Oleh: Kyan | 12/06/2006

Jauh Mimpiku Dengan Keputusanku

Senin, 12 Juni 2006

Jauh Mimpiku Dengan Keputusanku

**

Selalu muncul perasaan menyesal atas apa yang telah kulakukan dan kuputuskan. Terasa berat dan pahit menerima yang telah terjadi. Hari yang telah kulewati tak ingin kuterima. Namun bisakah nasi yang sudah jadi bubur, menjadi enak dimakan? Bila itu bubur bisa ditambahkan daging, kecap, kacang dan bumbu lainnya. Sementara yang telah kulakukan agar penyesalanku hilang harus bagaimana? Menerima apa adanya itu pahit rasanya.

Andaikan hari ini tidak terjadi apa-apa pada diriku. Andaikan aku tidak melakukan apa-apa hari ini. Andaikan hari ini aku diam seribu kata, lantas apa yang kudapatkan? Bila aku diam, aku tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Jadinya sepahit apapun, seberat apapun apa yang telah terjadi pada diriku aku harus bisa bangkit dari kepahitan ini. Semoga Tuhan menyemayamkan rasa nyaman dan tentram ke hati ini atas segala hal yang menurut pandanganku tak enak hati. Semoga Tuhan membukakan tabir rahasia hikmah dibalik apa yang telah menimpaku.

Tuhan, bukankanlah tabir misteri atas semua yang terjadi padaku, pada semuanya! Memang aku benar-benar tak bisa bebas dari pengaruh dalam menentukan pilihan. Tapi kenapa rasa bersalah ini penyebabnya kutimpakan pada pihak lain? Jangan menjadi kebiasaan selalu mencari kambing hitam. Harus kuakui semua yang salah adalah kesalahanku. Tapi kesalahan itu benar-benar kesalahanku, bukan semata-mata salahku sendiri. Selalu ada pihak lain yang ikut menyumbang rasa bersalah itu. Tapi apa yang bisa kulakukan?

Membeli kartu perdana Simpati yang kemahalan. Dibeli oleh orang lain pasti harganya tetap sama. Jangan merasa terdiskriminasi. Mahal itu karena kelangkaannya. Nomornya unik pantaslah mahal. Salahku telah mendengar komentar mereka. Lagian mereka tidak salah berkomentar, toh itu mulut mereka dan adalah haknya untuk mengungakp isi kepalanya. Tapi yang harus kuperhatikan adalah responku terhadap komentar tadi.

Bagaimana menyikapi komentar yang hinggap di telingaku. Bagaimana menyaringnya semua respon itu. Benarlah ungkapan “bila ingin bahagia, harus tuli terhadap pendapat dan komentar orang”. Gesekan demi gesekkan akan selalu terjadi. Nanti bila ingin membeli sesuatu lebih baik sendiri saja. Tak usah mengajak-ajak teman jika tak mau dikomentari. Supaya ketika terjadi kesalahan tidak akan ditimpahkan pada komentar mereka, melainkan salahku sendiri.

Jika merasa salah hanya karena salahku saja yang kurang mengumpulkan informasi. Info yang akurat, baiknya dari sumber tertulis, bukan sekedar ucapan orang-orang. Benarlah tradisi ilmiah itu harus berupa catatan yang sumber datanya lengkap dan akurat. Bila ucapan, kadang ditambahi atau dikurangi. Dunia ini tak akan lepas dari celotehan-ceotehan yang terlihat memaksa dan tidak memaksa. Karena dunia begitu adanya. Aku harus menyadarinya.

Kumerasa jauh dari mimpi-mimpiku. Cintaku yang tak berujung dalam ketidakpastian. Senyum yang kosong masih saja kuharapkan keanggukannya. Apakah tak seirama nada-nada keindahan yang terjalin mesra. Sudahkah kupahami ketidakpaduan jiwa yang menimbulkan kecemburuan buta. Terasa jauh dan semakin jauh aku dari mimpiku

Aku ingin selalu dekat dan semakin mendekat. Tapi aku merasa ia telah terbang tinggi membahana angkasa meninggalkanku di sarangnya. Tak menungguku seperti yang ia janjikan. Ia terlalu jauh meninggalkanku. Sepanjang waktuku aku tak pernah ditunggu ataupun menunggu terlalu lama. Bosan aku dengan ketidakpastian. Belum yakinkah ia dengan tanda-tanda dan prasangka.

Semoga semua yang terukit memberikan keyakinan padanya bahwa aku sungguh mencintainya. Memang jalan masih panjang yang harus kutempuh. Tapi tidak semestinya memudarkan getaran-getaran jiwa. Suara di jiwa sepatutnya memberi cahaya dalam temaram fatmorgana. Menjadilah kerinduan jiwa-jiwa.

Tak menentu dengan yang kulakukan. Banyak tugas yang belum kuselesaikan. Sebentar lagi UAS banyak materi yang belum kubaca. Meskipun sibuk dengan agenda lain, belajar tuk menghadapi UAS harus menjadi prioritas. Menulis satu jam setiap hari pun harus jadi prioritas. Menulis memang tidak selamanya membuat masalah jadi jelas. Tapi tak akan sia-sia bila menyempatkan waktu menulis.

Bazar sudah selesai, tinggal kubuat laporan penjualan dan keuangannya. Harus kunikmati mengurusi masalah buku. Keuntungan dari penjualan buku katanya akan dibagi dua. Sebagai pembelajaran untuk menjadi juragan buku. Aku harus merealisasikan rumah buku yang telah kurancang. Tugas Auditing pun harus kuselesaikan untuk mencari penyelesaian pencatatan keuangan rumah buku nanti.

Aku juga belum melakukan kunjungan ke BMT. Aku akan survei ke BMT buat memenuhi tugas matakuliah BMT. Sebenarnya tugas tidaklah banyak. Akunya saja yang terlalu memandang tugas sebagai beban besar. Semuanya bisa dijalankan degnan lancar. Masalah lain dengan bahasa Inggrisku. Tak lelah aku harus berjuang keras agar bisa berbahasa. Banyak buku sebagai panduan belajarnya, tapi aku belum bisa menyempatkan waktunya.

Aku tidak boleh gelisah dan sedih hati. Harus optimis bahwa aku bisa berbahasa Inggris. Semoga agenda menonton film-film Malaysia sekalian belajar bahasa Melayu, tradisinya dan kultur Islamnya dan terpenting bahasa Inggrisnya. Di Malaysia bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, karena ia telah menjadi jajahan Inggris. Antara Inggris dan Melayu, ibarat aku sebagai orang Sunda, dalam berbicara suka mencampuradukan antara bahasa Sunda dan Indonsia.

Dan sekarang aku harus mau diperbudak oleh bahasa Inggris. Secara terpaksa aku harus menguasai bahasa Inggris. Orang Indonesia itu cerdas, karena mampu memperlihatkan keunikannya dengan beragam bahasa daerah. Tapi mereka ini datang dari Barat tiba ke Indonesia untuk mencari kesenangan dan makan, kok kaum pribumi yang harus mengerti bahasa mereka. Seharusnya mereka yang mempelajari apa yang dimiliki kami. Inilah bukti ketika segalanya menggantungkan segalanya pada yang di luar dirinya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori