Oleh: Kyan | 29/06/2006

Dalam Rimba-Rimba Cahaya

Kamis, 29 Juni 2006

Dalam Rimba-Rimba Cahaya

**

Membuat janji dengan BMT Barrah, aku bisa memenuhinya. Aku harus belajar disiplin waktu. Bila aku mampu memenuhi setiap janji, baru aku bisa dipercaya bahwa aku memiliki kredibilitas tinggi. Bincang-bincang seputar BMT membuatku jadi semangat dalam memperjuangkan ekonomi Islam. BMT sebagai lembaga mikro memiliki prospek yang baik. Suatu saat nanti aku bakal jadi direktur keuangan mikro. Cuma mungkin setelah menikah, baru aku bisa merealisasikan apa yang kuinginkan dan harapkan itu. Aku mampu karena aku berpikir aku mampu dengan segala mimpi-mimpiku.

Tapi dalam soal perempuan, sampai saat ini belum ada perempuan yang ingin kucintai sepenuhnya. Dan tak ada perempuan yang mau mencintaiku. Yang ada seperti Dudi bilang, “Kasih tak sampai”. Itu semua terangkum dalam puisi-puisiku yang berserakan dimana-mana. Wajarlah tak ada perempuan yang mau padaku. Karena aku tak punya apa-apa dan tak mampu apapun saja.

Namun aku yakin suatu ketika nanti akan ada seseorang yang selalu mengharapkan kedatanganku. Terima kasih pada perempuanku yang selalu menungguku. Terima kasih pada seseorang yang telah menjadi jelmaan jiwa tambatan hatiku. Tunggulah aku di sepenggalan manzilahnya. Engkau tahu jiwamu adalah jiwaku. Namun jasmanimu selalu melayang menapaki hasrat hatimu. Jiwamu masih terbelenggu pada ambisimu.

Engkau mesti ingat jiwamu adalah perempuan. Perempuanmu adalah kamu. Meski engkau semakin menjauh, namun kau semakin mendekat. Asalmu dari sang Pencinta yang selalu kudamba. Engkau tak bisa kemana-mana selain hanya melingkupi diriku. Engkau tak bisa pergi dan terbang tinggi tanpaku. Percayalah itu.

Meskipun mulai Selasa mau UAS. Sempatnya aku jalan-jalan ke BIP dan Gramedia. Sekalian aku mencari bahan tugas Statistika. Dudi bilang materi Statistika itu ada di buku kelas tiga SMU. Dan Aceng Mukhlis bilang itu ada di buku Manajemen Operasi. Semakin banyak informasi yang dapat kuhimpun akan semakin memudahkan dalam menyelesaikan tugasku.

Semakin cepat aku mengakses informasi akan semakin cepat dalam percepatan hidupku. Bernama ambisi kehidupan memang terkesan negatif. Orang bilang itu materialistik. Tapi yang dimaksud adalah ambisi, bukan ambisius. Dan yang namanya hidup harus selalu berubah, tidak boleh statis. Manusia harus menuju kesempurnaan, kesempurnaan dalam menuju cahaya-Nya.

Kita adalah pantulan-pantulan cahaya yang mengada karena ada sumber cahaya. Dan kita kadang terpesona dengan kilatan-kilatan cahayanya, bukan langsung melihat pada sumber cahayanya. Ia yang indah di atas keindahan kilatan-kilatannya. Cahaya-Nya membahana ke segala penjuru angkasa raya. Mempesona dalam rimba-rimba cahaya. Menuju cahaya dalam keterasingannya. Dalam kegelapannya aku sedang berjalan. Aku memuji setiap insan-insan yang kegelapan. Insan yang mencari-cari naungan cahaya-Nya.

*

Kacamataku pecah, karena bingkainya sudah rusak. Sudah sejak lama ingin membeli kacamata baru. Kacamata lama sudah berusia lima tahun. Jika membeli kacamata baru, merasa sayang uang untuk membeli yang baru, akhirnya gak jadi membeli kacamata baru. Tapi pecahnya kacamata di tempat fitness menandakan bahwa aku harus segera membeli lagi. Tapi apa uangnya cukup?

Aku baru punya uang empatratusribu. Ada piutang di orang lain duaratusribu. Belum aku nanti bakal magang di Tasik harus banyak persediaan uang. Bila membeli kacamata baru, aku tak akan bisa kubeli buku tafsir Fi Zhilal di Book Fair. Kacamata lebih penting. Jika membeli kacanya saja frame-nya juga sudah rusak. Sudah gak kuat lagi bautnya. Sudah terlalu lama usianya.

Jika tanpa kacamata aku tak bisa ngapa-ngapain. Mengetik tak bisa melihat huruf-huruf di layar monitor. Mau nonton pilem juga tak bisa. Padahal masih banyak tugas kuliah yang harus aku selesaikan segera. Jika tak jadi membelinya besok, mau tak mau aku harus segera memakai kacamata. Nanti mau magang bakal kesulitan.

Dengan kacamata baru aku bisa memandang. Masalah sekarang aku harus membeli kacamata. Tak boleh lebih dari harganya Rp 360.000,- frame dan lensanya. Supaya murah harus banyak bertanya ke sana-sini dan membanding-bandingkan harga. Pada Dudi, Uly, dan Yunia aku hendak bertanya. Orang tua Yunia punya optik di Kiaracondong. Bakal lama jika harus menunggu  Yunia datang ke Bandung setelah masa minggu tenang. Kukirim sms pada Dudi dan Uly, pulsanya habis. Dari kemarin banyak yang minta sms sih.

Besok pagi aku mau langsung saja ke Optik Krida. Malam ini aku akan ke BHO optikal. Bertanya berapa harga pasaran dan standar frame. Tanpa kacamata aku tak bisa ngapa-ngapain. Hidupku tak bisa lepas dari benda itu. Kenapa pula mataku jadi minus, sehingga harus memakai alat bantu penglihatan.

Untunglah orderan sudah beres. Tinggal menyelesaikan tugas sendiri. tugas SBS harus ke Bapusda. Malam ini harus mengerjakan tugas BKS. Sampai malam Sabtu aku belum sedikitpun membuka buku materi kuliah. Menerima orderan pekerjaan memang menyita waktuku. Selain mengetik ditambah mikirnya yang lama. Demi sesuap nasi aku tak bisa 100 persen konsentrasi pada kuliah. Aku harus mencari tambahan uang saku.

Menjadi penulis sampai sekarang belum terpenuhi. Menyelesaikan tugas orang lain pun bukankah itu menulis juga? Aku ingin menulis yang dimuat di koran, majalah dan buku. Semuanya perlu waktu. Semua adalah evolutif. Sama seperti problem pendidikan Indonesia. Karena mendapat indeks SDM Indonesia menempati urutan 112 dari 113 negara. Kasihan banget Indonesia. Sekarang UAN SMP/SMU jadi problem karena banyak yang tak lulus UAN. Ingin meningkatkan indeks manusia Indonsia memerlukan tahapan evolutif.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori