Oleh: Kyan | 30/05/2006

Sakitnya Aku Ataukah Kekasih

Selasa, 30 Mei 2006

Sakitnya Aku Ataukah Kekasih

**

Pembubaran panitia seminar ekonomi Islam. Dulu terjadi pertentangan karena mau merencanakan acara terima kasih kepada panitia dengan makan-makan. Katanya itu gaya hidup hedonisme mengikuti organisasi lain yang memboroskan kas organisasi. Tapi akhirnya makan-makan juga, meskipun dulu ditentang. Hanya yang tak kuinginkan adalah pesta-pesta di restoran di tempat yang jauh, pemborosan. Dikhawatirkan pengurus KBMP MKS menyelewengkan dan menghamburkan dana.

Kebiasaan boros sejak mahasiswa akan terbawa sampai nanti. Nanti ketika sudah jadi pejabat, keuangan rumah tangga pun bakal kacau balau. Jika tak mampu mengendalikan likuiditas keuangan. Aku yang kuliah di Manajeen Keuangan tapi tetap saja keuangan pribadi belum bisa dikendalikan. Andai aku dilanda musibah, aku mendapat biaya pengorbanan dan rumah sakit dari mana kudapatkan uang. Selama ini uang pemberian ibu kuhabiskan untuk membeli buku. Aku meyakinkan diri saja aku tak akan kelaparan jika aku terus bersuaha. Buat makan sehari-hari kuandalkan dari pendapatan jasa pengetikan dan rental komputer. Sedikit tapi mencukupi.

Memperhatikan perencanaan keuangan adalah membicarakan tentang masa depan. Rencana setelah lulus kuliah, bikin Aceng dan aku bingung. Memikirkan hal-hal yang belum dijalani dan gaib. Hanya Allah yang tahu semuanya dan diserahkan hanya kepada-Nya. Percaya dan mempercayakan pada-Nya. Tapi tidak bisa dibilang salah atau benar. Jabariyah. Mutzilah dan Asyariyah. Mereka mencoba merumuskan kehidupan manusia masa sekarang dan masa depan.

Mereka pun bingung tentang perjalaan kehidupan manusia. Aku mau berbuat saja yang aku kira bermakna bagi hidupku. Selalu mendengarkan hati nurani bahwa apa yang sedang dan akan kulakukan diridhai Tuhan. Elan vital selalu menjadi landasan dalam segala perbuatan. Semangat ingin tahu yang besar dan menggali terus-menerus segala ilmu mampu mengantarkan pada kemajuan.

Barat maju di semua bidang. Tak bisa dipungkiri segala yang dicapai oleh Barat telah maju sehingga memberi manfaat bagi dunia. Walaupun ada sisi lain yang membuat dunia carut-marut. Kemajuan sains dan teknologi, kadang bermakna ganda. Bisa memajukan bisa juga menghancurkan. Katanya bukan sains dan teknologinya yang salah, tapi orangnya.

Dan yang didengungkan para filosof muslim, alasan mereka mengharuskan adanya Islamisasi sains karena melihat metodologi berpikirnya, landasan epistimologi, ontologi dan aksiologinya berbeda antara bangunan keilmuan Barat dan Islam. Para filosof yang mengharuskan, tapi ilmuwan sains ansich seperti Abdus Salam katanya tak perlu Islamisasi sains. Mungkin Abdus Salam, fisikawan muslim ini bilang begini: moral para ilmuwanlah yang harus ditelisik.

Etika dan moralitas yang menjadi faktor utama. Akhlak bagaimana menjadi seorang muslim dengan berusaha untuk sebaik-baiknya bermanfaat bagi manusia lain. Aku harus bisa dan menjaga akhlak seorang muslim. Seperti aku yang memegang kas KBMP. Aku takut kecampur dengan uang pribadi. Misalnya kalau lagi mau memfotokopi urusan organisasi, tak ada uang kecil di kas KBMP, kupakai uangku. Terus aku lupa atau sebaliknya. Aku juga ketik-mengetik surat-menyurat organisasi di komputerku, KBMP harus membayar jasa rentalnya. Aku memang itung-itungan ketik-mengetik urusan KBMP. Lantas darimana pemasukanku bila sehari-hari terus mengurusi organisasi. Takut kemahalan dan kemurahan menentukan tarifnya. Aku takut menghamburkan kas KBMP dengan pakai alasan banyak mengetik. Lebih banyaknya aku mengurangi hitungannya.

Bagusnya komputer punya komputer sendiri. Bila komputerku digratiskan untuk kepentingan KBMP, komputernya untuk direntalkan pada orang lain kapan. Darimana aku membayar listrik dan kosan. Bukan berarti itung-itungan tapi harus jelas. Aku membuka usaha rentalan. Kalau aku  orang kaya bisa saja gratis. Tapi aku ini selalu butuh uang buat makan.

Kepentingan sendiri diperhatikan dan diutamakan. Bagaimanapun ungkapan harus mengutamakan kepentingan umum atau sosial dibandingkan kepentingan pribadi, menurutku harus berjalan sesuai relnya masing-masing. Tak gampang dikatakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Bila semuanya mengacu pada asas moral, semua bakal berjalan pada relnya

*

Berjalan pulang kuhampiri dia. “Lagi sakit ya?” kutanya dia. Ia jawab, “Begitulah” seperti masih lesu. Aku terburu-buru dengan Aril harus segera menghubungi Mizan lagi untuk mengkonfirmasi kerja sama bedah buku. Setelah itu harus menempelkan pamplet Bazar. Aku kurang memperhatikan dia karena sibuk mengurusi organisasi. Sekarang ini hubunganku dengannya tak semesra dan sedekat dahulu.

Ia lebih banyak di tempat kerjanya dan aku sibuk dengan urusanku dan organisasi. Apalagi sekarang sudah ada pihak ketiga. “Den Bagus” namanya. Aku jadi sangsi bila ia memilihku. Aku merasa ia lebih dekat dengan Den Bagus itu. Ketika ia bersamaku, ia sering menelepon atau menerima telepon. Entah dari siapa. Tak ada kemesraan, tapi mesra. Aku hanya bisa diam dalam kecemburuan. Apakah ia tahu bahwa aku masih mengharapkannya. Kenapa dengan cintaku begitu dalam. Aku merasa dulu terlihat dengan jelas ia mencintaiku, aku begitu merasakannya. Tapi entah kejujuran atau kepura-puraan yang dia perhatikan. Sekarang semuanya jadi tersamar karena mungkin sudah ada kejelasan.

Malam ini ingin kutelepon dia, tapi sudah jam setengah sebelas. Aku ingin tahu apa sakit tadi agak baikan atau lebih parah. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Dia kalau kutelepon omongannya serius. Akunya sih serius terus. Padahal aku ini romantis. Jadi kikuk jika kuaplikasikan pada orang yang sebenarnya. Aku takut cintanya pada orang lain sungguh benar dan cintaku belum bisa beralih pada orang lain. Aku selalu diliputi kekhawatiran dan kekhawatiran. Sampai kapan rasa khawatir ini terus melingkupiku. Soal cinta dan masa depan, selalu diliputi berbagai kekhawatiran.

Menyibukkan diri dengan fokus pada organisasi dan usahaku. Membuka usaha harus rela waktu terganggu oleh orang-orang yang datang meminta bantuan. Sementara hati sering tidak enak dimana sangat memerlukan waktu kesendirian. Tapi niatku ingin selalu menolong orang. Aku harus selalu memberikan yang terbaik dan percaya.

Pagi-pagi teman seasrama ada yang minta diketikin surat. Kemudian Reza datang mau pinjam uang buat ongkos ke BPK. Katanya ada janjian di kantor BPK dengan saudaranya. Hebat, dia mau magang di sana. Aku berpikir sebuah kesuksesan dibentuk oleh lingkungannya. Nepotisme tidak bisa dinapikan. Mungkin itulah buah dari network. Barang siapa yang mampu membuat jaringan, entah itu saudaranya, kenalan di jalan, atau siapaun ia, akan mudah minta pertolongan padanya.

ATM-ku diberikan saja pada Reza sekalian dengan PIN-nya. Aku percaya padanya. Masa teman-teman sekelasku bakal dzalim padaku. Aku selalu ingin percaya pada setiap orang. Berpikir positif dan pekerja keras. Masa aku tak akan sukses, kemampuan dasarku seperti vitalitas tinggi, berusaha bersikap positif, pekerja keras, selalu ingin membantu orang. Bukankah pepatah mengatakan siapa yang menanam dialah yang menuai. Aku hanya berusaha mengoptimalkan segala daya akalku, sementara hasilnya kuserahkan pada-Nya. Aku yakin Tuhan tak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Aku yakin dengan hal ini.

Kuliah Manajemen Kredit, banyak fotokopi materi. Tapi selalu tak sempat kubaca dengan sempurna. Padahal kata orang aku gila baca. Karena waktu terbatas aku selalu disibukkan dengan berbagai macam hal. Semua orang dikasih waktu 24 jam, tapi dengan selama itu ada yang bisa mengurus keluarga perusahaan bahkan negara dan dunia, tapi ada pula mengurus dirinya sendiri pun tak mampu. Makanya harus tolong-menolong dalam setiap urusan. Adanya pendelegasian dan pembagian tugas. Bila semuanya dikerjakan sendiri, tak akan cukup waktu.

Semua orang melihatku dengan tatapan aneh. Apa karena perubahanku makin ganteng, makin putih atau karena ada jerawat di wajahku. Aku selalu risih dengan jerawat. Tak percaya diri kalau wajah berjerawat. Mana sakit lagi. Setiap kali tidur aku terlalu larut, apalagi tidak tidur siang, pelenung saja jerawat di wajah muncul. Aku selalu berusaha menjaga kebersihan tapi tetap saja. Karena takdir-Nya wajahku harus berjerawat.

Kulakukan hanyalah menjaga kebersihan, mengobatinya, menjaga hidup dan tidur teratur, selebihnya takdir. Kalau takdir harus berjerawat, aku nrimo saja. Berusaha semampuku sudah kulakukan. Memang sih untuk menghindari jerawat harus tidur cukup. Tapi banyak tidur aku merasa tak produktif. Bukankah seorang muslim harus menjarangkan punggungnya dengan lantai, alias tidak banyak tidur. Seorang muslim harus banyak berkarya bukan terus-terusan tidur.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori