Oleh: Kyan | 25/05/2006

Menjadi Lelaki Bukan Pilihan

Kamis, 25 Mei 2006

 

Menjadi Lelaki Bukan Pilihan

**

Mendengar cerita kehidupan Ahmad Fakot, anak AS membuatku ingin terus meniti harapan. Dia dan aku sama-sama anak kampung yang tak menyangka bisa menempuh perguruan tinggi. Keluarga dia di kampungnya termasuk keluarga berada. Ayahnya pernah menadi bos jual beli sapi dan kerbau. Tapi keluargaku tak ada yang bisa diharapkan. Keluarganya sangat mendukungnya meneruskan pendidikan. Tapi aku, entahlah garis nasibku yang harus terus melempang.

Sedangkan aku hanya tekadku saja dan keluargaku tak ada yang mendukung. Meski akhirnya ibu membiayai juga kuliahku. Bahkan aku bersyuur aku bisa membeli sesuatu yang ingin kubeli. Seolah aku terlihat orang berkecupan. Padahal aku tak punya apa-apa yang dapat dibanggakan. Makanya ketika ingin aku dicintai perempuan, aku sering bertanya pada diriku apa yang diharapkan dariku. Aku dibuat minder dengan ketidakberpunyaan. Namun aku akan terus berjuang dalam mendapatkan cintaku. Tapi akankah datang seorang perempuan yang bisa menerimaku adanya. Akankah ia bersabar ketika aku dirundung duka lara.

Sehari aku mengetik prosa Kahlil Gibran. Aku ingin terus meniru prosa liris Kahlil Gibran. Aku akan terus belajar menulis. Karena tanggung aku sudah kubeli buku sebagaimana cara menulis. Maka aku harus jadi penulis dan sudah menjadi penulis ketika aku menulis catatan ini. Meskipun aku belum menghasilkan satu karyapun. Aku yakin kalau aku terus latihan aku bakal jadi penulis.

Temenku, Ahmad Fakot alhamdulillah sudah tahu bakat terdalamnya. Ia jago berpidato dan sering meraih juara berpidato. Ia sudah menemukan bakatnya. Sedangkan aku punya bakat apa. Aku ingin jadi pelukis dan jadi penulis, belum bisa menghasilkan karya pun. Lantas bakatku apa, aku terlahir ke dunaa pasti disertai dengan potensi unggul. Aku adalah reinkarnasi titisan siapa?

Semoga titisan jiwa yang menitis pada jiwaku adalah jiwa yang telah tercerahkan. Aku tak boleh patah semangat dalam mengasah bakat dan minatku. Aku akan teus mengasah minatku untuk mendapatkan bakatku. Aku harus sabar dalam meniti perjalanan hidupku. Semoga Tuhan yang maha pengasih mengaruniaku sedikit ilmu-Nya. Aku pesimis dengan masa depanku. Aku pesimis karena tak mampu apa-apa. Ya Allah berilah aku sedikit ilmu-Mu demi kebesaran-Mu.

Tuhan, meski aku terus berbuat kemurkaan. Meski aku terus menyalahi titah-Mu. Meski aku sering membohongi fitrah sebagai pancaran cahaya-Mu. Meski aku selalu terperosok ke dalam lumpur kenistaan semakin dalam. Aku masih mengharap kasih-Mu. Tuhanku berilah aku rezeki yagn cukup. Meskipun aku yakin engaku tak akan pernah membiarkan hamba kelaparan. Namun aku selalu saja terselimuti kekhawatiran demi kekhawatiran.

Entah benar atau tidak waktu kutelepon dia, ia lagi bersama seseorang. Masih saja aku selalu mencintainya. Kusangka ia sedang bersama seseorang, kontan saja muncul rasa cemburu yang tak tahu sebab, cemburu buta. Memang suatu ketika ia pernah bilang bahwa ada yang suka pada dirinya.

“Ada seseorang yang memberi perhatian padaku,” begitu ia bilang padaku. “Tapi dia kurang ajar, sampai e-mailku berani membuka e-mailku. Tidak tahu ia bisa tahu pasword-nya. Suatu kesempatan ke kosan dia. Masih ingat waktu itu selepas Maghrib menjelang isya. Aku ke kosan dia berdua diantar Deri. Sampai di sana ia sedang masak mie dan wajahnya nampak bingung. Aku melihat-lihat saja komputer.

Namun tak lama kemudian, tiba-tiba ada yang datang ke kosan. kulihat ia menampakkan wajah ketidaksukaan akan kehadiranku. Karena aku ingin berpikir positif, aku bersikap cuek saja. Mungkin orangnya seperti itu. Kupikir aku tak boleh berlama-lama di kosan dia, mungkin ia harus menyelesaikan pekerjaan kantor dengan tamu yang datang itu. Meskipun waktu pulang aku berpamitan dengan ramah, ia malah membalasnya tidak mengenakan.

Kupikir sekarang, pantesan saja waktu itu ia terlihat bingung waktu melihat kedatanganku. Mungkin karena akan ada seseorang yang datang. Dan akupun tak memberi kabar dulu, sebelum aku ke kosannya. Ketika pulang temanku bilang, dia kok terlihat bingung banget, ada apa dengannya. Aku masih bisa mengenali wajah itu.

Besoknya di kampus kutanyakan padanya. “Yang malam datang itu Agus ya?”, hati-hati aku bertanya karena takut menyinggung. “Ya.” Menjawab dengan nada dingin. Seolah-olah ia tak ingin memperpanjang pembicaraan denganku.

Dan ketika ia sakit, ia menolakku datang ke kosannya. Ternyata mungkin sudah janji dengan pria yang bernama Den Bagus itu. Nama itu pernah kukenal dan kutahu nama itu dari teman kelasnya. Namanya Agus di tempat kerjanya apakah Agus yang lain? Karena akupun dulu pernah mengenal Agus rekan kerjanya. Jika itu benar rekan kerjanya bisa disimpulkan nama agus yang mana lagi selain yang kukenal.

Memang pria itu orangnya baik dan ilmunya cukup luas. Sewaktu aku sering kesana aku sudah punya tanda-tanda. Dengannya malahan aku pernah akrab. Ia yang mengajakku mengobrol waktu aku ikut pengajian di Maleer. Jika benar ada lelaki di kosannya, dipastikan dia. Lelaki itu bakal datang ke kosannya. Sudah lama aku tak bertemu dia lagi.

Kusadari bahwa mencintainya adalah hak bagi siapapun, hak bagi setiap laki-laki. Dalam megambil hatinya, ada kompetensi diantara para lelaki. Tapi mungkin dengan strategi jitu ialah yang jadi pemenang. Dan hak bagi seorang perempuan untuk menentukan pilihannya. Prinsipku kalau benar-benar ia tak mencintaiku, itu keputusannya, itu pilihannya. Dan aku harus menghargai pilihannya, kecendrungannya. Salahku tidak mampu menemukan cara jitu untuk mengambil hatinya, perhatiannya.

Ia tak bisa dipaksa untuk mencintaiku. Mungkin ia akan mencintaiku hanya berdasarkan seberapa jauh ia diperhatikan, diberikan kepercayaan dan layak dijadikan sandaran. Apa yang bisa kuberikan untuk mendapatkan perhatian? Aku tak memiliki apa-apa. Tak ada yang bisa diharapkan dariku. Semakin hari aku malah semakin lemah saja. Belum pernah datang cintaku yang terbalas. Belum pernah ada perempuan yang mau menerima cintaku.

Meskipun begitu, aku yakin suatu saat nanti akan datang perempuan yang mau menerima cintaku. Tuhan, tabahkanlah aku ini. Hanya Engkaulah yang bisa memberikan kebahagiaan. Hanya pada-Mu aku bermohon. Mengharap pada makhluk-Mu tak mendapat apa-apa selain kepedihan. Namun kenapa Engkau telah menghunjamkan ke hatiku sebening cinta ini. Hanya membuatku semakin pedih saja dalam menjalani hidup. Saat ini bosan aku dirundung duka, kapankah kebahagiaan datang padaku. Dengan kelemahan dan kealfaanku aku semakin terperosok saja.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori