Oleh: Kyan | 08/06/2006

Satu Rindu Untuk Perempuan

Kamis, 08 Juni 2006

Satu Rindu Untuk Perempuan

**

Kukerjakan jasa pengetikan serasa kewalahan dan ragu. Aku sudah janji padanya bisa selesai Kamis. Tapi akhirnya aku bisa menunaikan janjiku. Adakah janjiku yang baru. Besok aku harus mengerjakan tugas UAS MKS. Sabtu harus persentasi mengenai studi kelayakan usaha. Sabtu juga MKS ada badminton, tapi aku ingin segera ke BEC. Sudah lama aku gak jalan-jalan. Sudah lama aku gak berpetualang menyusuri sudut kota kembang.

Ingin aku menikmati terang malam yang diterangi lampu-lampu berkelauan di jalan-jalan. Ia yang memberi pesona keayuan pada kemajuan. Bangsa yang maju apakah hanya ditandai dengan gemerlapnya gebyar malam oleh semua ketelanjangan. Aku ingin selalu tidak diam menatapnya. Yang bisa kukerjakan harus kukerjakan segera. Hari hariku seperti ada yang hilang dari pandanganku. Aku harus produktif. Aku harus melompat jauh dengan bertumpu bukan pada pijakan keropos. Malah aku ingin terbang membumbung tinggi. Menjadi hilang tak ada.

Sepulang fitness aku, Iwan, Deri dan Hilman mampir ke kosan Eka. Aku jadi sering main ke kosannya karena fitness tempatnya sebelah kosan Eka dan Lia. Sewaktu aku disibukkan dengan perencanaan OPM dan Seminar, bahkan tak terpikirkan main ke kosan teman kelas yang dulu sering dikunjungi. Kesibukan kadang melenakan dan melupakan hal yang sebenarnya penting.

Islam tidak semata-mata menganjurkan saling kunjung-mengunjungi. Terbukti dapat mendekatkan pada pintu rezeki dan mempererat persaudaraan. Buktinya kami berempat ditraktir makan bakso oleh Eka dan Lia. Mereka begitu baik, orang lain begitu mudahnya berbuat baik, sedangkan aku terkadang sulit dan berpikir-pikir dulu dan penuh perhitungan. Selalu melihat untung ruginya bila melakuan sesuatu. Pikiran yang rasional. Otak modernis.

Tadi pagi ibuku sudah mengirim uang lagi. Padahal baru saja kemarin. Aku meminta lagi sih. Aku cuma bisa minta dan minta tanpa ingin tahu bagaimana susahnya mencari uang. Ibuku seorang mampu menghidupi aku dan kakak-kakakku. Aku bangga mempunyai ibu sebagai ibuku. Sementara aku tidak ingin tahu keberadaan ayah. Entah dimana adanya aku tak peduli. Meskipun ia masih ada secara fisik tapi jiwanya sudah hilang dari lentera hidupku. Aku hanya memiliki ibu.

Dengan itu aku menghormati perempuan. Karena dengan perempuan aku ada dan berada. Hasratku pada perempuan sebagai tanda bahwa aku ingin kembali ke pangkuannya. Jiwa yang selalu resah hanya bisa terobati dengan kebersamaan dengannya. Satu rindu untuk perempuanku.

Duhai yang selalu terbang tinggi di semesta hatiku. Sayapmu memberi naunganku dalam perjalanan menempuh kisah legendaris. Adakah cerita yang tak seorang pun yang tak ingin tahu pada kita. Buatlah happy ending bagi semua cerita kita. Tak adakah harapan cerita kita dan kebahagiaan kita menjadi legenda cerita yang memberi inpirasi bagi semuanya.

Kenapa engkau malah memberiku rasa sakit. Apakah dengan sakitnya karenamu adalah solusi. Semua orang berpikir ingin memberikan solusi. Semua orang menyadari atas apa yang terjadi. Bukan orang-orang tertentu saja yang melakukan perbaikan. Tapi aku dan kamu adalah sekumpulan orang yang sedang melakukan perbaikan. Aku tidak ingin menganggap orang-orang, kok diam saja. Lihatlah kita sedang melakukan sesuatu. Janganlah kita merasa diri suci dan sedang melakukan penyucian.

Tapi menganggap apapun semua adalah salah satu bentuk penganggapan juga, judgment juga. Berarti di dunia ini tak akan lepas dari anggap-menganggap. Engkau tidak mencintiku mungkin ini sebagai anggapanku. Aku telah mengacuhkan dan tak memberi perhatian mungkin pula itu anggapanmu. Seperti ungkapan, kebenaran adalah relatif dan tak ada kebenaran absolut.”

Bila si pengungakp merasa yakin dengan ungkapan tersebut adalah benar, berarti ada tanda kepastian, berarti ada tanda kemutlakan. Derajat mutlaknya kebenaran adalah sejauh derajat keyakinan pada ungkapan tadi. Hal yang mutlak itu adalah Tuhan. Tuhan-lah yang maha mutlak, yang disebut kemutlakan. Terbantahlah orang-orang yang mengaku tak ada Tuhan. Tuhannya orang-orang atheis adalah tidak bertuhan. Intinya yang maha absolut itu ada. Adanya Tuhan secara filsafat benar adanya.

Bagaimana dengan memulai dari kerancuan. Merasakan ada kerancuan berarti tanda ia berpikir. Apakah bertanya itu harus diucapkan. Bukankah bisa bertanya pada diriku sendiri, tentunya tanpa harus diucapkan. Aku menulis karena aku selalu bertanya-tanya pada diri, lingkungan dan masa depan.

Hari ini Aa Gym berkunjung ke kampus UIN. Beliau telah sukses dan menjadi panutan umat. Apa dan bagaimana yang telah mengantarkannya ke pintu kesuksesan. Kurasa karena lingkunganlah yang bisa membuat ia jadi sukses. Ia terlahir dari keluarga militer dan berkecukupan. Ia mempunyai lingkungan untuk tumbuh berkembang dan mengaktualisasikan dirinya. Sampai ia menjadi seperti sekarang ini.

Lalu bagaimana dengan diriku. Bisakah disamakan antara aku dengan beliau. Ia menjadi sukses maka akupun harus sukses. Apakah lingkungan tempat ia bertumbuh sama denganku? Aku adalah aku dan beliau adalah beliau. Kesuksesannya adalah kesuksesannya. Ia sukses dalam MQ-nya. Mungkin aku akan sukses pada bidang lain. Hanya diriku sajalah yang bisa mendefinisitkan kesuksesanku sendiri.

Aku yang terlahir dari kampung, broken home, dan miskin merupakan sebuah kesuksesanku bisa mengembara ke Bandung dan Batam. Aku bisa sekolah di SMU favorit. Aku bisa kuliah di UIN SGD. Bila disamakan dengan teman sekampungku aku tidak kalah. Setiap orang mempunyai cerita kesuksesannya sendiri-sendiri.

Jangan samakan aku dengan teman sebayaku yang kaya, rupawan dan lingkungan berbeda. Tak fair menyamakan aku dengan yang lain. Namun akupun tidak akan berhenti sampai di sini saja. Impian demi impian akan aku tempuhi. Usahakan sekuat tenaga dan memperayai keajaiban yang datang dengan selalu bersandar pada-Nya.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori