Oleh: Kyan | 01/07/2006

Sudut Pandang Kesucian Perempuan

Sabtu, 01 Juli 2006

Sudut Pandang Kesucian Perempuan

**

Malam minggu ini tak membuatku bete. Karena Nenk Titin dan Dian Hadi menemaniku di kosan. Sejak Ashar sampai jam delapan kami berbincang tentang segala hal. Aku ingin tahu latar belakang dia dan kampung halamannya. Nanti ketika setelah magang di Tasik sekalian mau jalan-jalan ke rumah Liza, Pipih, Nenk Titin, dan rumah semua teman di Tasik.

Aku ingin tahu daerah kampung halaman masing-masing kawanku. Bumi ini begitu luas, aku ingin mengunjungi segenap penjuru dunia. Aku ingin pergi ke Taj Mahal yang sering jadi latar perfilman Hindi,  pergi Al-Hambra dan Mezquita di Andalusia, dan Ayasophia di Turki. Orang lain sudah bisa sampai di Mars, masa aku mengelilingi daerah Tasik saja belum.

Setiap orang pasti mempunyai masa lalu. Entah itu yang baik atau buruk. Nenk ngomongin kehidupan masa lalunya. Orang semanis dia, sekolah di SMU, aku bisa memprediksikan waktu di SMU-nya. Jangankan SMU, yang sekolah Aliyah saja aku bisa melihat pergaulannya. Bisakah aku mendapatkan perempuan yang masih belum ada stempel di badannya. Stempel tangan-tangan jahil yang pernah menyentuhnya. Apalah arti sebuah kesucian fisik dan metafisik.

Perempuan cantik susah dipastikan kesuciannya. Namun aku berpikir positif. Aku bakal menemukan perempuan yang selalu menjaga kesucian dirinya. Sesuai diriku yang seberapa jauh mampu menjaga kesucian diriku. Aku akan mendapatkan pasangan yang sesuai bagi kehidupanku. Aku sendirilah yang harus menjaga kesucianku. Sampai sekarang belum pernah ada yang mencintaiku. Meski aku selalu mencintainya. Mungkin adalah skenario Tuhan telah menjaga kehormatanku. Jadi tak harus merasa sedih dan berkecil hati bila belum ada yang mau menerimaku.

Namun tetap saja merasa tak dicintai menimbulkan masalah kejiwaan padaku. Masalah kejiwaan berefek pada lain-lain hal. Mengutak-atik handphone, salah memasukkan PIN. Akan kucoba dibawa ke konter Telkomsel. Sorenya ketika dicoba-coba sama Opik malah jadi hang. Kubawa ke konter sekalian mau mengisi pulsa. Ingin mengeaktifkan GPRS harus menunggu 48 jam. Katanya karena handphone mereknya Siemens, harus datang ke kantor Siemens. Lain kali saja, aku harus konsentrasi menghadapi UAS. Sampai detik ini aku belum membuka buku.

Akhirnya jadi juga aku membeli kacamata di Optik Krida. Kebetulan disana lagi ada bigsale. Aku membeli frame kacamata merek Only seharga limaratusribu dengan diskon empatpuluh persen. Lalu lensanya membeli merek Leinz seharga seratusdua puluhribu. Ini cukup murah katanya dibanding lensa Flat yang harganya duaratus sepuluhribu. Disebut lensa Flat seperti TV flat atau monitor flat. Setelah menego harga semuanya menjadi empatratusribu. Selesainya dipasang dan aku harus datang lagi hari Kamis.

Mulai Jum’at aku akan tampil beda dengan kacamata baru. Badanku sekarang lebih berisi karena fitness. Begitupun pakaiannya adalah jaket dan celana baru, handphone baru, penampilan baru, semua serba baru. Namanya dunia selalu ada baru dan lama. Tapi cinta sejati kekal abadi.

Neng Titin sudah janji mau lari bareng pagi ke Manglayang. Kutelepon tiga kali gak aktif. Akhirnya aku pergi sendirian saja. Lagian sudah terbiasa sendirian. Bila bersama pihak lain melakukan sesuatu hal kadang merepotkan. Bukankah ingin bebas sekehendak hati, maka lebih baik sendirian saja. Aku kemana pun sering sendirian, meski kesepian.

Dilanjutkan fitness sampai jam setengah sepuluh. Pulang fitness tadinya mau langsung mengerjakan tugas BKS, karena tiba-tiba kantuk muncul, mengetiknya cuma sebentar. Akhirnya tertidur sampai jam satu siang. Lalu bangun untuk menunaikan salat Duhur, makan, dan melanjutkan pengerjaan tugas BKS yang tertunda. Sampai saat menulis ini masih belum kelar juga. Tapi Insyaallah akan segera selesai. Tadi terpotong oleh kedatangan Dudi mau mengetik laporang keuangan dan penjualan usaha aluminum pamannya.

Ibuku mengirim sms dan meneleponku. Kubilang pada ibuku aku mau menghadapi UAS, meminta didoakan supaya dilancarkan. Kubilang juga sudah membeli kacamata baru karena minus mataku bertambah. Hasil pemeriksaan di Optik Krida sekarang mataku jadi minus 3.25 dan silindris satu. Apakah tidak salah dengan pemeriksaan ini, karena sebelumnya mataku tidak silindris. Mungkin gara-gara di depan komputer terus dan bekerja ekstra yang memerlukan mata terus melotot.

Memang mengerjakan tugas semua harus dengan komputer, jasa pengetikan dan segala tugas semuanya dikerjakan di depan komputer. Jika tanpa diketik, katanya tidak menghargai teknologi. Jika keadaannya begini mulai sekarang aku harus memberikan tarif tinggi. Rasa kasihan harus dihilangkan dariku. Soalnya bukan sekedar korban waktu dan tenaga, otak, dan juga terpenting adalah mataku yang jadi rusak.

Mataku sering terkena radiasi cahaya monitor. Juga hal-hal yang memerlukan cahaya elektromagnetik. Sisi lain kemajuan teknologi bermanfaat bagi manusia, tapi juga sebaliknya membahayakan manusia dan lingkungannya. Mencari yang aman harus kembali ke tradisional, sebagian golongan berpendapat Back to Nature, kembali ke alam. Hidup sekarang sudah tidak bisa lepas dari teknologi elektromagnetik.

Ada salah satu organisasi muslim, bernama “Jemaah Tabligh”. Katanya ia mau berusaha untuk bisa lepas dari hal-hal yang berbau teknologi. Ia ingin kembali ke hal-hal tradisional, yang belum terkontaminasi oleh “kemajuan”. Di rumah mereka tidak ingin ada televisi, handphone, mobil dan segala prangkat hasil kemajuan tadi.

Pendapat Jemaah tabligh ini dapatkah dikatakan sebagai langkah kemunduran? Apakah mereka berputus asa menghadapi masa depan? Dan bisakah manusia sekarang lepas dari kemajuan teknologi? Bukankah kemajuan teknologi mampu memudahkan manusia dalam menjalani aktivitasnya? Silakan dicari jawabannya!

Mungkin perlu dipahami kesimpulan filosof yang mengatakan bahwa “sains itu lahir dari landasan ontologis, epistiomologis, dan aksiologisnya”. Para filsuf melihatnya dari sudut pandang cara berpikirnya. Jadi landasannya apa yang dipakai sehingga melahirkan teknologi sebagai sosok berwajah ganda ini. Wajarlah mereka mengatakan perlu adanya Islamisasi Sains.

Sedangkan para saintis, termasuk saintis muslim, Abdus Salam berpendapat bahwa tak perlu adanya Islamisasi Sains. Ia bilang sains itu netral. Sang ilmuannya yang harus beretika. Memang para saintis hanya berkutat dalam laboratorium penelitian untuk menghasilkan perangkat-perangkat teknologi. Sekarang lebih baik mengoptimalkan fungsi-fungsi teknologi dalam rangka dakwah Islam rahmatal lil’alamin.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori