Oleh: Kyan | 14/06/2006

Tak Lelah Menanti Hari

Rabu, 14 Juni 2006

Tak Lelah Menanti Hari

**

Sebelum tidur tadi malam aku minum susu. Mungkin sudah setahun lebih aku tak minum susu bubuk. Sekarang aku akan sering minum susu lagi, untuk mengimbangi latihan fitness supaya aku bertambah gemuk. Semakin hari aku semakin kurus saja. Entah karena banyak pikiran, kurang tidur, kurang makan, atau campur aduknya permasalahan. Semuanya mungkin menimpaku dimana aku tidak siap untuk menerima semua itu. Aku sering dan terus dilanda persoalan cinta yang tak memiliki kepastian.

Tak ada. Tak pernah ada orang yang benar-benar mencintaiku. Aku ingin dicintai agar aku bisa merasa bahagia. Sepanjang usahaku memang aku belum pernah benar-benar bahagia. Aku selalu dilanda berbagai persoalan dengan tugas kuliahku, dengan jabatan sekum HMJ dan pekerjaan yang harus kuselesaikan sesuai janji. Apalagi persoalan sekarang dengan ingin punya handphone. Aku ingin segera punya handphone. Nomornya sudah punya, meski sewaktu belinya dibuat kesal. Takdirku aku harus punya nomor itu.

Uang buat membeli handphone baru kupunya delapanratusribu, yang kuinginkan merek Samsung SGH x620 harga di tabloid Pulsa harganya Rp. 1.150.000,- sedangkan di BEC mereka tidak mau turun dari Rp. 1.300.000,- Jauh sekali bedanya. Aku kekurangan uang limaratusribu, harus menunggu limabelas hari lagi alias setengah bulan aku mengharap uang ada. Aku dibuat bingung apakah mesti membeli yang second saja handphone-nya. Tetap saja harganya lebih dari Rp. 850.000,-

Kacamataku juga harus segera kuganti. Aku sudah tidak bisa membaca tulisan di papan tulis, meskipun aku duduk paling depan. Karena aku tak bisa membaca tulisan di papantulis menjadikan aku kurang memahami penjelasan dosen. Kacamata mungkin harganya tigaratusribu. Itu dulu dan sekarang sudah berapa. Begitu banyak kebutuhan dan keinginanku. Aku tidak boleh merasa kalah dan lelah.

Aku harus menyadari bahwa dunia itu luas. Aku tidak boleh berpikir dunia itu sempit sampai-sampai perempuan lain tak bisa kulihat. Buat apa ada mata bila tak bisa memandang, buat apa ada hati bila tak bisa menilai. Kalau sudah jelas perempuan yang dinanti tak bisa dan tak mau, buat apa menunggu. Untuk apa ditunggu-tunggu sampai kita sendiri yang lelah dan terbelenggu. Sampai kapan penantian bodoh ini akan berakhir.

Aku tidak lelah menanti, karena aku percaya pada cinta sejati. Cukuplah untuk sekarang ini aku bisa mengabdikan diri pada cinta sejatiku. Biarlah yang dicinta diam membisu. Tapi dia tak bisa melarangku untuk mengabdikan cintaku padanya. Adalah hakku untuk mencintai siapa saja yang kuinginkan.

Inginnya setiap perempuan ingin kucinta. Memang harus dicinta, tapi saat ini aku hanya bisa mencintai seorang saja. Seorang yang hanya bisa diam dan menyiksa hari-hariku. Kuingin perempuan dan aku menjadi sempurna secara fisik, psikologi dan rohani. Secara rohani aku ingin selalu menambah ilmu, baik itu menimba dari pengalaman hidup orang atau terutama dari pengalaman sendiri.

Untuk mendapat pengalaman diri, aku harus terus bergerak dan berbuat sesuatu. Bergerak tanpa pernah diam. Karena bila kudiam aku tidak akan pernah mendapat apa-apa. Apapun hasil perbuatan itu, baik atau buruk, membuahkan kesenangan atau kekesalan, dari buah apa yang kita lakukan selalu berusaha meraih hikmah sejati.

Lalu sempurna secara psikologi atau emosional adalah menjadi peka terhadap lingkungan. Keberadaanku dalam sebuah lingkungan berdaya guna. Aku bisa menjadi solusi bagi segala persoalan yang menimpa orang-orang di sekitarku. Agar aku bisa menjadi solusi, aku harus mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada mereka. Entah itu harga benda perhatian, atau sikap empati terhadap mereka. Aku harus bisa menjadi sahabat sejati mereka.

Di sini semangat berkorban diperlukan demi untuk membahagiakan mereka. Lantas apa yang telah kuberikan pada mereka. Jangan pernah berkata, “Naha, kenapa”. Kenapa tidak ada balasan. Biarlah hukum alam yang bekerja. Kita hidup dalam sistem alam semesta yang berkeadilan. Hidup ini adil. Meskipun yang nampak oleh kita penuh dengan ketidakadilan. Aku harus memandang jauh ke depan.

Secara fisik aku bukanlah orang yang sempurna secara fisik. Badanku sejak dulu kurus kerempeng. Entah kurang makan atau banyak pikiran, ataukah karena keturunan. Aku terlihat kurus dari wajahku yang kempos pipiku. Makanya temanku bilang kayak kakek-kakek. Aku memang pantas dihina. Biarlah aku memang begitu adanya. Banyak teman bilang, bisa gak digemukan sedikit saja. Tinggi badanku lumayan sama setinggi Sahrul Gunawan.

Untuk menjadi sempurna fisik, sekarang aku mencoba makan teratur. Minum susu dan ikutan fitness. Meski aku kurus aku tak malu ikutan fitness. Justru karena badanku ingin gede. Meski semuanya memerlukan uang, tapi duit dapat dicari demi kebahagiaan. Tapi secara fisik aku cacat bagaimana bisa fintess. Dadaku membusung sebelah. Setelah sering fitness dada sebelah kanan berbidang, sementara dada kiri tidak. Karena ada rangka tulang yang membengkok kedalam.

Apakah nanti bisa seimbang? Otot lengan juga gede sebelah. Semoga lambat laun menjadi seimbang. Dada kiriku harus dipenuhi dengan banyak daging. Yakin aku bisa. Fisik adalah seperti apa yang dipikirkan kita. Jiwa memberi penjelasan tentang fisik. Jiwa bicara ini maka fisik akan begini. Gambaran mengenai diriku adalah seperti apa yang kupikirkan. Aku tidak boleh berkecil hati. Aku akan berbesar hati. Dan akupun bisa menggeser gunung.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori