Oleh: Kyan | 12/05/2006

Bahagia Dalam Pekerjaan

Jum’at, 12 Mei 2006

Bahagia Dalam Pekerjaan

**

Di kala pagi menghampiri, aku bangun tersentak. Menikmati hari pagi sampai senja. Sujud penuh syukur pada Tuhan semesta. Terima kasih Tuhan atas nikmat-Mu yang dipersembahkan untukku. Aku bergegas pergi ke kamar mandi. Pagi ini aku harus segera menemui pak Ery Novari, bagian Sekjur MKS untuk menindaklanjuti pembicaraan surat magang.

Pagi-pagi keinginanku untuk jajan tak tertahankan. Jajan bubur ayam yang cuma seribu rupiah diantara dua pilihan. Tadinya aku ingin berdisiplin diri ingin berhemat, tapi tetap saja ada pelangaran aku ingin jajan. Aku masih tak bisa mujahadah dan riyadah. Membangun disiplin tanpa komitmen adalah absurd.

Sampai di kampus kulihat para dosen sedang senam pagi. Karena hari ini hari Jum’at mereka selalu mengadakan senam. Selain menyehatkan juga sebagai media kebersamaan dan pembangunan semangat kedekatan dan keakraban. Bertemu pak Aden, dosen Manajemen Haji dan Umrah. Ia cuma memberi sungging senyum. Aku tak bisa berbasa-basi. Tak ada contoh kata yang bisa kuucapan dalam bercengkrama. Aku bisa ngobrol seadanya.

Tapi dengan perempuan selalu saja ada pembicaraan. Depan Fakultas bertemu anak kelas semester dua. Diantaranya disana ada Sinta. Sudah lama aku gak bertemu dia. Kuhampiri dia dan iapun mendekat padaku. Lalu ia bilang, “A’ Iyan aku sudah putus sama A’ Rizki.” Dia berkata begitu, aku antara kaget dan tidak kaget. Sekejap itu mereka menjalani ikatan. Tidak kaget karena sudah kuprediksi siapakah sesungguhnya Rizki, teman seasramaku itu.

Namanya pacaran pasti ada kata putus. Namun persahabatan tak ada putusnya. Walaupun dalam persahabatan ingin lebih dan lebih. Ingin saling memiliki dan mengakui atau diakui. Tapi bila tak mau menerima resiko terlalu besar, mungkin lebih baik TTM=Teman Tapi Mesra saja atau Hubungan Tanpa Status (HTS). Itu bila tak mau ada ikatan diantara mereka dan diantara aku dengannya. Namun siap saja muncul rasa kecemburuan jika perempuan itu akhirnya memilih menjalin hubungan dengan lelaki lain.

Bila sekedar sobatan memang membuatku bisa lebih dekat dengan yang lain. Aku bisa bebas dekat dengan perempuan manapun, tanpa harus tahu diri meskipun mungkin akan dicemburui. Tapi masalah hubungan selalu penuh lika-likanya. Tak pernah diam dan tak pernah tak ada masalah bagaimana hati.

Bertemu Pak Syarif. Ia bilang surat magangnya belum selesai. Sudah bisa dipastikan birokrasi kampus memang bisa lama dan lambat. Jika pergerakan kita cepat, tapi di samping kita lambat, akhirnya berimbas padaku yang tak ada percepatan dan tak ada motivasi untuk lebih cepat lagi. Budaya Indonesia pada malas-malas. Bila aku bergerak cepat sendirian, sekelompok saja, sering tak bisa tahan oleh pengaruh dari luar. Meskipun antara stimulus dan respon ada ruang kosong untuk memutuskan, sebuah pilihan, free will mengisinya dengan optimisme ataukah keputusasaan.

Sinta sudah pergi bersama kawan-kawannya yang mungkin sudah masuk kuliah. Aku mampir baca koran di perpustakaan Fakultas. Kubaca artikel UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Kebetulan sekali ada bahan untuk mencoba ikutan karya ilmiah dengan kira-kira judul “Pornografi Dalam Perspektif”. Tapi tugas kuliah pada belum selesai bagaimana aku memulai mengumpulkan bahan tulisan. Senin ada UTS Bank Komersial. Besok Sabtu mau mengikuti latihan Psikotes yang waktunya hampir seharian.

Bila ini tidak kuambil itung-itung latihan buat melamar kerja. Aku selalu ingat dengan nasihat ketua jurusanku yang bilang pada kami. Kalau ingin kerja di BI, harus dipenuhi tiga syarat, yaitu memberi pendapat disertai argumen kuat, sering latihan psikotes, dan mampu berbahasa. Lantas apa yang sudah kupunya sekarang. Makanya aku ingin mencoba salah satunya.

Habis salat Jumatan sebelum ke perpustakaan mampir ke aula menonton band. Tak jelas suara yang kudengar. Hanya suara genjreng-genjreng yang memekakan telinga. Seperti aku tidak mengerti kegelisahan mereka selain pergumulan dan keputusasaan. Aku menghormati saja segala ekspresi mereka di arena panggung. Karena aku toleran pada mereka, makanya aku menonton saja.

Aku selalu memikirkan tentang masa depanku. Tidak bisa dipastikan akan seperti apa dan bagaimana hidupku selanjutnya. Akan bekerja dimanakah, menikah dengan siapakah, mempunyai rumah dimana, menghabiskan masa tua dimana, bagaimana hubunganku dengan ayahku, dan segala macam pertanyaan yang kian hari kian mencuat. Hidup selalu dipenuhi ketidakpastian. Aku harus sejauhmana untuk merancang masa depanku. Terutama setelah lulus diploma MKS nanti. Akankah dan bagaimanakah jadinya aku ini.

Untuk menunjang masa depanku aku harus berani dan pintar. Namun aku ini masih saja bodoh. Terkadang aku ngiri dengan mereka yang pintar. Kok mereka bisa begitu tapi kenapa aku begini. Aku sering menyalahkan diri, pantesan saja mereka pintar dan sukses, karena keluarganya kaya dan mendukung lingkungannya. Semua mendukung untuk menjadi seperti itu. Apakah pintar dan sukses hanya milik mereka?

Tidak berhakkah aku menjadi jenius dan sukses. Bisakah dengan finansial yang tak mencukupi, masa lalu suram, keluarga broken home, tanpa ayah yang mendidik dan membinaku, tanpa lingkungan yang mendukung bisakah aku menjadi seperti yang kuingini? Meskipun terkulai dan pesimis yang menggerogoti optimisku, aku masih memiliki harapan. Semoga rasa pesimis ini hanya di permukaan saja, tapi dari alam bawah sadarku bertumpuk optimisme menyongsong masa depan yang gemilang.

Terbesit di pikiran aku ingin bekerja di Bank Indonesia. Temanku bilang malas jadi bankir. Terlalu rumit, mendingan bergelut di Asuransi. Pangsa pasar asuransi masih luas. Sudah dua orang bilang begitu dan mereka pintar. Mereka sangat tertarik dengan dunia asuransi.

Entahlah aku ingin jadi apa. Jadi seperti keinginanku temanku? Aku ingin bahagia dalam pekerjaannku. Mungkin bisa bergelut di filantropi Islam, tapi ak bisa mengharapkan materi. Lantas bagaimana dengan memberi nafkah bagi keluarga dan familiku. Keluarga dan familiki sangat mengharapkan keberhasilanku. Aku sebagai tulang punggung, sebagai dewa penolong bagaimanakah menjalani semua ini. Ingin sekali menolong mereka dan membangun kampung halamanku. Juga kampung istriku. Tapi bagaimana aku yang tak bisa apa-apa ini?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori