Oleh: Kyan | 03/07/2006

Sedarah, Senasib, dan Sepenanggungan

Senin, 03 Juli 2006

Sedarah, Senasib, dan Sepenanggungan

**

Akupun bersyukur akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas BKS. Original hasil pemikiranku sendiri. Tulisannya bernada obrolan dan tidak menjelimet seperti sekedar sambung-menyambungin paragraf dari buku satu dengan paragraf di buku yang lain. Akhirnya aku berani menuangkan gagasanku sendiri ke dalam tulisan. Tulisan yang renyah dan enak dibaca.

Hari ini, kakakku datang setelah dua tahun lebih kami gak bertemu. Ia sampai juga di kosanku dengan bermodalkan secarik alamat. Aku senang tidak senang dengan kunjungan kakakku. Tak tahu kenapa hubunganku dengan kakakku biasa-biasa saja. Tak mesra dalam arti harmoni sebagaimana hubungan kakak adik. Tapi dari lubuk hati terdalam aku dengan kakakku pasti ada saling memiliki dan keterpautan hati. Ada perasaan untuk berkorban demi seorang kakak atau adiknya. Hubungan sedarah pasti ada ikatan batin. Tidak hanya ikatan batin, tapi ikatan sejarah, senasib sepenanggungan.

Aku memiliki cita-citaku sendiri. Sekarang sudah mempunyai perusahaan sendiri dengan nama Aya Sophia Integrated. Aku sudah bisa mempunyai penghasilan dari keringatku sendiri. Penghasilan hari ini kuperoleh enampuluhribu lebih. Coba kalau setiap hari sebesar ini. Pelanggannya ini baru anak-anak MKS saja. Coba kalau promosinya gencar. Pokoknya aku akan mengembangkan Ayasophia. Suatu saat nanti orang-orang akan mendengar Ayasophia secara familiar. Ayasophia akan jadi besar.

Rencana hari ini setelah membereskan tugas BKS, mau pergi ke perpustakaan daerah. Pagi-pagi pada datang teman-temanku. Mulai dari Echa, Puri Rahma, Dudi, Aceng, Neng titin, Iis, Dian, dan nama lain yang sering datang ke kosanku. Mereka datang bisa dipastikan mau minta tolong, mau mengeprint, ikut mengetik, meminta diketikkan, atau sekedar nongol. Aku bersyukur namaku sudah ada di benak mereka.

Semoga saja aku bermanfaat bagi mereka. Meski aku sering dibuat kesal. Seperti aku lagi banyak pekerjaan, mereka pada menggangguku. Bukan kenapa setelah membereskan pekerjaan satu, pekerjaan lain sudah  menunggu harus segera diselesaikan. Akhirnya aku sering uring-uringan sendiri. Menampakkan wajah ketus saja pada mereka.

Mengerjakan tugas SBS dan BMT selanjutnya yang jadi fokus perhatian. SBS harus mencari referensi ke Bapusda atau menerjemahkan diktat kuliah SBS. Lagian bahasanya cuma sedikit. Masa tidak selesai tugas satu makalah dirembug oleh limabelas orang. Cuma tugas BMT bingung mesti menganalisis apanya. Bagaimana kalau membandingkan antara fungsi Maal dan Tamwil-nya. Aku mau menanyakan bagaimana tugas BMT. Dua tugas tersebut dikumpulkannya tinggal seminggu lagi. Sekarang ini, malam ini aku harus berfokus pada persiapan mata kuliah Audit. Insyaallah aku akan mendapat nilai yang memuaskan. Nilai UTS lumayan dan nilai terstruktur juga bagus. Masa tidak mendapai nilai A. Dosennya juga baik. Aku yakin dosen akan memberikan nilai yang memuaskan.

Hari pertama UAS di semester empat sudah dimulai. Haruskah aku melunturkan idealismeku yang sejak semeser satu kupegang erat-erat dan kupertahankan. Haruskah aku larut ke dalam lumpur kemanisan nilai besar tapi penuh kebohongan. Semoga Tuhanku selalu menunjukkan jalan yang diridhai-Nya. Tapi akhirnya meski tidak mencontek tapi aku kerjasama dengan teman-teman dalam mengisi soal ujian.

Mungkin hati nurani setiap orang ketika menghadapi ujian ingin murni hasil otak sendiri. Tapi karena keadaan atau sistemnya memberi peluang pada kami untuk kerjasama atau saling contek-mencontek. Suara hati itu tertutupi, terhijabi oleh belenggu-belenggu dogma bahwa bila nilai sangat menentukan masa depan. Aku yang sejak semester awal selalu mempertahankan idealisme sekarang mulai lapuk. Aku sudah mapan dalam soal nilai, IP-ku semester satu sampai tiga, meraih 3,7 lalu 3,9 lalu 3,9. Itu karena hasil jerih payahku yang selalu mempertahankan idealisme.

Sekarang bila tak ikut ambil bagian dari mereka, kemungkinan nilai teman-teman pada bagus. Aku pun ingin memperoleh bagus. Tak mau seperti semester kemarin nilai matematikaku B adalah hasil murni kerja kerasku, sementara yang lain mendapatkan nilai A. UTS saja aku mendapat nilai paling gede, mengerjakan tugas paling rajin, selalu ke depan, tapi disamakan dengan yang nilainya jeblog, tak pernah mau ke depan untuk mengisi jawaban, dan mengisi PR cuma mencontek.

Mereka mendapat UAS bagus karena kerjasama dan saling mencontek. Bukan aku tidak bahagia melihat orang lain bahagia mendapai nilai bagus tapi dimana keadilan itu. Mestinya dosen itu buka mata dan telinga, jangan sekedar menjadikan parameter nilai itu dari hasil tok ujian. Mendapat nilai bagus dari jalan salah perlu menjadikan perhatian dosen.

Dari kejadian itu, akhirnya aku gak semangat untuk sungguh-sungguh belajar dalam menghadapi ujian. Aku dan teman-teman lebih baik mengandalkan kerjasama atau mencontek saja. Meskipun begitu konsekuen seorang di masa depan, bukan atas bagus tidaknya nilai. Tapi pada keberanian dan pantang menyerah serta selalu berpikir bahwa aku bisa.

Sekarang aku tidak akan melihat lagi pada hasil nilai. Aku sudah tidak percaya pada nilai kuliah. Mungkin dari dulu sampai sekarag pelajar dan mahasiswa belajarnya sekedar mengumpulkan nilai berupa angka-angka. Pantas saja Indonesia makin terpuruk karena susah ditemukan orang yang benar-benar jujur. Kenapa juga orang melihatnya dari hasil ujian.

Ketua jurusan bilang kepada kami bahwa parameter prestasi seseorang terpaksa pada IP. Mungkin beliau menyerahan saja pada diri masing-masing. Benar tidaknya, murni kotornya nilai yang didapat, yang pasti setiap orang akan menuai apa yang ia tanam selama ini. Beliau hanya mengikuti birokrasi yang ada saja. Karena tugasnya sekedar itu. Tapi seorang filsuf tidak boleh sampai disitu. Ia harus memberikan pendidikan seutuhnya dan seluruhnya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori