Oleh: Kyan | 17/06/2006

Maafkan Aku Menolakmu

Sabtu, 17 Juni 2006

Maafkan Aku Menolakmu

**

Terima kasih duhai perempuanku. Engkau memang selalu menjadi tambatan dan penyejuk kalbuku. Dikala kubingung diantara dua pilihan, kau memberi penerang jalan hingga aku tetap bisa melangkah. Meskipun kesepian yang mencekam dan mencengkram di tengah jalan. Nyatalah engkau adanya adalah dirimu yang memang seorang perempuan yang memang “perempuan”.

Bila aku jadi presiden MKS, memang ada kebanggaan. Tapi aku bukanlah orang yang terbaik. Masih banyak teman-temanku yang lebih layak, terutama ada yang sudah bersedia jadi presiden. Bagi yang sudah mau, mungkin ia sudah mempunyai program bagus untuk memajukan MKS.

Bagiku biarlah siapa saja yang jadi presiden MKS, aku mendukung dan mensupport-nya. Yang penting aku tetap berjuang bersama-sama dalam kemajuan MKS. Ikut membangun tidak harus ikut masuk birokrasi, menjadi oposisi yang baik adalah muskil bagiku demi MKS. Dimanapun aku berada aku tetap berjuang demi pencapaian sebuah cita-cita. Setiap apa yang kulakuan bukanlah untuk siapa-siapa. Semua kembali pada diriku.

Aku harus segera menyusun laporan LPJ KBMP. Senin mau diadakan Mubes LPJ dan pemilihan presiden dan wakilnya. Aku ditawari jadi presiden oleh anak MKS-C-2 digandeng Wildan. Kubilang pada mereka sembilanpuluh persen aku sudah tidak bersedia, sisanya entah apa. Kemarin saja jadi Sekum lelahnya minta ampun. Bukan saja berpikir tapi tenagaku dikuras. Setiap ada kegiatan aku harus bertanggung jawab dalam segala tulisan, proposal, surat, brosur, spanduk dan yang lain.

Tidak harus diungkit-ungkit, biarlah telah terjadi menjadi amalaiah bagiku. Nanti juga kembali padaku. Aku hanya menabung di RBH, rekening bank hubungan. Semakin banyak menyetor di RBH, semakin leluasa dalam menarik RBH. Nikmati setiap kecapean, kelesuan dan segala ketidaksenangan lainnya.

Sekarang pun malah dibuat pusing dengan perlakuan temanku. Salahkah dengan apa yang kuputuskan? Hari ini aku telah mengecewakan temanku, Robbi. Ia mau pinjam handphone ku untuk memakai kartunya. Aku menolaknya karena handphoneku masih baru, baru satu hari tak ingin dibongkar dulu sampai waktu yang kuinginkan. Karena handphone adalah milikku, boleh kan aku buat peraturan demi menjaganya dari kerusakan? Berhak kan aku membuat keputusan demi kemanan barang milikku?

Ah, aku telah menolak permintaan temanku sendiri hanya karena kekahawatiran yang mungkin menurut orang lain adalah khawatir berlebihan. Berlebihan atau tidak aku hanya ingin menjaga barang milikku sendiri. Kalau rusak orang lain mana ikut repot. Seperti barang-barang yang telah bela-belain kubeli. Barang yang rusak aku sendiri yang menanggung resiko, tak ada yang ikut menyumbang.

Aku ingin Robbi bisa menghargai penolakanku. Lagian perasaanku baru kali ini aku menolak permintaan tolong dia. Kemarin saja ia pinjam uang seratuslima puluhribu kukasih dia. Katanya ia mau membeli handphone dan akan menjualnya duaratu limapuluhribu. Untungnya aku tak minta, karena memang akad tolong-menolong sesama teman. Dasarnya aku memberi pinjam dan tak pantas meminta untungnya. Haram hukumnya.

Bila kuungkit-ungkit kebaikanku padanya malah membikin riya. Aku hanya ingin mendapatkan penguatan aku selalu berusaha berbuat baik padanya. Aku tak enak hati, gara-gara permintaannya ditolak kali ini. Ia malah bilang, “Sing gampang lengit!,” begitu gerutunya sambil melengos pergi. Aku merasa didoakan jelek. Bukannya aku pelit tapi sudah kujelaskan penolakanku.

Terserah orang menganggap apa. Memang pantas dia ngomong apapun karena permintaannya ditolak. Tapi kukira berlebihan sampai-sampai ia ngomong seperti itu padaku. Wajar mungkin orang lagi marah, omongannya tak bisa dikendalikan. Kuserahkan saja pada Allah. Masa doa untuk mencelakakan orang lain, Allah akan mengabulkan. Tapi mungkin saja, kun fayakun.

Yang penting aku tak mendzalimi siapapun. Aku hanya menolaknya saja. Ia harus sadar bahwa segala yang kita minta ke orang lain tidak semuanya bisa dipenuhi. Pelajaran untuk tidak menjadi keenakan selalu merepotkan orang, selalu meminta pertolongan. Semua harus mampu hidup mandiri, setidaknya selesaikan dulu sendiri. Pantang menjadi beban bagi siapapun. Prinsipku jika tak bisa, tak punya, tak mampu, ya sudah tak ingin merepotkan orang. Meminta bantuan orang jika soal yang darurat saja, yang tidak bisa tidak.

Aku merasa khawatir dengan omongan Robbi. Karena handphoneku sebelumnya hilang gara-gara tidak apik. Aku tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Aku harus minta maaf ke dia atas penolakanku. Kubilang, sok saja kalau mau minta sms, tapi aku belum siap diminta handphoneku dibongkar pasang. Ini adalah handphoneku.

Kalau ingin bebas, membeli saja sendiri. Demi sebuah handphone aku rela berlapar ria. Jangan bikin repot orang, apalagi ini sampai mengutak atik dan mengutuk. Semoga aku tidak berlebihan dalam menyikapinya. Barusan juga ada yang pinjam buku, kukasih. Jadi aku berhak memutuskan memberi atau tidak atas permintaan orang lain.

Untung buku yang dipinjam bukan referensi tugasku. Aku belum memikirkan tugas BMT. BMT apa yang aku jajaki buat menyusun laporan. Tugas perpajakan belum kelar. belum menyusun jawaban soal kisi-kisi Manajemen Haji dan Statistika. Semua fotokopi belum kubaca. Mungkin setelah hari Rabu, aku akan konsentrasi pada tugas kuliah. IP-ku tidak boleh turun, bukannya harus naik. Kalau bisa empat. Aril saja bisa sampai IP 4, kenapa aku tak bisa. Aku pasti bisa makanya ke depan aku akan konsentrasi pada kuliah. Aku terus mengejar nilai-nilai berupa hanya angka-angka itu.

Nanti akan kutolak jadi calon presiden MKS. Lagian bila aku diterima magang di BI bulan Oktober aku akan magang di BI, tidak ada waktu buat mengurusi organisasi. Memang cita-citaku ingin kerja di BI. Andaikan aku bisa kerja di BI. Tapi kelemahanku bahasa. Makanya setiap kali sms, aku berusaha untuk memakai bahasa Inggris. Ingin seperti orang Malaysia, dimana percakapan tigapuluh persen menggunakan bahasa Inggris.[]

**

 

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori