Oleh: Kyan | 18/05/2006

Bahagialah Aku Karenanya

Kamis, 18 Mei 2006

Bahagialah Aku Karenanya

**

Malam telah larut. Dalam keterasingan aku termenung di sudut kamarku. Kulihat di sekitarku bayang-bayang hilir-mudik dengan wajah-wajah kemunafikan terbungkus kemajuan. Menyingkap kemuraman dan kebisuan dalam segala pertanyaan yang tidak berhenti menusukku. Semoga aku yang terkulai disini bisa menari-nari di senjakala nanti.

Engkau tahu, aku selalu khawatir atas segala hal yang belum terjadi. Padahal yang kukhawatirkan belumlah terjadi dan mungkin tidak akan terjadi. Khawatir terhadap masa depan yang tak ada harapan. Tidakkah mampu menggapai segala impian. Tidakkah ada yang mau mencintaiku. Orang yang selalu kuharapkan kehadirannya tidak membalas cintaku. Tidak mau dan tidak akan mencintaiku.

Menyedihkan sekali bila cintaku yang dalam tak terbalaskan sempurna. Dengan segala kekurangan aku selalu dirundung kekhawatirkan. Mestinya aku bisa menikmati hidup ini. Sekarang ini, disini. Kurenungi segala hal yang telah dan akan kulakukan. Semoga segala ini bisa jadi penghantar menembus impian. Akan kunikmati saja hidup ini apapun adanya diriku saat ini.

Duhai, jangan paksakan aku tidak mengharapmu. Jangan paksakan aku untuk tidak mencintaimu. Izinkan aku menyayangimu sepenuh hatiku. Maafkan bila selama ini baru sebatas ungkapan manis sebagai ekspresi cintaku. Sesungguhnya segala tindak tandukku adalah demi cintaku padamu. Aku bukanlah si penggombal yang tanpa realita.

Mungkin karena kekurangan-kekuranganku yang selalu menyelimutiku, sehingga aku tak mampu menjamin bahagiamu. Tapi aku berjanji padamu, aku akan setia padamu dengan segala perasaan cinta yang mendalam ini. Ketahuilah cintaku amat dalam, lebih dari yang kamu tahu. Cintaku belum lengkap di pelupuk matamu, mungkin itu jawabmu.

*

Tugasku belum beres. Hampir saja tugas Manajemen Kredit tidak kelar. Survei data dan informasi ke lapangan hari keduanya sendiri dan menyusun laporannya sendiri. Aku harus sabar dan ikhlas. Semuanya ada pahalanya maka tidak sia-sia. Selain menyelesaikan tugas ada orderan jasa pembuatan makalah selesai juga.

Barusan merampungkan lagi satu tugas punya Ika. Iwan bilang dia orang kaya, nanti bakal dibayar gede. Dari kemarin order mengalir dan uangnya habis begitu saja buat menghidupiku. Pokoknya nafkah hidup jangan sampai mengambil di ATM Shar-E. aku harus bertekad untuk membeli handphone. Tanpa ada tekad, tak pernah terpenuhi segala keinginan.

Aku bersyukur bisa mencari nafkah sendiri meskipun kecil dan masih dikirimi uang oleh ibuku. Aku ingin memenuhi harapan dia yang selalu memberi harpanan. Mau mencoba hidup mandiri tanpa dikirim uang lagi. Aku masih belum mampu mandiri secara finansial. Dia mengharapkan itu mungkin sudah setahun. Berarti aku belum mampu meng-create semuanya hingga menghasilkan uang. Aku harus bagaimana dengan semua.

Tuhan, tunjukkah padaku jalan untuk menjemput rezekiku. Dimana, bagaimana, dan kapan rezeki yang berkah kudapatkan. Tuhan, aku mengharap kepada-Mu. Aku selalu bermohon supaya dicukupkan tidurku yang sebentar. Aku ingin tetap sehat dan bugar. Agar aku bisa bekerja untuk mencari nafkah sendiri. Tidurku selalu larut, karena banyak yang harus kukerjakan. Ketika aku menyatakan mampu, aku harus mampu.

Kuliah manajemen kredit. Aku bisa bertanya dan penjelasan meski baik tapi belum mengalir lancar. Aku tak biasa bicara di depan forum. Selalu aku diam dan bisu serta sendiri. Setiap aku kuliah, biasanya yang pertama ingin kulihat adalah dia. Ingin pasti bahwa ia masih ada. Namun hari ini dia tak ada. Aku melihat di absensi, ditandai ‘s’ gerangan sakit apa dia. Ingin segera kutelepon. Bila kupunya handphone, mungkin bisa bertanya kabar dengan sms. Bila kutelepon disisi lain tak ingin boros dan malas untuk mengambil ke ATM. Lagian sudah janji tak akan mengambil uang dari ATM.

Namun kuliah Statistika Bisnis, dia ada. Bahagialah aku karenanya. Aku sempat bertanya kenapa tak masuk dan sakit apa. Jawaban dia gak jelas karena suasana sedang gaduh dari lapangan sedang ada final sepakbola antar jurusan. Sudah duduk pula di sebelah Siti Nuraeni. Aku merasa tidak enak karena dia selalu berkomentar yang tidak enak. Dulu sempat berdebat soal duduk bersebelahan dengan perempuan.

Aku tersudutkan, alasan tinggalah alasan. Dalam bergaul yang penting bisa menjaga nafsu syahwat amarah. Yang penting bisa menjaga jiwa kita. Tentunya masih dalam bingkai syariah. Apakah ini sebagai tanda cemburu atau emang benar-benar cermin ia ingin beramar makruf nahi munkar. Aku harus objektif dan tidak kepedean. Mungkin benar aku harus menjaga pergaulan dengan perempuan lain. Memang seharusnya begitu.[]

 

 

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori