Oleh: Kyan | 15/07/2006

Empat Sekawan Pulang ke Tasik

Sabtu, 15 Juli 2006

Empat Sekawan Pulang ke Tasik

**

Jum’at pagi aku mengantar lagi Neng Titin ke BMT Daarut Tauhiid. Pagi-pagi aku sudah menjemputnya ke kosan barunya. Kuketuk pintu gerbangnya, tak ada sahutan. Maka kuberanikan masuk dan secara tak sengaja aku melihat Neng Titin sedang menyisir rambutnya. Begitu dia melihatku, di tersontak kaget karena tidak berkerudung. Mungkin itu rezekiku, sedekah dari Neng aku bisa tahu bagaimana bentuk rambutnya.

Ini menjadi pelajaran kalau mau ke kosan teman perempuan, mesti hati-hati takut wajah kecantikannya sedang tersingkap. Aku sudah berapa kali melihat aurat rambut para muslimah secara tak sengaja. Melihat rambut perempuan berkerudung adalah rezeki yang tiada tara. Padahal buat perempuan konvensional itu sudah biasa. Bahkan sudah lebih dari sekedar rambut. Jadi perempuan jangan sampai membuat pikiran lelaki jadi ngeres.

Tapi siapapun perempuan, jilbaber atau tidak sangat menarik perhatian dan memanjakan kaum lelaki. Menarik perhatian adalah daya listrik yang dikejutkan oleh rona wajahnya dan ketertutupannya. Bila sudah melihatnya dengan lebih, bahkan tanpa busana rasa penasaran hilang dan keinginan kian menjadi tidak ada.

Lalu bagaimana dengan perempuan jika melihat laki-laki. Apakah memiliki perasaan yang sama dengan laki-laki. Katanya perempuan menjadi kelepek-kelepek ketika melihat otot lengannya dan bidang dadanya. Maka bagi laki-laki itulah yang harus ditutupi pakaian dengan sempurna. Sementara laki-laki melihat perempuan pada payudara dan pahanya. Bila lebih dari itu memang semakin penasaran, tapi setelah terlihat secepatnya pula menjadi bosan. Karena bentuknya ya begitu-begitu saja.

Sekarang aku jadi sering bareng jalan-jalan dengan Neng Titin. Aku semakin dekat saja dengannya. Dengan setiap perempuan yang baik-baik, apalagi yang cantik-cantik ingin aku membangun kedekatan. Apalagi dengan perempuan seksi pun aku biasa akrab. Cuma sekarang aku jarang dekat lagi atau menambah teman perempuan. Pikiranku hanya padanya sekarang. Aku terpaut hanya pada dia. Dia dan dia.

Seolah perempuan lain tidak menjadi perhatianku. Aku sungguh terpaut padanya sampai aku tersiksa karenanya. Sampai kapan ia bisa mengerti tentang kegelisahanku. Ia teganya menyiksaku begini. Bila aku menyimpulkan ia tak menyukaiku, ia tega sekali menyiksaku. Bila aku menyimpulkan ia tak menyukaiku, tapi kenapa suara hati kecilku bahwa ia mencintaiku. Apakah aku harus melihat realita atau suara hati kecilku. Lantas bagaimana tak memilih keduanya.

Setelah sekian lama tak main ke DT dan mungkin kali ini aku bisa ikut salat Jumatan di masjid DT. Di sana akupun mendengar petugas membaca pengumuman dengan begitu fasih dan raut muka cerah. Aku ingin bisa berbicara seperti dia. Tidak seperti  bagaimana bicaraku yang masih gagap dan berdengung. Sepertinya aku harus olah vokal supaya suaraku lepas.

Mungkin saja suaraku berpotensi jadi penyanyi. Kakakku saja pandai bernyanyi. Dulu pernah tampil bagus di acara perpisahan SD. Ketika SMU mengikuti latihan nasyid aku dibilang suaranya seperti suara Nazrey Johani, vokalis pertama grup Raihan. Mungkin karena suaraku tidak lepas gara-gara aku jarang ngomong. Tipenya aku pendiam dan penyendiri. Tapi setidaknya dengan suara lepas aku bisa cakap dan lantang mendeklamasi puisi. Aku bisa meminta diajarkan olah vokal ke Neng Titin. Karena dia pandai bernyanyi dan anggota Nasyid kampus “Hikari”.

Ada yang bilang bahwa aku orang melankolis, bagusnya menikah dengan orang sangien. Tipe sangien adalah orang periang dan gampang kenal. Tipe seperti itu ada pada dia. Aku merasa nyaman saja dekat dengannya. Bila bersamanya tapi entah sebaliknya apakah dia merasa nyaman didekatku? Yang pasti setiap keluh kesah, ia pasti bercerita dan menangis di depanku. Perempuan yang berani menumpahkan segala perasaannya di depan laki-laki itu telah menjadi tumpuannya, kata kuceritakan ini pada kawanku. Aku tak boleh kepedean dan kegeeran. Kenapa aku menjadi suka kepedean begini.

Meski tak ada hari kuliah, namun tetap saja aku merasa disibukkan. Tugas BMT belum sempat kukerjakan. BMT punya Lia belum aku tuntaskan. Punya Veri belum kuprint juga, sementara orangnya sudah pulang duluan ke Tasik. Rencana kami mau magang di PT. Askes Tasik, tempat Uwanya Veri bekerja. Jadi kami bisa magang disana karena kolusi. Tugas BMT Veri harus bisa diselesaikan, karena dia yang melempangkan jalan kami bisa memperoleh pengalaman magang di Tasik.

Lalu bagaimana aku harus mencuci dan habis Duhur sudah harus berangkat ke Tasik. Komputernya masih dipakai Neng Titin. Soalnya dia juga belum selesai mengerjakan laporan BMT. Dia ingin selesai dulu sebelum kepulangannya ke Tasik. Kalau dia belum selesai dan pulang ke Tasik, dimana mengerjakannya. Aku merelakan saja komputer dipakai Neng Titin. Aku biar nanti saja mungkin ada jalan. Aku bisa mencari cara sendiri untuk menyelesaikan tugas BMT.

Akhirnya bersiaplah kami berangkat sehabis Duhur. Aku, Neng Titin, dan Cucu, adiknya Neng Titin menunggu Dudi yang mau ikut pula ke Tasik. Entah Dudi ingin ikut setelah dipropokasi atau karena memang ingin ikut serta. Aku sudah bisa meyakinkan orang untuk mau mengikuti keinginanku. Menjadi seorang pemimpin harus bisa mengarahkan dan mengerahkan masanya demi tujuan bersama. Pemimpin harus mendidik massanya.

Kami berangkat dari Bandung dari Cibiru dari terminal bus Budiman. Jam tiga sore bus yang kami tumpangi masih di Cileunyi. Jalanan menjadi macet karena mau kedatangan bapak SBY untuk menghadiri jambore nasional di Jatinangor. Kalau kedatangan orang penting suka mengganggu aktivitas keseharian orang-orang. Kasihan orang yang sudah membuat janji menjadi tak terpenuhi tepat waktu. Satu detik sangat bergarga dan uang milyaran bisa punah. Setiap waktu sangat berharga bagi siapapun.

Sampai di terminal Cilembang Tasik jam delapan. Aku dan dudi bingung antara ikut ke Manonjaya atau menunggu dijemput dan menginap di rumah Veri. Sudah malam kasihan juga Neng Titin takut ada apa-apa kalau pulang hanya bersama adiknya ke rumahnya. Menunggu Veri pun katanya masih ada keperluan dulu.

Akhirnya kuputuskan aku ikut saja ke rumahnya Neng Titin. Di pasar Manonjaya hampir saja tak ada ojek. Beruntunglah tertinggal ojek cuma dua pula. Dari pasar Manonjaya sampailah kami di rumah Neng Titin. Melewati jalanan sedikit meliuk-liuk dan gelap. Mula-mulanya jalanan bagus, lalu bertemu jalan aspal yang sudah rusak, dan ujungnya jalanan berbatu cadas. Hampir satu jam barulah kami sampai di rumahnya.

Rumah Neng Titin ternyata jauh juga dari pasar Manonjaya. Jalannya lebih jelek dibandingkan jalan menuju kampungku, di Cikatomas Tawang. Tapi perjalanan ini sangat berkesan. Kesannya sungguh amat dalam bisa main ke rumah tempat kelahiran dia. Cantiknya dia adalah alami dan murni karena terlahir dari daerah yang masih murni. Kurasakan hawa segar ketika menghirup udara pagi.

Yang aku khawatirkan adalah bagaimana adab bertamu supaya bisa menyenangkan tuan rumah. Tentang bagaimana berbasa-basi dengan tuan rumah. Aku jarang diberi tauladan dalam adab bertamu. Apa yang harus kuomongkan dalam membuka pembicaraan. Tapi aku bisa melewati semuanya dengan lancar. Aku melihat keadaannya baik-baik saja dan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kupikir ini keterampilan alamiah dan universal. Pokok pangkalnya antara tuan rumah dan tamu harus saling menghargai melihat mendengar dan merasakan.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori