Oleh: Kyan | 19/07/2006

Sapaanku Pada Pejabat Negeri

Rabu, 19 Juli 2006

Sapaanku Pada Pejabat Negeri

**

Meskipun aku jauh, tapi aku tetap terpaut hati hanya padanya. Aku dibuat semakin tak berdaya dalam mengharap cintanya. Sampai kapan aku menangis merengek-rengek dalam ketidakpastian ini. Hidupku dalam hari-hariku selalu penuh dengan kegelisahan. Setiap aku bercinta hanya kasih yang tak sampai. Belum pernah merasakan ada seseorang yang memberikan kemanisan padaku. Tak pernah ada seorang yang peduli padaku. Hanya kepura-puraan yang semakin tidak mengerti dibuatnya

Akh, aku tak punya apa-apa yang bias kuberikan. Ingin sekali aku memberikan sesuatu pada siapapun. Tapi apa yang bisa kuberikan. Bila aku tak memberikan, aku tak akan mendapatkan. Horizontal berlaku hukum kemanusiaan dan alam. Tapi vertikal adalah penggapaian keikhlasan. Berpengharapan dalam mencari ridha-Nya. Semoga cita-cita, harapan dan cintaku padanya ternaungi oleh cinta-Nya.

Hari kedua magang, pekerjaannya masih itu-itu saja. Membuatku mengantuk sungguh benar-benar diserang kantuk dalam pekerjaan ini. Supaya aku optimal di tempat magang ini apa yang kulakukan. Bertanya tentang segalanya dengan penuh kepolosan? Belajarlah seperti orang bodoh, meski sebenarnya bodoh. Aku memang bodoh. Aku harus banyak bertanya tentang apa saja yang terbesit di hati. Bukankah pertanyaan bodoh adalah pertanyaan yang tidak diungkapkan.

Tapi aku harus menyadari adanya proses. Mengerjakan tugas BMT, di rumah orang lain dengan memakai komputer orang. Sulit mendapatkan inspirasi karena merasa diburu-buru waktu. Aku biasa mengerjakan tugas langsung di komputer, tanpa menuliskan konsep dulu di secarik kertas. Karena bila membuat konsep terlebih dahulu sering sulit menapatkan ide. Tapi bila dipaksa dan sudah kepepet, akhirnya ide muncul juga.

Tapi ini dalam perjalanan dan di tempat asing, harus dipaksa membuat konsep dahulu dalam peta pemikiran. Dan harus membuat target bahwa dalam jangka waktu sekian harus selesai. Tugas BMT sudah beres seadanya, tinggal diprint. Akhirnya aku tidak harus balik dulu ke Bandung untuk mengerjakan tugas BMT. Meski aku dalam pengerjaan tugas ini merasa tidak optimal. Bagaimana bisa optimal bila diburu-buru waktu.

Dalam keterbatasan waktu semoga aku bekerja optimal dan memuaskan. Dan aku bisa mendapatkan nilai bagus. Biar menapat nilai bagus harus membuat keunikan. Adanya keunikan pertama karena adanya kreativitas. Orang yang disuka itu adalah orang kreatif dan pekerja keras, pekerja cerdas dan pekerja ikhlas. Dzikir, Fikir dan Ikhtiar.

Sekarang apa yang ingin kudapatkan dari PT. Askes? Bagaimana manajemen secara keseluruhannya, struktur organisasinya? PT. Askes adalah perpanjangan tangan pemerintah. Jadi semuanya bergantung pemerintah. Tak perlu ada marketing karena sudah mempunyai pasar sendiri, yakni PNS dan pegawai pemerintahan. Jadi pejabat kerjanya cuma begitu tapi mendapatkan gaji besar. Bukankah gaji itu dialokasi dari APBN yang dananya dihimpun dari pungutan pajak dan pungutan lain.

Ditambah lagi sifat pajak adalah memaksa. Jadi aku bertanya apakah adanya pemerintah sebagai bentuk halus dalam penindasan dan pemerasan dengan kedok negara demokrasi. Ditambah lagi hasil pungutan itu disunat oleh mereka yang ‘berkuasa’. Sebab bila cuma itu tugas dan pekerjaannya sebagai pejabat pemerintah, tidak berbanding lurus dengan uang yang diterimanya, bila tak sebanding antara kerja dan kinerjanya dengan pencapaian menumbuhkan kesejahterakan rakyatnya sama saja adalah sebentuk penjajahan.

Penjajahan pribumi oleh kaum pribumi lagi. Semestinya adanya pemerintah harus bisa mengayomi masyarakat. Orang yang terkumpul dalam kumpulan pemerintahan dan perwakilan harus sadar diri bahwa dirinya ditugaskan untuk melayani rakyat dan digaji oleh rakyat. Jadi pegawai di keperintahan sebenarnya mempunyai beban tanggung jawab besar, makanya dibayar dengan gaji besar. Jangan sampai hasil tetesan darah dan keringat rakyat, terutama rakyat kecil yang dibayarkan lewat pajak dan dianggarkan untuk menggaji pegawai, bukan malah enak-enakkan berleha-leha dalam bekerja. Janganlah hidup dari rakyat jelata tapi tak memperhatikan nasib kaum jelata.

Malah mereka banyak membangun dan membeli istana dimana-mana yang kosong tak diisi. Sedangkan rakyat tinggal di kolong jembatan dan tak mempunyai tempat tinggal. Lihatlah makannya rakyat yang kurang bergizi dibandingkan makan anjing-anjingnya pejabat dan konglomerat yang lebih bergizi. Rakyat hanya menjadi objekan dan sapi perahan saja. Hanya kerelaan mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi.

Tapi aku tidak boleh sekedar ngomong saja. Langkah apa yang harus aku perbuat yang memihak pada rakyat, sekaligus tidak menyakiti siapapun. Karena aku tidak memusuhi siapapun, objek musuhku adalah kemiskinan dan kebodohan. Jika ada sekelompok yang memberi kontribusi pada terbangunnya dua penyakit tadi, akan kusadarkan dia dan kuperangi.

Aku tak mencari musuh dalam bentuk personal apapun. Aku hanya ingin diterima oleh semua pihak tanpa harus mengorbankan prinsip dasar hidupku. Lantas apa prinsip hidupku. Hidup karena mencari ridha-Nya mungkin terlalu abstrak. Hidupku bisa mempunyai uang berkecukupan, memiliki rumah yang nyaman dan istriku yang salehah serta anakku yang mengenal Tuhannya dan berbakti pada orang tua dan guru-gurunya.

Ambisiku yang ingin terwujudkan adalah membangun organisasi Ayasophia Integrated. Kalau Ahmad Dani dengan Republik Cinta-nya, Haidar Bagir dengan Mizan-nya, Aa Gym dengan MQ-nya, Amin Rais dengan partai PAN-nya, Purdi E. Chandra dengan Primagama-nya, sedangkan aku dengan Ayasophia-nya.

Merekalah pejuang-pejuang bagi hidupnya yang namanya Insyaallah akan mendapat tempat di hati masyarakat. Namaku ingin pula mendapat tempat di hati orang-orang yang mengenalku. Bukan mujahid itu mati, tapi ia tetap hidup selamanya. Bukti ia hidup dengan dikenang namanya sepanjang masa. Seorang mujahid itu adalah orang yang berjuang dan berkarya untuk masyarakat-nya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori