Oleh: Kyan | 14/05/2006

Menjadi Sarjana Tukang dan Reservier

Ahad, 14 Mei 2006

Menjadi Sarjana Tukang dan Reservier

**

Menghadiri kuliah Manajemen Keuangan Syariah sebagaimana nama jurusan kuliahku. Tapi aku belum paham sudah sejauh mana pemaknaan terhadap ilmu Manajemen, Akuntansi, dan Syariah. Tentunya setelah lulus nanti aku mahir betul dalam tiga bidang itu, idealnya. Tapi aku belum tahu apa-apa sampai saat ini. Sekarang malah lebih senang membaca buku filsafat dan tasawuf. Bukan membaca buku-buku ekonomi dan manajemen. Aku ingin mengerti dulu segala sesuatu secara keseluruhan. Bagaimana pandangan kita tentang Tuhan, agama, manusia, lingkungan, dan peradaban. Kemudian masalahnya dimana dan bagaimana solusinya.

Tersediakah waktu agar aku bisa faham semuanya. Ekonomi hanya sebagai salah satu gumpalan masalah. Tapi jika sudah tahu masalah secara menyeluruh lantas bagaimanakah. Mungkinkah aku mudah dalam menemukan solusi. Sekarang sudah jadi tuntutan hidup agar secepatnya aku punya keahlian dan keterampilan. Mampu berbahasa Inggris dan Arab, komputer, dan sebagainya. Sampai sekarang belum satupun bidang yang kukuasai. Aku tak bisa apa-apa.

Bila tak bisa apa-apa lantas apa yang kuharapkan untuk masa depanku. Buat apa IP nilainya tinggi namun tak bisa apa-apa. Tapi apakah karena aku mengecilkan diri? Selalu khawatir dengan ketidakmampuan berbahasa jadi merembet ke yang lain. Kerancuan berpikir pesimistis.

Setelah lulus jadikah aku berangkat ke Pare. Tempat kursus bahasa Inggris yang kata orang-orang dalam setengah tahun sudah bisa mahir berbahasa Inggris. Waktu luang sekarang terpikir tak sempat belajar bahasa. Waktu luangku sering kuhabiskan untuk membaca buku. Selain mengerjakan tugas, membantu menyelesaikan tugas punya teman, atau membaca dan menulis rasanya tak cukup waktu.

Mungkin benarlah mesti ada prioritas. Aktivitas apa saja yang mendukung masa depan. Kukira semuanya demi masa depanku. Waktu nonton sudah kutinggalkan, kecuali sekedar hormat pada teman. Kutonton TV hanya berita saja yang mendukung masa depan. Bahkan menonton berita pun sudah malas. Meskipun dibilang katanya primitif bagi yang tak suka berita atau informasi. Biarlah, yang penting info penting terkini aku tahu. Dari obrolan dengan teman juga sudah cukup.

Aku ingin meneruskan kuliah S1, ke S2 lalu S3. Aku ingin kuliah di Malaysia di ISTAC. Ingin aktif juga di IIIT. Aku pernah bilang pada sahabatku aku ingin aktif di IDB, apakah aku terlalu jauh. Iapun tahu bahwa aku ingin kuliah di Malaysia. Aku akan selalu berusaha untuk menggapai cita-citaku. Dan kuserahkan semuanya pada Rabb-ku.

Lalu bagaimanakah masa depan dalam cinta. Aku masih cengeng dengan masalah perempuan. Ia yang tak pernah ingin mengerti membuatku terlunta-lunta. Baru kali ini aku begitu tergila-gila pada satu perempuan. Rasanya tidak akan bahagia bila tak menikah dengannya, ini pikiranku sungguh keterlaluan. Meskipun aku tahu perangai jeleknya, cintaku padanya telah membuatakan aku mau menerima segala kekurangannya.

Terpatri dalam diriku. Jika anak-anakku dididik olehnya, niscaya akan memiliki mental kuat dan pemberani. Meskipun terkadang terbesit ingin mendapatkan yang lebih baik darinya, tapi siapa. Sampai saat ini aku belum menemukan yang lebih baik darinya. Apakah pandangan ini sebagai bentuk kesetiaan absurd ataukah karena tak membuka saja pada hubungan dengan perempuan lain.

Sekarang aku sudah tak respek pada perempuan untuk sekedar kenikmatan dan kebahagiaan yang begitu-begitu saja. Aku ingin mengembara dalam intelektual. Aku ingin menjadi (becoming). Aku ingin menggapai nafs mutmainnah, menjadi insan kamil. Menghampiri Tuhan dalam transformasi pada aksi sosial.

*

Kuikuti psikotes yang diadakan teman-teman jurusan Psikologi. Soalnya masih sama dengan dua dan empat tahun yang lalu. Masih ingat dengan soal hafalan dan hitungan. Dulu dan sekarang apakah realitas mengalami perkembangan? Mungkin suatu prinsip-prinsip dasar kemanusiaan akan tetap sama. Dalam psikotes yang diuji masih sebatas IQ. Penemuan baru ada kecerdasan lain seperti EQ dan SQ lebih penting dari IQ mungkin belum ditemukan teknik penilaiannya pada karakter seseorang.

Tapi semuanya menempatkan diri sesuai proporsinya. Diantara berbagai-bagai kecerdasan saling melengkapi. Ikutan psikotes membosankan, tapi karena selalu ingat nasihat pak Anton, untuk lolos di BI harus sering latihan psikotes. Ceritanya aku ingin bekerja di BI dan kuliah di Malaysia dan Amerika serta mengembangkan Ayasophia.

Cita hanya cita-cita. Dudi bilang cita-cita yang tertulis sepertinya jauh dari yang dilakukan sekarang. Memang harapan tinggalah harapan. Memang cita-citaku setinggi langit. Aku selalu punya lentera hidup, meskipun lampunya redup. Meskipun yang kulakukan jauh dari pembentukan cita-cita, aku tidak akan menyerah. Aku harus tuli terhadap ocehan komentar dan taburan pesimisme. Aku tak akan menyerah pada keadaan.

Akhirnya aku membeli juga celana jeans dan jaketnya di Matahari. Setelah bolak-balik Matahari Yogya banding-banding harga. Kubeli pakaian seharga seratus tigapuluhan. Kalau membeli sesuatu suka pusing sendiri, karena selalu ragu dalam menentukan. Kakakku pernah bilang kalau membeli sesuatu, banding-banding dulu harganya. Aku masih belum lepas dari pengaruh itu.

Pernah waktu SMU waktu mau membeli sepatu, setiap minggu survei harga terus ke toko-toko sepatu di Bandung dan Cimahi. Rela jalan kaki dari alun-alun sampai stasiun Bandung dan jalan Cihampelas. Memang setelah membanding-bandingkan tidak sering kecewa hasilnya, tapi sangat membikin kelelahan.

Di Kurnia Agung kubaca buku Marketing Syariah karya pak Hernmawan dan Syakir Sula. Harganya empatpuluh sembilanribu. Katanya ada kecendrungan di masyarakat dari rasional market (mereka yang melihat harga) mengarah ke emosional market (membeli demi status sosial). Bahkan spiritual market (membeli dengan melihat halal, haram aau nilai-nilai religius). Aku dalam membeli selalu mempertimbangkan ketiga hal tersebut. Namun tetap saja harga yang diutamakan.

Bulan ini Alhamdulillah bisa kubeli buku, membeli pakaian dan makan cukup. Aku ingin segera beli handphone. Aku ingin Samsung x620 yang harganya sejuta seratus. Uang yang kupunya baru delapanratus dan yang kupegang di tangan empatratus. Sisanya di luar dan bisa kembali sepuluh Juli. Memungkinkan aku bisa membeli handphone bulan Juli. Inginnya ketika minggu tenang sebelum UAS biar ada motivasi dalam menghadapi UAS. Sekarang sudah kubeli pakaian dan besok mau menghadapi ujian UTS BKS. Aku harus belajar sungguh-sungguh, karena sudah dikasih hadiah celana dan jaket.

*

Akhirnya tamat juga membaca buku Catatan Harian Ahmad Wahib. Pada halalam menjelang akhir banyak ungkapan puitis. Keadaannya dan kegelisahannya sama sepertiku. Di bagian tengah-tengah halaman banyak berbicara soal intelektualisme. Cita-citanya ingin menjadi seorang pemikir. Ia mampu mensistematiskan pemikiran-pemikirannya ketika menjelang usia kepala tiga. Pada masa-masa awal, dia terkelit dengan masalah cinta, seperti yang kualami sekarang ini.

Aku belum bisa lepas dari masalah yang satu ini, yaitu cinta yang tak terkatakan. Aku yang terkulai begitu mengharapkan seseorang datang merengkuhku. Namun aku hanya sendiri saja. Ada saatnya seseorang datang menghampiriku mengharap cintaku, kapankah dan semoga. Hari-hariku inginnya berkonsentrasi pada peningkatan intelektualitas. Aku ingin serba ingin tahu. Aku tak ingin membunuhnya. Meski harus mengorbankan segalanya.

Seorang intelektual harus mempunyai kemampuan akademis, emosi kreatif, dan watak pengabdi untuk menjadi orang berguna. Aku yang sekarang kuliah di MKS apakah hanya sekedar menjadi manusia tukang. Sarjana tukang? Aku ingin menjadi manusia hidup. Soe Hok Gie bilang sebagai manusia-manusia baru. Aku tak boleh menjadi pembeo. Aku harus menjadi diri sendiri dengan segala pemikiran uniknya.

Apakah yang sekarang aku tidak ikut terlibat dengan organisasi gerakan disebut opportunis. Bukankah mahasiswa harus memperjuangkan idealismenya dan menjadi pengusung perubahan masyarakatnya. Aku tiak menjadi aktivis gerakan bukan berarti aku lari dari kumpulan atau jemaah. Aku hanya sendiri saja, menari dan merenung lingkungan dengan caraku sendiri. Aku tak ingin tertekan. Memasuki organisasi sekarang sama halnya menyerahkan diri untuk membeo.

Aku ingin sadar ketika aku berbuat. Karena banyak yang tidak tahu, aku banyak membaca. Tapi Wahib bilang membaca tanpa diiringi merenung dan observasi hanya menjadi reservier ilmu. Memang benar. Ketiganya tak bisa dipisahkan. Melalui buku aku bisa berkomunikasi dengan orang seabad dan bahkan dengan manusia yang hidup berabad-abad sebelumku. Aku banyak yang tidak tahunya. Aku bodoh, makanya masa depanku tak bisa diprediksikan. Aku hanya bisa mengharap pada Tuhan. Sahabat dan adikku bilang diri sendirilah yang bisa menentuan masa depanku.

Besok ujian, tapi aku belum belajar. Sehabis salat Duhur malah sibuk membaca buku Ensiklopedi Tokoh Muslim, dan akhirnya ketiduran. Baru bangun jam empat sore. Kulihat-lihat jaket yang baru kubeli. Muncul kecewa karena kebesaran dan mirip buat cewek. Setiap barang yang kubeli selalu memuculkan kekecewaan. Takut ini takut itu. Namanya materi bisa memberi kegembiraan sekaligus kekecewaan. Tidak pernah merasa puas dan senang apa yang sudah ada di hadapan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori