Oleh: Kyan | 10/07/2006

Spirit Hidup Saat Beranjak Tua

Senin, 10 Juli 2006

Spirit Hidup Saat Beranjak Tua

**

Beberapa hari aku tidak menulis, seperti ada sesuatu yang hilang karena tersibukkan dengan ujian. Aku merasa mudah ketika mengerjakan ujian Manajemen Haji dan Umrah. Semoga aku mendapatkan nilai yang memuaskan. Mski UAS sekarang aku tidak merasa optimal dan banyak materi yang tidak aku kuasai, tapi aku tetap berharap aku mendapat nilai yang baik. Entah kenapa kali ini aku lebih mengandalkan kerja sama dengan mereka daripada mengerjakan sendiri.

Aku telah berusaha mengerjakan ujian dengan kemampuan sendiri. Aku melihat dan merasa hasilnya tidak memuaskan. Aku terlalu melihat pada angka-angka hasil ujian. Penting tidak penting aku akan tetap mengejar mimpiku. Aku harus yakin bahwa aku mampu menjadi yang terbaik, menjadi  seseorang yang didambakan, terutama oleh seorang perempuan.

Pulang ujian aku memaksa teman-teman perempuan untuk bareng-bareng mengerjakan tugas SBS. Kadang membuatku risih mengajak mereka dengan paksa, tapi itu kewajiban bersama. Haruskah aku melebur pada budaya yang ada. Ketika bertemu salam dengan sentuhan tangan. Tangannya yang lembut menyentuh tantangku dan mencium tanganku. Berati aku telah dituakan oleh mereka. Memang usiaku sudah dewasa dan pantas sudah menikah. Menikah harus siap segalanya, mental dan materi.

Karena materi belum mendukung, mentalpun tak ada. Kecukupan materi adalah salah satu, yang dapat menjadi mental penguat kepercayaan diri. Mental intinya kepercayaan diri. Sejauh manakah aku mempunyai kepercayaan diri. Bagaimana pula aku yang terlalu peraya diri. Sesuatu harus terukur kadarnya.

Ya Allah, aku yang berlumuran dosa dan selalu melalaikan perintah-Mu. Meski berulang kali melakukan larangan-larangan-Mu aku tetap berharap pada-Mu. Aku sudah sering menyalahi perintah-Mu, maka aku bermohon kepada-Mu ampunilah aku dan tunjukkan padaku jalan yang Engkau ridhai. Tunjukkan jalan yang bisa membuatku sukses dalam hidup ini. Sukses dalam menjalani misi hidup di dunia ini sebagai manusia. Berilah aku keyakinan bahwa aku bisa. Aku bisa menempuhnya.

Aku mengerjakan tugas matakuliah SBS. Mengerjakan sampai jam tiga sore dengan teman-teman dan sampai jam duabelas malam mengerjakan sendiri, musnah sudah. File pekerjaannya gak bisa disave. Aku ketakutan bukan karena tak sanggup menyelesaikannya, tapi kapan aku bias menyempatkan waktu buat belajar UAS SBS. Masih banyak materi yang belum aku kuasai. Tapi aku bermimpi aku mendapat nilai bagus. Segala-segala kekhawatiran terbawa mimpi. Metode apa agar aku bisa belajar dengan optimal.

Aku mengerjakan tugas SBS dari jam tiga sore sampai jam empat pagi. Pekerjaanku dan teman-teman sampai jam duabelas malam hilang dokumennya. Komputernya bermasalah. Kutelpon dia dan dengan inspirasi dan motivasi dari seseorang yang aku cintai, akhirnya kuketik ulang dan tugas bisa selesai jam empat pagi. Jam satu dini hari aku berlama-lama menelpon dia. Terkadang aku menelepon dia sampai subuh. Tapi ia biasa tidur sebelumnya. Aku harus mengingatkan tentang kesehatannya. Dia harus menjaga kesehatan supaya ia tetap bisa bekerja. Bila sakit sangat mengkhawatirkan dan merepotkan orang-orang terdekatnya.

Kalau aku rela segala-galanya demi dia. Aku tidak akan merasa direpotkan. Justru itulah pengabdian cintaku padanya. Dengan menelepon dia, aku jadi semangat lagi mengerjakan tugas. Tadinya aku tak ingin memberi tahu tugas belum beres, takut menambah kekahawatiran dia. Dia sudah dibebani tugas kerjaan yang berjibul. Tapi bagaimana lagi aku harus mendpatkan energi. Bila kekahwatiran kita diceritakan ke orang lain adalah limapuluh persen penyelesaian masalah.

Untuk sebuah cinta, harus banyak berkorban. Berkorban dan terkorban adalah hal lumrah dalam menapaki perjuangan. Orang lain rela mengorbankan waktu dan uang sekian juta demi mengobati seseorang yang dicintai. Bisakah aku berkorban sebesar itu. Demi sebuah cinta, segala yang kupunya berani aku korbankan. Bukankan kita hidup untuk sebuah cinta. Karena cintalah kita mencintai kemanusiaan, untuk kemanusiaan.

Mengorbankan uang sampai limaribu setiap hari atau beberapa hari dalam seminggu tidak seberapa untuk menelepon. Tapi dari sana aku akan mendapat spirit atau energi agar aku bisa baik dan semakin baik dalam hidup. Aku mendapat insiprasi untuk selalu berjuang demi menuai kesuksesan. Aku menelpon dia karena aku perhatian padanya. Aku ingin selalu mengetahui keadaan dia. Aku ingin memberi perhatian dengan lebih. Salah satu bentuk perhatian adalah lancarnya berkomunikasi.

Tapi apakah terlalu sering berkomunikasi bisa membuat dia merasa bosan dan rese. Aku harus tahu kapan harus berkomunikasi. Bentuk perhatian yang penuh ketulusanlah yang bisa membuat ia bahagia. Bukan perhatian yang dibuat-buat. Aku bisa membedakan mana yang tulus mana yang dibuat-buat. Agar lancar berkomunikasi dan tahu keadaan dia, akhirnya kubeli handpone adalah demi dia. Jadi buat apa aku membeli handphone bila tak kugunakan untuk menelpon dia. Aku punya segalanya karena dia. Mempunyai materi dan ruhani dalam pencapaian kehidupan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori