Oleh: Kyan | 17/07/2006

Taman Rumah Surga Neng Titin

Senin, 17 Juli 2006

Taman Rumah Surga Neng Titin

**

Tidur di rumah Neng Titin sungguh mengasyikan. Tidur di kasur gadis perawan yang mungkin baru berdua, aku dan Dudi sebagai lelaki asing yang pertama menempati kamar tidurnya. Bahkan aku sampai bermimpi didatangi seseorang bidadari yang entah sekedar bunga tidur ataukah suatu pertanda. Bak merasakan seperti di surga menikmati nuansa. Sangat terasa alunan melodinya sehingga membuat pemilik mata binar itu datang menempuh alam hijaunya taman surga.

Bangunan rumahnya berbentuk persiku. Rumahnya menghadap beberapa kolam dan dibelakangnya bawahnya mengalir sungai yang airnya surut dan jernih. Maka nampaklah batu-batu besar yang bagus sekali dijadikan latar berfoto ria. Pagi-pagi penuh semangat, aku bersama Dudi jalan-jalan ke tepian jembatan. Tempat semalam kami berhenti turun dari ojek. Kuingat semalam gelap sekali tempatnya dan memang tak dikasih penerangan.

Tinggal di rumah Neng Titin inginnya berlama-lama. Tapi jam sepuluh harus sudah berangkat lagi ke rumah Liza. Meski rumah Neng sangat jauh dan kesananya harus naik ojek serta jalannya darikduk penuh bebatuan, ini sebuah perjalanan penuh kesan. Walaupun begitu dari kampung ujung sana terlahir seorang gadis cantik nan suci, pemberani dan semoga saja salehah. Dapat dikatakan dialah teman kuliahku yang rumahnya paling dekat ke kampung halamanku di Cikatomas-Pancatengah.

Sebagai sobat kuliah terdekat yang sama-sama menempuh rihlah berkuliah, kuhaturkan doa untuknya untuk menambah spirit dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Sungguh beruntung bagi lelaki yang meminangnya. Semoga ia mendapatkan lelaki yang menjadi pilihan hatinya, saleh, cakep, dan kaya. Sebagai sahabat aku hanya bisa mendoakan saja. Kalau ngasih uang aku tak punya.

Dari rumah Neng jam kira-kira jam sepuluh pagi dan sampai rumah Liza saatnya adzan Duhur. Seharusnya jam sepuluh sudah harus sampai di Pancasia, karena Veri dan Pipih sudah menunggu lama. Memang budaya telat adalah khas manusia Indonesia. Kami masih asyik menikmati suasana sekitar rumah Neng Titin tidak bisa secepatnya pergi lagi. Maaf saja kepada Veri dan Pipih sudah dibikinnya kesal menunggu lama. Susah juga berdisiplin, sudah berusaha tapi kondisi tak mendukung.

Di rumah Liza disambut oleh Mamah Liza penuh antusias. Rumahnya di perumahan yang nyaman dan asri pinggir kolam renang Mangkubumi. Ingatanku menyembul saat masa SMP ketika pertama kalinya berwisata ke Mangkubumi. Kami bersama rombongan sekolah sengaja datang kesini untuk belajar renang oleh guru olahraga kami. Karena di dekat sekolah SMP hanya ada sungai, jadi mana bisa kami latihan berenang berbagai gaya.

Dan sekarang rupanya aku memiliki teman yang rumahnya di sekitar itu. Kurasakan nuansa sejuk perumahan. Ingin kupunya rumah dengan suasana seperti itu. Di saat menikah ingin sudah punya rumah sebesar itu. Syukur alhamdulillah dan akankah aku menjadi orang kaya. Aku bisa bekerja di perusahana besar, semacam BUMN bisakah? Layak diusahakan.

Sesungguhnya dia mendambakan suami seperti apa sih? Apakah mendambakan aku atau sepertiku. Tidak percayakah dengan masa depanku. Aku ini punya bintang yang siap kupeting untuk dihidangkan. Sepertinya dia menginginkan seorang pengusaha sukses, yang memiliki cabang usaha dimana-maa.

Dulu dia berkata padaku bahwa ia mendambakan ingin menjadi manajer keuangan perusahaan dagang. Dia ingin jadi konsultan keuangan, terutama yang syariah. Memang ia penuh ambisi. Memang tanpa ambisi dan semangat, cita-cita dan harapan tidak akan tercapai. Aku harus memiliki ambisi dan semangat dalam meraih cita-cita dan harapan.

Namun cita-cita yang tak terukur sama saja seperti berkhayal dan bertakhayul. Aku harus bisa membedakan mana itu mimpi dan mana itu khayalan dan takhayul. Terkadang keduanya sulit dibedakan. Aku sangat berambisi ingin jadi ini dan itu, ingin mendapatkan ini dan tidak ingin itu. Tapi dalam diriku masih terganjal ketakberdayaanku. Aku hanya pasrah dan tunduk pada Tuhan Allah-ku. Tiada daya dan kekuatan melainkan bantuan Allah. Bukankah diri ini dalah diri-Nya?

Kami menginap di rumah Liza. Kami bersiap-siap mau menjalani magang kerja di PT. Askes Tasikmalaya. Karena Dudi tidak ikut magang, sorenya dia diantarkan Veri ke terminal untuk sampai di Bandung. Karena dia mau menjalani magang di tempat usaha Bibinya. Sementara kami: aku, Veri, Liza, Neng Titin, Pipih, dan Dian akan bersama-sama magang di tempat sama. Sedangkan Dian masih dalam perjalanan menuju Tasik. Mau menginap di rumah Veri.

Tiba saatnya kami menjalani magang di PT. Askes Tasikmalaya. Selalu muncul ingatan padanya. Teringat pada kata-katanya bahwa hasil dari magang aku mesti menguasai manajemen PT. Askes secara keseluruhan. Bisakah aku memenuhinya. Kujalani hari pertama sangat membosankan. Kerjanya cuma mengentri data. Aku melihat budaya kerja di perusahaan Indonesia begitu-begitu saja. Sudah pernah merasakan budaya kerja dulu ketika di Batam tidak seperti ini. Disini begitu terlihat santai dan sering banyak istirahatnya.

Mungkin sedang tidak ada banyak pekerjaan saja. Karena hari ini sedang pertengahan bulan. Kalau gak ada pekerjaan, lantas apa yang mesti dikerjakan. Toh kalau banyak kerjaan pasti akan tersibukan. Jadi aku ingin tahu bagaimana budaya kerja di Jepang. Sedisiplin apa antara hari-hari awal, tengah, dan akhir dalam setiap bulannya. Tapi seringnya aku merasa disiplin itu sama dengan tegang. Kalau berbicara tentang disiplin pasti tentang ketegangan emosi. Tapi pokoknya suatu pekerjaan adalah harus selesai sesuai dengan apa yang direncanakan dengan penuh optimal dan khidmat.

Sepertinya jadi seorang karyawan ibarat sebagai buruh saja. Lalu buruh dibagi dua kategori, ada buruh halus ada buruh kasar. Kerjaannya cuma mengerjakan sesuatu yang disuruh dan ditargetkan. Apakah menjadi buruh gajinya cukup besar? Kelebihan jadi karyawan baka dapat gaji tetap dan sejak hari pertama mungkin lumayan. Tapi mengalami peningkatan tidak cukup signifikan.

Mungkin, dengan kita jadi seorang pengusaha kita akan selalu dituntut untuk berinovasi dan berimprovisasi. Akan selalu ada tantangan agar selalu mengadakan perbaikan-perbaikan. Kelemahan jadi pengusaha aku harus lebih dahulu membangun perusahaan dari nol. Keuntungannya pun dari usaha sendiri tak bisa tetap, yang kadang besar kadang kecil. Mungkin bagi home industri akan mendapat penghasilan tak seberapa.

Jadi mungkin pilihannya sebagai karyawan bagi perusahaan besar ataukah jadi pengusaha usaha kecil? Mungkin benar bagi hampir impian semua orang yang ingin menjadi pejabat pemerintah. Pekerjaannya sedikit tapi bergaji besar. Antara menjadi karyawan, penguasha, atau pejabat pemerintah apakah harus memilih salah satu atau semuanya bisa dijalani secara bersamaan?

Untuk yang ketiga sangat ketat kompetensinya. Tidak cukup dengan kepintaran, tapi dengan koneksi dan uang sogokan jutaan bahkan puluhan. Cerita ini sudah menjadi mafhum orang banyak. Bila ini sebuah cerita kebohongan, kenapa orang-orang seolah menyepakatinya. Faktanya adalah kebanyakan orang sangat menginginkannya, maka pantaslah orang-orang akan melakukan segala upaya untuk menempuhnya.

Karena dengan menjadi pejabat pemerintah, masa depannya cerah, meski gajinya segitu-gitu saja. Bergaji hanya cukup sekedarnya, kecil apa-adanya tapi tetap dan ada jaminan hari tua. Buatku pokoknya ingin hidup berkecukupan. Ketika membutuhkan uang, cukup tersedia dan bisa menghidupi keluarga dan sanak famili. Kebutuhan akan nafkah sungguh sangat mendesak, dan membangun perusahaan sungguh sangat lama waktunya.

Ketakutan dalam bekerja di perusahaan lain bakal di PHK suatu saat. Begitu diterima sebagai karyawan perusahaan, secara otomatis menyerahkan dirinya untuk menjadi budak yang harus mau disuruh ini dan itu. Bila suatu saat perusahaan mengalami pailit, kemungkinan manajemen perusahaan akan mem-PHK-kan sebagian karyawannya. Meskipun dia adalah karyawan cerdas, bagaimana bisa mempertahankan dan menggajinya. Begitupun dengan menjadi PNS, begitu menjalani prajabatan, sejak awal pula telah mem-PHK-kan otak untuk tidak dapat berkreasi lagi.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori