Oleh: Kyan | 08/07/2006

Kepekaan Perasaan Aku Bukan Pilihan

Sabtu, 08 Juli 2006

Kepekaan Perasaan Aku Bukan Pilihan

**

Aku jalan pagi menuju kampus sambil berbincang tentang komputer dengan anak Palembang, Irhandi. Salah satu anak palembang ini sekarang sudah punya pacar. Mungkin pacar bukan sekedar pacar, tapi penjajakan ke jenjang pernikahan. Usia kuliah bukan sekedar cinta monyet lagi. Tapi pencarian jati diri dan penemuan belahan jiwa kita. Mungkin sampai usia duapuluhlima tahun kita bisa bergonta ganti atau pilih-pilih pasangan. Tapi sejak usia duapuluhlima tahun harus teguh hanya pada seseorang.

Usiaku sekarang sudah duapuluhtiga tahun. Sekarang aku sudah fokus hanya pada satu perempuan. Meski aku masih bimbang karena masih mengharap yang lebih lagi. Akankah kudapatkan yang lebih darinya? Tentunya pencarian itu memerlukan waktu. Sedangkan waktuku harus sudah memfokuskan pada perjuangan untuk kemapanan segi materi dan kedudukan. Aku harus sudah bisa mandiri dan menjadi kebanggan keluargaku dan keluarganya. Aku harus menjadi menanti kebanggaanku. Aku akan jadi kebanggaan mereka.

Lantas sekarang apakah aku memiliki kepekaan? Ataukah aku terlalu peka? Dua hal terjadi pada hari ini yang membuatku termangu dibuatnya. Bisakah aku menjaga hati seorang perempuan supaya tidak cemburu dibuatnya. Untunglah perempuan mempunyai hati terhadap perempuan lainnya dan bisa memahami keadaan. Duduk berdekatan apalagi berdempetan bisa dengan perempuan lain bisa mengundang gejolak cemburu perempuan lain. Kenapa sih perempuan yang tidak aku ingini selalu membuat manja di depanku. Terlihat seolah pertemuan mesra. Bukan tidak ingin diketahui dirinya tapi aku tak ingin sungguh. Aku tak ingin membuat perempuan cemburu karena ulahku.

Lantas motif apa yang membuatnya menyuguhkan lagu Rossa, “Aku Bukan Pilihanmu”, sampai diputar dua kali ketika pulang kuliah mampir ke kosannya. Apakah memang karena kebetulan saja ia suka. Dunia ini tercipta bukan karena kebetulan tapi sudah direncanakan Tuhan. Begitupun ia ingin menyampaikan pesan apa dari lagu Rossa.

Bila kurenungi syair lagunya, mengungkap bahwa sekarang ia mulai mengharap kehadiran cowok yang selama ini pernah disakitinya, yang sejak dulu mencintainya meskipun tersakiti karena tak mendapat jawaban. Sekarang cowok itu mulai berpaling dan telah mendapatkan pilihan lain. Semoga aku bukan cowok itu. Semoga ungkapan syair lagu itu tidak terjadi padaku dan padanya. Aku tidak akan dan tidak pernah ingin berpaling darinya.

Memang akhir-akhir ini aku jarang berkunjung ke kosannya dan kuakui kurang memperhatikannya. Aku disibukkan menerima order apa saja yang bisa kukerjakan. Begitupun dia sibuk bekerja. Teman-teman bilang aku semakin menjauh dan jauh dengannya. Tapi bukan berarti mulai ingin berpaling dan menerima kekalahan. Aku mempunyai niat tulus dan komitmen. Bukankah itu yang sangat berharga dan dapat mengekalkan tali cinta. Mampu mengikat bersatunya cinta yang telah terbina sejak lama.

Baru kali ini kuperoleh lagi kesempatan aku bisa berjalan berdua dengannya. Ia mau mengeprint laporan keuangan. Aku tidak bosan meskipun lama aku rela menungguinya. Betapa indah dan berkesannya menunggu seseorang yang dicinta. Demi cinta yang tak ada logika, segalanya bisa kulakukan. Ia bercerita tentang kegiatan hari-harinya dan keinginannya menjadi direktur keuangan. Ia sudah pandai membuat laporan di Ecxel dan belajar padanya. Bukankah semua orang akan senang, bila keahlian dan kelebihannya kita hargai dan kagumi dan ia merasa bahwa ia memiliki kelebihan tersendiri di mata kita.

Menghadapi ujian Perpajakan aku tidak membawa kalkulator. Sifat lupa selalu saja melekat padaku. Apa karena kurangnya manajemen diri atau karena sudah merupakan kebiasaan. Ditambah lagi aku mengisi ujian khawatir salah. Mungkin belajarnya tidak optimal. Tapi aku tetap berharap semoga nilaiku memuaskan terutama nilai Perpajakan. Kalau semua berani berkompetensi, tanpa ada kerjasama, tanpa ada contek-mencontek, aku berani di atas teman-teman. Hasil ujian sekarang sudah dilihat kemurniannya. Nilai sudah tidak penting.

Apakah aku sudah bertindak kasar pada perempuan? Apakah aku sudah bercanda yang dapat menyinggung hatinya, di sinilah fungsi menjaga perkataan itu. Lidah tak bertulang bisa membunuh atau dibunuh, bisa membangkitakan dan bisa melemahkan. Aku ingin bisa bercanda tanpa mengandung nada ejekan atau cemoohan. Sifatku selalu serius. Karena terbentuk oleh perjalanan kehidupan sejak kecil sampai sekarang. Bercanda lewat berbuat jahil pada teman-teman apa tidak keterlaluan. Mungkin harus melihat situasi dan kondisi. Aku ingin bercanda yang alamiah sesuai dengan sifatku yang pendiam.

Aku harus selalu memberikan perhatian pada semuanya. Pada semua perempuan. Memberikan pujian terasa pelit. Aku harus memberikan pujian yang tulus tanpa dibuat-buat. Jika aku memuji pada satu perempuan di depan perempuan lain, apakah menyakitkan atau bikin iri perempuan lain. Sepertinya begitu. Karena jiwa setiap manusia sama.

Aku berani memberi pujian, penghargaan dan motivasi pada temen-teman yang membutuhkan. Aku harus bisa mendengarkan segala keluh-kesah setiap orang yang datang padaku. Setiap orang mungkin hanya butuh didengarkan saja. Menjadi pendengar aktif dan memberi masukan jika diminta. Jangan berani-berani memberi pendapat jika tidak diminta.

pelaksanaan UAS membuat aktivitas lain tidak bisa kukerjakan. Meski aku berusaha untuk konsentrasi, tapi tetap saja terganggu dengan domba-domba tersesat yang datang padaku. Kata domba tersesat sudah jadi kata popular di benak mereka. Meski demikian, hari ujian sering terganggu dengan mengerjakan orderan. Tapi jangan sampai nilai IP-ku jadi turun. Aku bisa mempertahankan IP-ku, hanya nilai sekarang tidak akan murni. Soalnya ujiannya saja kerjasama dengan teman-temen meski kadang aku tak mendapat jawaban dari mereka.

Aku selalu ingin mengandalkan diriku sendiri. Mampu mengerjakan aku kerjakan, bila tidak mampu memberi jawaban aku tinggalkan. Kalau waktunya sudah mepet, baru aku meminta jawaban pada teman-teman dan keburu habislah waktunya. Sedang mereka enakna mencontek jawabanku. Aku percaya keajaiban dan aku sudah berusaha untuk menjalani ujian dengan kemampuan sendiri. Aku selalu mengandalkan kemampuan sendiri.

Meski imaj aku ternoda karena pelaksanaan ujian sekarang, aku mencontek pula. Akhirnya aku mencontek demi sebuah angka yang tak bermakna. Biar aku mendapat angka dan huruf yang kuinginkan. Meskipun sadar berani mencontek adalah sebuah langkah kebodohan. Baru kali aku begini. Tapi biarlah mau bagaimana lagi. Sekarang aku tidak akan melihat lagi kesuksesan seseorang dari angka-angka. Angka hanya rekayasa. Aku tak lagi mempercayainya.

Angka hanyalah angka. Proses perjalanannya yang harus menjadi acuan. Kita melihat keindahan dan kemilau cahaya dari proses antar kejadian satu ke kejadian lain. Benda diam, tapi sebenarnya bergerak. Kita harus selalu berubah setiap waktu. Hidup tak boleh stagnan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori