Oleh: Kyan | 20/06/2006

Dengannya Menjadi Dewasa

Selasa, 20 Juni 2006

Dengannya Menjadi Dewasa

**

Pengalaman di organisasi selama setahun harus bisa lebih mendewasakanku. Mungkin bila lebih lama lagi akan lebih baik dan matang pengalamannya. Tapi tidaklah ada agenda lain yang harus segera kuselesaikan dan meniti jalan lain menuju apa yang menjadi harapan selama ini. Setamat dari MKS aku harus bagaimana dan dimana, itu yang menjadi pikiranku. Ingin menjadi apa sih sebenarnya belumlah jelas inginku ini. Seperti apa sebuah harapan, ingin berada dimana, di tempat mana yang kuinginkan itu masih mengambang. Apakah kebiasaan-kebiasaanku sekarang dalam rangka memformat masa depan?

Selalu risau dengan masa depan. Kusandarkan pada Tuhan tentang bagaimana masa depanku. Aku harus hidup hari ini, saat ini. Aku harus bahagia hari ini. Semoga hari-hariku akan semakin lebih baik. Tidakkah setiap detik aku ingin selalu menanam apa yang bisa kutuai suatu saat nanti. Terpenting sekarang aku harus mempersiapkan ujian akhir semester.

IP-ku harus lebih baik dari kemarin. Aku bisa optimal dalam ujian nanti tanpa harus melanggar prinsipku sejak awal. Aku tidak akan mencontek. Dengan jalan benar pun aku bisa menjadi yang terbaik bagi diriku, apalagi sekarang sudah tidak ada beban lagi dengan urusan organisasi. Dengan fokus akan semakin baik.

Tugas kuliah harus segera kuselesikan, semua fotocopi harus kubaca dan kufahami. Aku pasti sempat membaca dan mempelajarinya. Aktivitas selama seminggu selain belajar persiapan UAS, paling fitness dua hari sekali dan besok berencanaku akan renangdi Bara Manglayang. Badanku harus fit untuk menghadapi UAS. Dan tidak lupa minta doa pada ibuku supaya Allah memudahkanku dan memberi kelancaran dalam ujian. Dengan doa dan usaha semua bisa berjalan dengan semestinya.

Doa pun merupakan usaha. Definisi umum usaha adalah pekerjaan fisik dan pikiran. Material dan spiritual. Sedangkan doa adalah pekerjaan pikiran sampai hati. Aku harus mengetahui pengertian antara raga, jiwa, otak, hati, pikiran dan istilah-istilah lainnya. Raga adalah wadah jiwa. Spiritual terdiri atas jiwa dan ruh. Jiwa adalah berjenjang sementara ruh adalah pancaran cahaya Tuhan dan tak terkontaminasi sifat-sifat kejelekan.

Lalu akal identik dengan pikiran, yaitu suatu istilah untuk aktifitas-aktifitas pemberdayaan jiwa, untuk mencapai tingkatan-tingkatan jiwa yang lebih tinggi. Bila mencapai jiwa mutmainnah akan mengalami ketenangan hidup. Menjadi ihsan dalam setiap pekerjan akan bermakna bagi kehidupan. Ujungnya pencapaian spiritual-lah dalam menggapai kata pemberdayaan. Namun harus diingat, sebelum mencapai spiritual, tidak bisa tidak pencapaian materi harus terpenuhi. Tanpa didukung materi, dalam mencapai semuanya akan mengalami berbagai hambatan. Namun tetap tetaplah materi hanyalah alat. Ibarat uang sebagai alat transaksi demi pencapaian sosial dan spiritual.

Tampak bersinar cahaya pesona mukanya. Mengepakkan sayap-sayap kehidupan bagi insan-insan pendosa. Telah tampak kepudaran yang semakin berdenyut dalam kependarannya. Wajahnya telah lapuk dimakan zaman. Sebuah zaman yang lebih menghargai kematian. Manusia selalu ingin hidup, akan selalu hidup, meskipun ia mati. Jiwa yang hidup. Aku ingin hidup dalam segala jiwanya. Tidakkah salah aku memilih jiwa atau wadahnya?

Bagaimana aku bisa memilih jiwa tanpa cawannya? Ketika kupilih satu jiwa harus secara sendirinya harus bersama cawannya. Tidak bisa menerima anggur tanpa cawannya. Memang setelah diminum, cawan anggurnya bisa dikembalikan. Dikembalikan pada ibunya yang mengandung dan berasal. Yakini pada ketiadaan cawannya, jiwanya akan selalu hidup. Demi kehidupan jiwa yang terus membumbung, wadahnya harus mengalami mati, lalu hidup lagi.

Dia atau siapapun namanya perempuan selalu ingin melihat yang real, yang nyata terlihat oleh mata indra. Apakah benar senyata-nyatanya perempuan cenderung pada maeri. Cewek komersil mungkin benar adanya. Memang lelaki harus mau menerima bahwa peremuan secara wajar berhak menuntut kesediaan materi untuk menjalani hari-harinya. Materi harus disucikan kembali dari kekotorannya.

Selama ini orang memandang materi adalah suatu yang jelek. Bila seseorang mengejar-ngejar materi akan dikatakan materialistis. Tidak semata-mata materi memang, tapi sebagai dalam rangka pengabdian untuk kemuliaan. Yang membedakan hanyalah paradigma berpikirnya. Tidakkah setiap orang punya hati nurani? Apakah hati manusia memang benar-benar sudah ada yang mati? Bukankah hati akan selalu hidup pada orang yang selalu sadar. Seseorang mencari materi demi keluarganya, demi sahabat-sahabatnya, atau demi lingkungannya yang lebih besar cakupannya bukankah itu seuubah kemuliaan.

Kurasa setiap orang berpikir ujung-ujungnya adalah ridha Allah. Cuma ada yang terucapkan oleh mulutnya dan yang tidak. Pada alam bawah sadarnya tersimpan ketundukan pada pencipta-Nya. Namun manusia harus sadar akan kehendak bebasnya. Supaya ia bisa kreatif dalam hidupnya. Mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian untuk dirinya dan keberadaan diri di lingkungannya. Apakah aku sudah bisa? Harus bisa.

Persoalan cinta tak ada habisnya. Terbelenggu oleh cinta masihkah ada harapan untuk mendapatkannya? Bisakah selama dua tahun dari sekarang aku bisa mempersiapkan segalanya. Hanya dua tahun ia memberikan kesempatan. Ya Allah, berikan padaku jalan rezeki untukku hidup dalam naungan-Mu. Dua tahun dari sekarang aku harus sudah mapan secara materi dan kedewasaan.

Dua tahun lagi aku berusaia duapuluh tahun, saatnya untuk menjemput cintaku. Aku harus lebih baik dan semakin lebih baik. Bisakah aku mempersiapkan segalanya untuk sebuah pernikahan selama dua tahun ke depan? Mungkin acuanku adalah untuk membangun rumah tangga. Yang dengan pernikahan aku akan menjadi dewasa.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori