Oleh: Kyan | 03/06/2006

Jalan-Jalan ke BEC dan Kekesalan

Sabtu, 03 Juni 2006

Jalan-Jalan ke BEC dan Kekesalan

**

Stand Bazar Buku kehujanan. Karena hari hujan tak banyak yang datang mampir ke stand. Omzet penjualan tidak seperti kemarin di hari pertama. Memang bisnis selalu dalam ketidakpastian. Karena hidup sendiri adalah ketidakpastian. Namun kita tak boleh diam. Kita tak boleh menyerah pada keadaan. Hari demi hari dijalani demi meniti segala impian. Tidak hanya bisnis perdagangan, tapi pertanian pun selalu bergantung kondisi dan cuaca dalam memberikan hasil optiml.

Ketika kujaga stand ada pembeli seorang perempuan. Aku bincang-bincang tentang filsafat Mulla Shadra. Sepertinya ia banyak membaca sehingga ia wawasannya luas. Seperti aku mendapatkan kenyaman jika berbincang dengannya. Mungkin aku harus mendapatkan jodoh dari anak Ushuluddin. Tapi tampang selalu saja jadi kriteria. Apalagi sekarang aku sudah begitu terpaut secara mendalam pada satu perempuan yang orangnya, yang sedikitnya suka buku juga. Tapi senengnya bisnis dan bisnis.

Entah suka adalah tak dengan perkembangan pemikiran Islam. Aku suka padanya karena semangatnya. Namun terkadang aku tak suka bila ia cepat menjudgment sesuatu. Mungkin itulah salah satu kekurangannya. Bila aku mencintainya berarti aku bisa menerima segala kekurangannya. Bukankah perubahan itu adalah lengkap dua insan untuk menuju kesempurnaan.

Hari ini aku dan teman kelas jalan-jalan ke BEC. Tadinya mau jadi membeli handphone. Namun yang terjadi malah berlainan. Begitu susahnya kuterima takdir burukku. Buruk dalam pandanganku. Kubeli kartu perdana Simpati 081322 828700. inginnya setelah kupikirkan sampai di kosan kenapa tidak memilih 081322 828500. Aku mengikut saja pada saran Iwan memilih nomor pertama dan aku terpengaruh saja. Padahal aku bebas berkehendak. Tapi kenapa aku begitu gampang terpengaruh, pada masukan orang. Salahku minta pendapat Iwan. Apakah aku terlalu memperbesar masalah sepele ini.

Inginnya aku punya no 181322 828200. Tapi takdirku aku harus punya nomor yang tadi kubeli. Harus kuterima dan suatu saat nanti aku tidak ingin sekali-kali mengajak teman bila membeli sesuatu. Seminggu lagi aku akan ke BEC lagi. Aku ingin sendirian untuk menghilangkan kekesalanku hari ini.

Aku akan menonton film atau aku harus tidur segera untuk melepaskan segala kekesalanku. Tapi apakah rasa kekesalanku gara-gara membeli handphone tidak jadi. Harga di majalah beda dengan harga di BEC dan ditambah uangku habis. Tidak cukup untuk makan. Apalagi sekarang aku ikutan fitness, makan harus diperhatikan. Sebagai pendukunya harus minum susu lagi. Entah berapa uang di tabunganku. Semoga mencukupi.

Kuceritakan aku membeli kartu perdana seharga limapuluhribu. Respon Robbi menambah kesal saja. Tapi harus bagaimana lagi nomor sudah dibeli dan tak bisa ditukar dan uang tak akan kembali. Menjadi ikhlas itu memang terjal. Ikhlas itu lebih baik. Ikhlas saja atas apa yang telah terjadi. Ini terjadi tentu atas izin Allah. Tanya pada Allah kenapa bisa terjadi. Apakah karena aku kurang bersyukur dan jarang bersedekah. Dan tak membeli buku lagi gara-gara ingin membeli handphone.

Membaca tafsir Fi Zhilal jilid limabelas sudah tamat. Mau membeli lagi jilid enambelas masih ditahan, karena uangnya mau membeli handphone. Andaikan uang limapuluhribu dibelikan buku, bakal mendapatkan buku tebal. Andaikan dan andaikan. Teringat hadis bahwa orang mukmin tidak boleh mengucap andaikan. Ya Allah beri aku ketentraman hati menerima segala yang telah terjadi. Bukalah tabir hikmah atas yang terjadi. Bukankanlah. Engkau yang mengizinkan semua terjadi, tentu baik untukku. Namun aku belum menemukan hikmah darinya.

Masukanlah rasa tentram pada relung kalbuku untuk kubisa menerima semuanya. Memang tak beraya diriku bila ditimpa yang tidak mengenak hati. Tuhan, berilah aku kesabaran dan ketabahan. Aku ingin ceria mempunyai sesuatu. Eh, malah kekesalan yang menimpaku. Mempunyai sesuatu yang diinginkan tidak selamanya membuatku bahagia. Tetap saja kesedihan selalu ada. Semoga aku bisa menerima setiap episode perjalanan hidup ini yang tidak akan terlepas dari suka dan duka.[]

**

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori