengannya adalah saat-saat terindah. Kuyakinkan diriku dengannya ke BMI adalah untuk mencari ilmu bukan untuk berkhalwat. Apakah ini sebagai pembenaranku saja? Kuterima apa-adanya apa kata orang, karena semua itu adalah jiwaku sendiri.

Fitnah? Koridor syariat itu kupahami adalah jangan sampai harmonisasi alam terganggu. Jangan sampai jenis hubungan lelaki dan perempuan membuat keteraturan sosial menjadi timpang. Untuk menghindarinya Islam melarang hal-hal perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu keteraturan alam dan sosial. Misalnya karena pergaulan yang bablas terlahir anak dari hasil perzinaan itulah yang dapat meruntuhkan tatanan.

Rasionalitasnya adalah bahwa pasangan pezina itu belum berani datang kepada penegak hukum, yang berarti ia belum berani berikrar janji. Tapi malah keduanya sudah mengambil segala konsekuensi dari ikrar janji. Termasuk sampai berhubungan badan dan melahirkan. Karena tidak tercatat secara hukum dan disaksikan, bisa saja syaitan mengantarkan manusia menghindari komitmen pertanggungjawaban. Ia yang belum berani datang ke pencatatan sipil, berarti belum memiliki kesiapan untuk membesarkan sang buah hatinya bila nanti membuahkan hasil atas percintaannya itu. Akhirnya tanpa tanggung jawab penuh sebagai orang tua, maka hilanglah perkembangan kemanusiaan jabang bayi itu.

Diantara kami berbicara tentang ibu. Ketika aku tadi bersamanya ke BMI, kubuka pembicaraan bagaimana seharusnya membahagiakan orang tua. Ujungnya diketahui bahwa ibunya sudah wafat. Usia ayahnyapun sudah tujuhpuluh tahun. Pantesan ia selalu berbicara tentang kakak dan kakak. Karena kakaknyalah yang membiayai kuliahnya, selain penghasilannya sendiri. Hari ini ketika kami mencoba mengenalnya lebih dekat lagi, aku baru tahu bahwa sang ibu bidadari sudah tiada.

Ibunya sudah meninggal ketika dia masih SMU. Bersahabat sudah mau dua tahun, aku baru tahu sisi keluarganya sekarang. Pantas saja ia begitu tertutup padaku. Apalah artinya selama ini aku dianggap sebagai kakaknya. Ketika aku ingin mengetahui segalanya, cepat-cepat bilang “privasi”. Seberapa jauh ke keprivasian seseorang, bagiku rasanya tak ada yang dibuat rahasia. Bagiku semuanya ingin kukatakan biar tidak menjadi beban.

Dia begitu unik dalam pandanganku. Sangat berbeda dari para perempuan yang kutemui. Kuingin memberi terbaik untuknya. Aku ingin membahagiakannya. Namun pepatah bilang, bila kebersamaan dengan kita kekasih tidak menjadikan ia bahagia, lebih baik berpisah dan relakan saja apapun demi kebahagiaan sang kekasih. Termasuk membangun ikatan baru dengan lelaki lain.

Pulang dari Bank Muamalat dia pulang ke kosan sementara aku turun di kampus. Lalu mampir ke bazar buku dan menemukan satu buku menarik, Ensiklopedi Tokoh Muslim. Uang yang tadi kutabungkan di bank kuambil lagi dengan ATM. Dan ternyata tadi aku menabung belum masuk ke rekening Shar-E.

Kenapa telat masuknya, katanya online. Kalau gak salah waktu SMU transfer di bank BCA cuma tiga menit sudah masuk. Tadi sudah empat jam belum masuk juga. Harus wajar pelayanan bank syariah masih dalam pembenahan. Peningkatan pelayanan harus terus dikembangkan untuk dapat bersaing service excellence. Besok jam sembilan pagi aku harus ke BMI lagi, sudah janji dengan bagian marketingnya dan aku mengungkap kekecewaan dengan pelayanannya. Aku hanya datang sendirian, karena dia harus pergi bekerja.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori