Oleh: Kyan | 10/06/2006

Bukan Sebuah Penantian Bodoh

Sabtu, 10 Juni 2006

Bukan Sebuah Penantian Bodoh

**

Hatiku tak bisa dibohongi. Aku selalu saja mengharap cinta datang padaku. Aku selalu sendirian dalam ketermanguan. Aku tak ingin diam, namun hanya diam yang bisa kujalani hari demi hari. Haruskah kuterima segala kekalahanku. Lebih baik aku pulang saja tanpa membawa apa-apa, tanpa mengharap apa-apa. Namun aku bukanlah manusia tidak manusia. Aku ingin terbang menapaki sayap-sayap malam untuk kujemput bidadariku. Aku bosan menunggu tanpa tahu batas waktu. Aku lelah dan lebih baik mengalah.

Aku serasa makin jauh dari bintang yang gemerlapan. Aku makin terperosok ke dalam. Aku semakin tak punya sayap untuk terbang mengejar bintang yang menari-nari. Haruskah kulupakan segala mimpi-mimpiku haruskah kuberpaling pada yang sudah ada di depan mata. Namun aku yakin ia akan kembali pada ia bermula. Ia akan kembali padaku yang selalu setia menanti sampai terbit fajar. Tapi aku tak ingin kalah. Bila sudah kalah buat apa mengharapkan menang. Karena aku percaya pada keajaiban. Titik.

Percuma saja aku menjalani apa yang ada, bila aku terpaut pada mimpi yang syaitan pun tidak tahu. Akankah semua pengisi dunia ini tahu bahwa aku begitu dalam mencintainya. Cintaku hanya untuknya. Tak ingin aku berpaling darinya. Tapi sampai kapan aku menanti jawaban. Sampai kapan aku menunggu bila yang kutunggu tak tahu arahnya kemana. Haruskah penantian bodoh ini semakin diperbodoh oleh waktu?

Api kecemburuan selalu saja tumbuh di lokus jiwaku. Aku tak ingin cemburu buta. Di sini kesalingpercayaan diperlukan untuk memelihara. Bila aku percaya padanya dan tahu segala perasaannya serta aku tak melebih-lebihkannya, niscaya ia tak akan kemana. Memang tak bisa dipungkiri aku selalu merasa tidak dicintai. Mungkin karena aku tak punya apa-apa. Tapi tunggu dalam lima tahun mendatang mungkin aku tak akan jadi apa-apa.

Memang pada saat ini aku ingin seperti apa? Aku akan dimana dab aku ingin menjadi apa? Semoga pada saat itu aku akan baik-baik saja. Aku harus baik seperti yang aku impikan. Meskipun kekalahan demi kekalahan telah aku tempuhi dan lalui semoga bisa mendewasakanku. Aku harus yakin dalam ketidakpastian itu selalu datang keajaiban demi kejaiban menghampiriku. Dan itu membuatku percaya dan mempercayakan pada-Nya. Tak lelah aku memohon pada-Nya. Tak lelah aku memohon pada-Nya. Walaupun diriku selalu berbuat alfa dan melanggar larangan-Nya, aku memohon ampun dan masih mengharap kasih-Nya. Bukan salah aku disini dan menjadi seperti ini. Karena ia menghendakinya, makanya aku ada.

Hidup memang pilihan. Aku harus memilih. Tapi apakah hanya diriku sendiri yang menentuan pilihan. Katanya antara stimulus dan respon ada ruang yang bisa kuisi. Apakah akan mengisinya sesuai hatinya atau sekedar apa kata orang. Kusadari tentang pilihan itu. Tapi pilihanku tak semata-mata pilihan. Ada saja yang mendorong dan menarikku, yang terkadang arah gerakan itu tak kuingini. Karena aku hidup dalam satu komunitas masyarakat, suku bangsa, agama tertentu. Semuanya ikut menentuan arah pilihanku. Sejauh mana free will yang Tuhan berikan pada manusia apakah mutlak pilihanku.

Aku terlahir dari keluarga miskin, broken home, daerah pegunungan, suku Sunda, bangsa Indonesia, agama Islam mengapa aku juga terlahir ke dunia ini? Mengapa aku harus mencintai gadis Jawa, selalu mendapat perempuan Jawa, ditolakpun oleh perempuan Jawa.  Aku menginginkan terlahir dari keluarga ini, bangsa ini, darah ini, mencintai perempuan yang disana yang disini. Bila memikiran semuanya aku ingin tertawa sekaligus menangis dan meringis. Salahkah bila aku ingin itu ini? Salahkah apa yang telah terjadi? Salahkah apa yang telah kuperbuat dan hendak kuperbuat?

Sejauh mungkin aku berada dalam kebebasan, Road to Freedom jalan menuju kebebasan begitu lempang. Sejauh manakah perjuanganku dalam menempuh semua impianku. Seberapa jauh lingkungan tempatku tumbuh ikut mempengaruhi dalam menentuan pilihanku. Salahkah jadinya bila aku selalu terpengaruhi oleh hal yang di luar diriku. Salahkah aku mencintaimu, manisku?

Sampai kapan aku harus memudarkan perasaan cintaku demi meniti satu harapan. Harapankah itu yang selalu kukejar yang hanya berupa kekayaan, popularitas, pujian, jabatan, dan segala sesuatu titel-titel duniawi yang biasa menempel pada manusia. Apakah ketika semuanya terpenuhi lantas aku menjadi tenang dan tentram. Apakah dengan semua itu aku akan bahagia?

Kurasa jalan untuk mendapatkan kebahagiaan semua orang berbeda caranya. Dan mungkin definisi kebahagiaan menurut masing-masing orang berbeda. Apakah semua orang sepakat, perjuangan hidup adalah untuk menggapai kebahagiaan hidup untuk hidup. Namun tidak semua tidak sepakat dengan hidup miskin dapat diaih kebahagiaan. Keadaan miskin atau kaya adalah keadaan yang selalu menempel pada diri manusia.

Tidak lebih dari sekedar tempelan yang tidak disengaja dan tak diingini. Namun tetap harus melekat pada manusia sepanjang waktu. Tidak salah dengan keadaan kaya atau miskin. Tapi sikap kitalah dalam memandang dua keadaan yang berlawanan itu. Dalam menentukan sikap, terkadang tidak dapat bebas sikap. Selalu ada yang mempengaruhi.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori