Oleh: Kyan | 15/05/2006

Fluida Takdir: Menderas dan Mengalir

Senin, 15 Mei 2006

Fluida Takdir: Menderas dan Mengalir

**

Badanku terasa panas dingin. Mungkin ini gejala sakit demam dan flu. Aku merasakan pusing dan batuk terus. Aku tak ingin sakit parah karena takut merepotkan orang. Sakit ringan begini kutangani sendiri. Kunikmati rasa sakit ini dan memang nikmat bila menghayatinya. Hidup di dunia dirasakan susah tapi merasakan kenikmatan yang ingin hidup terus. Aku mencintai hidup dan kehidupan. Karena disitulah nikmatnya ketika menghadapi setiap kesusahan diperlukan kreativitas yang mumpuni untuk menyelesaikan setiap persoalan.

Badanku saja yang sakit tapi semangatku tetap membara. Rasa sakit itu bisa terlupakan dengan memakai pakaian baru. Dengan fokus pada sesuatu yang baru yang menenangkan. Dengan berpakaian baru terasa lebih percaya diri. Kepercayaan diri bisa dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dimana keduanya saling melengkapi. Tapi apakah aku percaya diri dalam mendapatkan sesuatu yang kucita-citakan. Terkadang aku lemah tapi kadang melampaui diri.

Hari ini aku tak menyapa dia. Terasa sudah terpisahkan oleh sekian masa, rentang waktu dan beda dunia. Tadinya aku mau menghampirinya bertanya bagaimana merumuskan tugas Manajemen Kredit. Tapi ketika mau mengejarnya niatku kuhentikan. Kupikir dia harus selalu cepat pulang untuk pergi ke tempat pekerjaannya. Kupikir dia sudah menomorduakan kuliah, selah-olah hanya pemenuhan tanggung jawab dan kewajiban karena kakaknya saja ia datang ke kampus. Tempat pekerjaannya lebih menarik perhatiannya. Entah apa yang mampu membuat dia sehingga begitu terpikat dengan dunia di sana.

Aku suka iri dan cemas. Karena dia pernah bilang bahwa disana ada yang suka padanya. Sampai dia bisa membuka email akunnya dan kesal dibuatnya. Karena dia selalu terus terang padaku, makin membuatku kehilangan harapan. Aku pernah cemburu jika dia mengobrol dengan cowok lain. Dengan kawanku sendiri Veri, Sani, Yedi, Aril, Rizki. Semuanya itu sobatku dan mereka tahu dan menghargai segala perasaan yang bercokol di dadaku. Aku harus membuang segala kecemburuan yang membutakan. Kelebihan sobat-sobatku adalah kelebihannya yang merupakan anugerah dan obaan. Akupun punya kelebihan mungkiin. Pokoknya aku begini adanya itulah aku.

Entah sampai kapan aku terus merengek-rengek. Cengeng tapi kunikmati saja apa yang bisa kulakukan. Kunikmati hidup ini dalam setiap episodenya. Episode perjalanan hidup kunikmati dan kurenungi dalam setiap penggalannya. Aku harus begini meskipun ingin begitu. Aku tak kuasa untuk melawan takdir yang berjalan berkelindan. Setiap manusia mempunyai episode perjananan hidupnya. Setiap orang punya agenda hidupnya masing-masing yang sudah tercatat. Tak bisa memaksakan dan dipaksakan untuk mencatat sesuatu yang bukan catatanku. Dia punya harapan akupun punya harapan. Berlainan harapan, itulah lika-liku perjalanan.

*

Setiap kali setelah selesai mengikuti ujian, UTS atau UAS aku selalu dibuat gelisah. Aku selalu saja keluar dari ruangan kelas paling akhir. Karena tekanan waktu harus segera selesai mengisi soal, sementara pikiranku beku dan lupa apa yang sudah dihapal. Mungkin emang karena menulis jawabanku lambat. Kalau melihat teman-teman pada cepat banget mengerjakannya. Aku paling malas kerja sama kalau mengisi jawaban. Apa yang kubisa kerjakan, mengisi jawaban dan yang tidak bisa ya sudah ditinggalkan. Aku belajar kejujuran dan kemampuan.

Aku pun tak ingin memberi tahu dan diberi tahu. Biarlah mereka pada kerjasama, contek-mencontek diantara mereka. Tapi memang kawan-kawanku pada pintar dibanding aku. Aku memang bodoh dan lambat berpikir. Maka ketika selesai ujian malas untuk mengobrol dan hanya kuingin diam dan sendrian saja. Rasanya tidak memiliki masa depan, namun kuayakinkan dengan belajar untuk jujur dan berani, aku hanya mengandalkan itu. Kuserahkan semua pada Tuhanku. Aku yakin Tuhan mendengar segala rintihan atas segala kekurangan dan kealfaan.

Pulang ujian, mampir ke fakultas mau mengambil Surat Pengantar Magang. Mengobrol-ngobrol dulu dengan Aril untuk membicarakan masalah seminar. Dia begitu ambisi, meskipun teman semester empat belum bisa mendukungnya. Aku tidak bisa memihak salah satu. Cuma tetap tanpa bantuan mereka, penyelenggaraan kegaiatan kurang optimal. Aku bisa yakin bila telah dipikirkan secara jernih. Tidak sekedar ambisi. Segalanya harus rasional dalam bertindak. Meskipun kita harus tetap mempunyai mimpi.

Dalam suasana terik, aku ke kantor pos kampus. Begitu sampai depan gedungnya ternyata tutup dan harus langsung ke kantor pos Ujungberung. Karena tak membawa uang terpaksa harus balik lagi ke kosan. Akhirnya mengirim Surat Permohonan Magang di kantor pos Ujungberung. Rencana dengan Veri, Neng Titin, Liza, Pipih, dan Dian mau magang di PT. Askes (Persero) regional Tasikmalaya. Lantas ilmu apa yang telah kudapat dari bangku kuliah untuk persiapan magang.

Aku belum bisa apa-apa. Aku yang sekarang begini-begini saja, adakah harapan masa depan. Orang besar dulu dan sekarang bagaimana kehidupannya. Saat seusiaku haruskah aku ikut aliran fluida. Aku adalah manusia bukan hewan. Aku tidak akan sekedar mengikuti aliran. Aku adalah manusia bukan hewan.

Pulang dari kantor pos, mampir ke kosan Robbi. Tidur-tiduran dan akhirnya tertidur. Tidak tahu jam berapa aku bangun tapi langsung saja salat ashar. Tidur sore di kosan Robbi terasa nikmat. Tidur siang bisa meleraikan segala kegerahan dan kepenatan. Sampai di kosan masih banyak kawan-kawan di kosan. Selepas Maghrib nonton Kiamat Sudah Dekat bersama mereka. Akhirnya aku bisa tertawa. Sudah jam duabelas malam, masih belum bisa tidur.[]

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori