Oleh: Kyan | 22/05/2006

Otodidak Hermawan Kartajaya

Senin, 22 Mei 2006

Otodidak Hermawan Kartajaya

**

Sungguh malas untuk lari pagi. Habis salat Subuh tertidur lagi. Tak biasanya aku tidur lagi. Tak tahu kenapa rasanya aku kecapean banget. Malam selesai mengerjakan proposal sampai jam sebelas. Sampai jam duabelas tak bisa tidur. Ingin mendengar terus lagu Ada Band, Surga Cinta. Lagu dan syairnya bagus.

Aku melihat suasana ketika suami mau berangkat kerja di hadapan istrinya. Aku tak melihat kecupan suami pada istrinya atau sebaliknya. Terlihat sangat kering harmonisasi sebuah keluarga. Kemarin aku membaca buku, katanya menurut penelitian di Amerika. Tingkat kecelakaan dan perselinguhan suami di kantornya lebih kecil bagi orang yang dikecup istrinya dibandingkan yang tidak ketika berangkat kerja.

Memang di Amerika ciuman adalah hal yang penting dan bisa dilakukan sebagai tanda kemesraan. Kalau di Indonesia yang kebanyakannya tidak melakukannya. Benarkah berpengaruh suasana mesra ketika mau berangkat kerja dengan tingkat kecelakaan dan perselingkuhan.

Menurutku kemesraan sangat dibutuhkan sebagai tanda kasih sayang. Dan kemesraan direalkan dalam bentuk nyata, yaitu kecupan yang mesra. Apakah nanti aku bisa melakukannya. Aku ingin sebuah kemesraan dalam rumah tangga tetap terjalin sampai akhir hayat. Meskipun sudah kakek nenek harus tetap terpelihara suasana romantis.

Tiba-tiba cahaya lampu kamarku padam. Listrik mati membuyarkan konsentrasiku. Padahal pekerjaanku belum kelar. Proposal harus segera diselesaikan. Membuat makalah punya tetangga harus selesai sebelum Selasa. Malam sudah lembur. Besok pagi jam delapan harus ke kampus. Ada kumpul dengan ketua jurusan. Hari ini pun harus ke Mizan. Dengan Aril mau mengajukan permohonan kerja sama. Apa aku gak usah ikut kumpulan saja. Waktuku kupakai buat menyusun makalah dan menyempurnakan proposal. Kurasa semuanya bisa kukerjakan.

Banyak pekerjaan membikin bingung. Bila tak ada pekerjaan sering bingung juga. Bingung adalah reaksi dalam merespon stimulan. Antara stimulus dan respon ada ruang free will untuk mengisi ruang tersebut dengan kebingungan, bukan dengan semangat dan optimisme. Semoga Allah menunjukkan padaku jalan baik, bukan yang jelek. Betapa pentingnya berdoa. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

Aku tahunya lahir saja ke dunia. Karena aku dilahirkan ke dunia, mau tidak mau harus menjalankan kehidupan ini. Hasilnya diserahkan pada Allah. Andaikan aku tak lahir ke dunia. Andaikan aku lahir ke dunia sebagai burung. Suaranya memberikan keindahan pada romantisisme alam. Dagingnya bisa dimakan manusia.

Dengan menjadi burung aku bisa bermanfaat bagi harmoni alam. Tapi dengan menjadi manusia, entah aku bermanfaat atau tidak bagi yang lain. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus padaku. Segala stimulus ingin kurespon dengan sikap positif. Namun selain positif ada pula negatif. Tentunya bisa positif bisa negatif.

Membuat proposal kelas dan makalah sudah limapuluh persen sudah lumayan. Tak dapat dilanjutkan karena listriknya mati terus. Yang punya kosan tak pernah mau menambah daya listriknya. Mau untung melulu tanpa mau memperhatikan kepuasan konsumen. Suatu saat konsumen bisa lari bila tak memperhatikan kepuasan. Segala hal yang tak memuaskan akan ditinggalkan.

Sebelum kuprint proposal, kutelepon dia. Apakah ia bersedia jadi panitia bedah buku. Ia mikir-mikir dan menyerahkan keputusannya padaku. Aku ingin ia mendampingiku. Tak ada yang mampu mendampingiku selain dia. Cinta tak ada logika. Kenapa aku begitu bergelora cintaku padanya. Ketika pagi hari setelah bertemu dengannya jiwaku tenang dan terpuaskan. Ingin selalu bertemu dan bersamanya.

Mungkin aku adalah orang yang tergila-gila dengan cinta. Tak mengerti segala perilakunya. Aku sering bertanya merasakah ia disana. Apakah yang kualami saat ini dialami juga olehnya. Cintaku yang menggebu-gebu akankah bertepuk sebelah tangan. Aku bisa membuatnya tergila-gila padaku suatu saat. Dengarlah ambisiku untuk memilikimu. Menyerah bukanlah karakterku.

Membaca buku membuat segalanya lupa. Aku begitu tergila-gila pada buku, apakah ini kelainan kenapa aku cinta pada buku. Ingin selalu aku membeli dan membaca buku. Kadang bingung kenapa aku begitu terpaut pada buku. Hanya Tuhan yang memberikan kecintaanku pada buku.

Menunggu Maghrib aku melanjutkan membaca buku Ensiklopedi Tokoh Muslim, Ibnu Khaldun, bapak peletak dasar ilmu sosiologi. Dikatakan bahwa perkembangan masyarakat adalah bersiklus. Dimulai dengan tumbuh, berkembang, matang, dan mati. Sama seperti siklus produk. Perputaran adalah tawaf bisa diumpamakan ke dalam berbagai hal. Alquran memang mengatakan tentang berbagai macam perumpamaan. Bila menciptakan teori baru, pakailah perumpamaan.

Membaca sering membuat optimis dan pesimistis. Membaca kisah orang pantesan ia sukses toh orang-orang mendukungnya, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Para ulama yang telah berkarya yang bermanfaat sampai akhir zaman. Latar belakang hidupnya bisa dimaklumi dalam menuju sukses.

Seperti pak Hermawan Kartajaya, pakar marketing Indonesia. Ia belajar ilmu marketing di usia 32 tahun. Sekarang usia sudah 56 tahun bisa menuai sukses dengan otodidak. Karena latar belakang keluarganya adalah etnis yang pegawai negeri dan pemimpin yayasan. Sedangkan aku mesti mendapat tauladan dari siapa. Menurut buku, sang anak sewaktu kecil menganggap ayah itu sebagai Tuhan. Sang anak sering bilang cita-citanya ingin seperti ayah atau ibunya. Itu pertanda karena keluarga telah memberi kebahagiaan pada sang anak.  Tapi aku menulis saja, ujung-ujungnya menggerutu.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori