Oleh: Kyan | 20/07/2006

Mengharap Cinta Datang Padaku

Kamis, 20 Juli 2006

Mengharap Cinta Datang Padaku

**

Kalau tinggal di rumah orang, suka susah mandi dan buang air. Canggung suka ada perasaan takut mengganggu dan menyusahkan tuan rumah. Jadi tamu jangan sampai terlalu mengganggu bahkan mungkin harus bantu-membantu tugas rumahnya. Tapi rasa malas yang bercokol membuatku bingung apa yang mesti kubantu. Memang enakan tinggal di rumahku sendiri. Makanya aku ingin punya rumah sendiri.

Sebelum menikah aku harus punya rumah sendiri dan penghasilan tetap. Mempunyai penghasilan tetap adalah dengan menjadi karyawan di suatu perusahaan yang menjanjikan. Namun membangun toko buku mungkin bisa direalisasikan setelah menikah atau tergantung situasi. Harus menjadi karyawan sekaligus jadi pengusaha agar mendapat penghasilan besar.

Apakah calon istriku menginginkan aku jadi pengusaha? Aku melakukan sesuatu bukan keterpaksaan dari calon istri atau siapapun. Karena perempuan yang kuharapkan ingin mendapatkan suami pengusaha muda. Aku mati-matian supaya jadi pengusaha. Aku ingin melakukan sesuatu bukan karenanya tapi karena aku menginginkannya. Karena aku ingin melakukannya.

Mengharap cinta dari seseorang perempuan tak pernah kudapatkan. Aku iri dengan teman-teman yang telah mendapatkan tumpuan harapan. Tak pernah ada seseorang yang memberikan perhatian padaku selain keluargaku. Dari keluarga adalah keharusan. Tapi dari seorang perempuan kapan? Kenapa juga aku begitu mengharap cinta dari seorang perempuan yang tidak ingin dan tak mau padaku. Tidak bisakah aku membuka  hati pada bunga yang lebih indah darinya. Kenapa aku sangat tergila-gila padanya. Aku tidak membuka hati untuk orang lain, karena hatiku selalu bicara bahwa ia mencintaiku juga. Kenapa aku kepedean?

Sudah nyata ia selalu membantah dan pernah bilang, “Kalau tidak mau dicintai harus bagaimana lagi”. Lantas kenapa cintaku harus platonis? Mencintai yang tidak harus dicintai. Mencintai meskipun yang dicintai tak memberi respon yang membahagiakan kenapa terus diupayakan. Aku harus menuai kekalutan dan kesedihan di sepanjang hari-hariku. Aku tidak pernah menemukan kebahagiaan. Aku tidak pernah menemukan kegembiraan. Hanyalah kepenatan dan kelelahan dalam menanti sesuatu yang tidak pasti. Semakin sedih saja aku ini.

Memiliki kesibukan dengan magang kerja, apa yang kudapatkan dari magang selama lima hari ini? Aku melihat cuma kesibukan kerja saja. Kecakapan dan keterampilan apa saja yang telah kudapatkan sebagai bekal nanti di masa kerjaku. Dulu aku pernah kerja di Gramedia dan sekarang magang di Askes. Rutinitas kerja hanya itu-itu saja. Aku ingin kerja yang ada tantangannya.

Mungkin menjadi Marketing, menjadi pimpinan tinggi di suatu perusahaan. Jadi dosen bisa juga. Jadi seorang karyawan akan dengan cepat mendapatkan gaji lumayan. Bila membangun perusahaan sendiri butuh waktu lama. Setelah lulus D3 MKS inginnya melanjutkan ke S1 lalu bekerja, menikah, melanjutkan ke S2 dan S3. Bila setelah lulus MKS lalu bekarja dan baru melanjutkan ke Sarjana apakah gak ketuaan?

Usiaku semakin senja. Orang seusiaku sudah mendapaktan penghasilan. Pernah aku mempunyai penghasilan sampai satu juta sebagai lulusan SMU. Dengan kuliah yang sudah mengeluarkan uang berjuta-juta, mengharuskan mendapat penghasilan lebih besar lagi. Aku ingin bekerja di Bank Indonesia. Ingin meniti karir di Bi. Ingin juga jadi dosen.

Kekuranganku di bahasa. Aku tidak mampu berbahasa membuat rasa minder makin menjadi, terus berckol dalam diriku. Aku harus yakin dan percaya pada diriku sendiri bahwa aku bisa melakukan sesuatu apapun. Masa depanku ada di tanganku sendiri. Sejak sekarang harus merancang hidup untuk mengajar mimpi-mimpiku. Aku ingin sukses dan bahagia. Aku ingin menjadi kebanggaan keluarga. Aku ingin jadi kebanggaan mertua. Aku ingin jadi kebanggaan orang terdekatku.

Kadang aku merasa lemah dalam melangakh. Tapi meyakinkan dalam diriku tersimpan ras optimis dalam menatap masa depan. Dari kedalaman rasa aku punya masa depan. Orang lain bisa melihat kegemilangan yang berkerling-kerling di mataku. Semoga saja orang-orang berdoa untukku untuk kegemilangan masa depanku. Aku berbicara, bertindak dan merasakan untuk masa depanku.

Semoga segala yang kulakukan sejak bangun tidur sampai tidur lagi mendapat ridha-Nya. Bukankah kesuksesan masa depanku demi ridha-Nya. Aku kuliah, aku bekerja, punya rumah, menikah, mendidik anak, adalah demi ridha-Nya. Bukankah aku hidup sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi dan kelangsungan hidup di bumi. Dan kelangsungan bumi selanjutnya bagi generasi setelahku. Materi hanyalah pendukung atau sarana dalam mencapai ridha-Nya, bukan sebagai tujuan hidup itu sendiri.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori